
Repelita Jakarta - Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio menyampaikan pandangan pribadinya mengenai konflik internal yang melanda Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, khususnya seputar posisi Ketua Umum saat ini.
Ia mengaku selama ini memendam keyakinan baik bahwa kedudukan Ketua Umum PBNU merupakan amanah yang murni didasarkan pada penghormatan terhadap figur teladan.
Sejak lama saya selalu berprasangka positif, bahwa jabatan Ketum PBNU ini adalah jabatan yang sifatnya menghormati panutan.
Gak ada unsur duniawi kekuasaannya.
Pandangan tersebut muncul karena di lingkungan Nahdlatul Ulama terdapat banyak ulama besar yang menjadi rujukan.
Sebab, kan banyak Kyai besar dalam NU.
Namun, setelah polemik terkait jabatan Ketua Umum semakin memanas belakangan ini, Hendri Satrio merasa perlu merevisi prasangka awalnya.
Tapi sejak muncul polemik posisi Ketum PBNU, prasangka saya diawal harus dikoreksi. Mohon maaf ya bila salah ucap, tapi itu yang saya rasakan sebagai anak yang ngajinya di Mesjid ‘beraliran’ NU walaupun belum pernah terdaftar resmi sebagai anggota NU.
Ucapan ini disampaikan Hendri Satrio melalui akun X pribadinya pada 24 Desember 2025.
Ia mengungkapkan rasa sedih atas dinamika yang berkembang saat ini di organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.
Tapi saya sedih dengan kenyataan yang ada saat ini. Oh guru-guru saya diantaranya (alm) KH Munzir Tamam, (alm) KH Irfan Zidni dan (alm) KH Ahmad Zayadi #Hensa.
Editor: 91224 R-ID Elok

