Repelita Yogyakarta - Mantan Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada periode 2018 hingga 2021, Prof Koentjoro, angkat bicara terkait polemik ijazah Presiden ketujuh Republik Indonesia Joko Widodo yang hingga kini masih terus dipersoalkan sejumlah pihak.
Dalam pernyataannya di Program Rosi Kompas TV pada Kamis 31 Agustus 2026 malam, Prof Koentjoro menegaskan permintaan agar Rismon Sianipar dan kelompoknya menghentikan upaya membuka kembali persoalan ijazah Jokowi bila memang mengaku mencintai almamater UGM.
Menurut Prof Koentjoro, langkah pihak-pihak yang terus menggulirkan isu ini justru bertolak belakang dengan klaim kecintaan pada kampus UGM.
Ia menilai tindakan membuka celah polemik ke publik malah menodai reputasi UGM di hadapan masyarakat luas.
“Kalau beliau mencintai UGM setop dong, atur bagaimana. Tapi seperti itu apa, dia justru bermain,” kata Prof Koentjoro dalam dialog tersebut.
Ia juga menyoroti ketidakkonsistenan pihak-pihak yang mengatasnamakan kepedulian terhadap integritas UGM, tetapi memilih jalur gaduh di ruang publik ketimbang menempuh forum resmi.
“Pertanyaan saya, konsistenkan beliau melakukan itu? Apakah kalau yang namanya kecintaan itu harus menelisik, melihat kekurangan-kekurangan, kenapa tidak melalui forum yang benar saja, begitu,” ucapnya.
Prof Koentjoro menambahkan, dampak dari isu ini justru menyeret nama baik UGM secara keseluruhan karena publik melihat reputasi universitas yang dipertaruhkan.
Ia pun mempertanyakan dasar dan kapasitas Rismon Sianipar beserta rekan-rekannya hingga merasa berhak menelisik keabsahan dokumen akademik seorang presiden.
“Pertanyaan saya dalam kapasitas apa menelisik, untuk apa mereka menelisik,” tutup Prof Koentjoro.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

