Waketum Gerindra: di Rumah Tri Susanti Ada Bendara Merah Putih?

440

JAKARTA – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono angkat bicara terkait sosok Tri Susanti

Tri Susanti adalah koordinator lapangan Aksi Ormas Surabaya yang menggeruduk asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya Timur.

Kejadian itu pula yang kemudian memicu gelombang protes berujung kerusuhan di Papua.

Perempuan berkacamata itu beralasan, kedatangannya ke asrama mahasiswa Papua itu untuk memastikan pemasangan bendera Merah Putih.

Akan tetapi, alasan yang dikemukakan Tri Susanti itu dianggap Arief Poyuono sebagai alasan yang tak mendasar.

Menurutnya, pemasangan bendera merah putih di depan rumah adalah sebuah simbol.

“Memang di rumah Tri Susanti dipastikan ada bendera Merah Putih?” sindirnya, dikutip PojokSatu.id dari RMOL, Selasa (20/8/2019).

Ia menegaskan, bahwa bendera Merah Putih akan bersemayam di dalam hati dan sanubari segenap rakyat Indonesia.

“Bendera Merah Putih itu yang penting berkibar di hati sanubari kita,” lanjutnya.

Berkibar di sanubari, kata dia, berarti melakukan tindakan-tindakan yang menjadikan Bangsa Indonesia tidak rasis dan bisa menerima perbedaan.

Karena itu, anak buah Prabowo Subianto itu mempertanyakan aksi ormas di bawah kendali Tri Susanti yag menggeruduk asrama mahasiswa Papua di Surabaya.

Terlebih, lanjutnya, hingga saat ini belum ada aturan hukum yang mengikat yang mengharuskan pengibaran bendera Merah Putih di asrama mahasiswa.

“Kan belum ada (hukum),” katanya.

Mantan anak buah Megawati Soekarnoputri itu meyakini, Merah Putih sudah sejak lama berkibar di hati sanubari masyarakat Papua.

“Hal ini sudah dibuktikan dengan kesetiaan rakyat Papua terhadap NKRI selama ini,” jelasnya.

Atas dasar tersebut, ia mendesak kepolisian mengusut tuntas provokator di balik aksi penggerudukan asrama mahasiswa Papua di Surabaya itu.

“Dalih membela Merah Putih yang salah kaprah, yang sudah menciptakan kerusuhan di Papua,” tegasnya.

Di sisi lain, ia tetap meminta kepada masyarakat, khususnya rakyat Papua untuk tidak terpancing dengan segala bentuk provokasi yang berujung keributan.

“Saya percaya saudara-saudaraku di Papua itu lebih Merah putih dan lebih Indonesia hati sanubarinya,” tutup Arief.

Sebelumnya, Korlap Aksi Ormas Surabaya, Tri Susanti meminta maaf atas teriakan rasis saat penggerudukan yang terjadi pada 17 Agustus 2019 lalu itu.

“Atas nama masyarakat Surabaya dan dari rekan-rekan ormas, menyampaikan permohonan maaf apabila ada masyarakat atau pihak lain yang sempat meneriakkan itu,” kata Tri Susanti di Mapolda Jatim, Jalan Ahmad Yani, Surabaya Selatan, Selasa (20/8/2019).

Perempuan yang sering disapa Mak Susi itu mengaku, kedatangannya ke asrama mahasiswa Papua itu hanya untuk membela Merah Putih yang isunya telah dirusak dan dibuang.

“Kami ini hanya ingin menegakkan bendera merah putih di sebuah asrama yang selama ini mereka menolak untuk memasang. Jadi ini bukan agenda yang pertama kali,” katanya.

 

Untuk diketahui, Tri Susianti kali pertama dikenal publik saat ia menjadi saksi dari kubu Prabowo-Sandi dalam sidang sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK).

Tri Susanti juga tercatat sebagai caleg dari Partai Gerindra untuk DPRD Kota Surabaya Dapil III nomor urut delapan.

(ruh/pojoksatu)

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here