
Repelita Jakarta - Desakan pengunduran diri Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf dari badan Syuriah PBNU semakin kuat diwarnai dugaan adanya aliran dana tidak jelas dalam jumlah sangat besar yang beredar di tubuh organisasi tersebut.
Pengamat politik Adib Miftahul menilai, munculnya poin pelanggaran tata kelola keuangan yang disebut bertentangan dengan hukum syara’ dan aturan perkumpulan NU dalam risalah rapat Syuriah menunjukkan bahwa pengawas tertinggi organisasi mulai mencium adanya peredaran dana raksasa yang tidak transparan.
Menurut Adib, kedekatan PBNU dengan kekuasaan, pengelolaan tambang, serta penempatan kader di jabatan strategis pemerintahan membuat posisi puncak organisasi menjadi sangat menggiurkan karena berpotensi mengendalikan aliran dana besar.
Situasi ini diperparah dengan terseretnya adik kandung Gus Yahya, yaitu Yaqut Cholil Qoumas, dalam kasus dugaan korupsi kuota haji yang sedang ditangani KPK.
Adib menyebut kasus tersebut turut mendiskreditkan posisi Gus Yahya sebagai ketua umum, meskipun banyak pihak mencoba mengemasnya sebagai upaya kembali ke khittah organisasi.
Pada hakikatnya, kata Adib, narasi khittah hanya menjadi jembatan untuk menutupi persoalan utama berupa aliran dana yang tidak terdeteksi dengan jelas.
KPK sendiri disebut sudah lama membidik kasus yang melibatkan Yaqut Cholil Qoumas, namun hingga kini belum menunjukkan perkembangan signifikan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

