Viral Pria Tendang Sesajen, Gus Baha Sebut Wali Tak Kafirkan, Tapi Diubah dari Demit untuk Sedekah ke Tetangga

509
KH Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha

Viral di media sosial, video aksi seorang pria menendang sesajen dari Upacara Sedekah Desa Pronojiwo, Sumbersari, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, tepatnya di lokasi erupsi gunung Semeru.

Dalam video yang beredar, pria itu mengatakan sesajen merupakan sumber yang membuat Allah murka.

Pria itu juga mengungkapkan bahwa sesajen membuat Allah menurunkan azabnya. Sambil mengucap takbir, kemudian dia menendang sesajen yang ada.

Viralnya video pria penendang sesajen itu membuat sebagian orang mencari-cari pandangan para tokoh agama, salah satunya pandangan dari Pendakwah KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha.

Terpisah dari kasus pria penendang sesajen tersebut, berikut pandangan Gus Baha terkait sesajen sebagaimana yang dilansir SeputarTangsel.Com dari sebuah video ceramah yang diunggah di kanal YouTube Sekolah Akhirat pada Selasa, 11 Januari 2022.

Awalnya, Gus Baha mengungkapkan pada masa lalu, orang-orang Jawa kerap menggunakan sesajen di sawah-sawah untuk diberikan kepada penunggu tempat tersebut yang merupakan makhluk gaib.

“Kalau orang Jawa dulu pakai sesaji di sawah-sawah, katanya dimakan penunggunya ya penunggunya itu ya pikirannya makhluk gaib,” kata Gus Baha.

Ulama Nahdlatul Ulama (NU) itu mengatakan bila masyarakat modern hari ini mungkin akan menyebut para penunggu yang dimaksud orang-orang Jawa tersebut bukan makhluk gaib, melainkan hewan-hewan.

Namun, berbeda dengan masa lalu, Gus Baha menyebut istilah penunggu merupakan hal yang aneh karena tidak jelas penunggu yang dimaksudkan.

“Di era modern penunggunya ya kambing, ayam, ya memang yang makan itu di akhirnya. Tapi, dulu itu aneh, diistilahkan penunggunya, kalimat penunggu itu apa ya nggak jelas, tanda petik, atau penunggu betul,” ujarnya.

Kemudian, Gus Baha menjelaskan ketika para wali datang dan melihat fenomena sesajen tersebut, mereka tidak mengkafirkan orang-orang yang melakukannya.

Dia mengungkapkan para wali mengubah niat sesajen masyarakat tersebut yang semula diniatkan untuk diberi kepada dedemit menjadi sedekah kepada tetangga.

“Terus wali-wali datang tidak mengkafirkan itu. Terus diubah jadi sedekah ke tetangga. Jadi, kultur itu gak perlu dilawan, tetapi cukup diubah. Dari memberi demit, jadi sedekah ke tetangga,” pungkasnya.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Pikiran Rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here