Tunggu Restu WHO, Indonesia Ingin Kembangkan Vaksin DNA

465
WHO

Pemerintah Indonesia tengah mengembangkan vaksin Covid-19 berteknologi nucleic acid atau vaksin DNA di Indonesia.

Terkait hal itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan hal tersebut sudah memasuki tahap finalisasi dengan pihak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Berkaitan dengan vaksin ini, saya sedang tahap dalam finalisasi dengan WHO untuk bisa membangun up global health untuk vaksin dengan teknologi nucleic acid mRNA atau DNA di Indonesia,” ujar Budi Gunadi saat memberikan penjelasan secara daring, Jumat, 30 Juli 2021.

Dalam upaya menyukseskan program tersebut, ia mengajak para pakar biologi molekuler. Termasuk pihak dari Universitas Airlangga untuk bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI.

Tujuannya, lanjut dia, untuk meyakinkan WHO terkait pengembangan teknologi vaksin nucleic acid atau vaksin DNA di Indonesia.

Ini diperlukan karena sisi tataran ketahanan sistem ketahanan kesehatan global dirasakan harus memiliki beberapa global health.

“Nah saya sangat berharap teman-teman dari Unair yang ahli biologi molekuler bisa bersama-sama dengan Kemenkes dengan meyakinkan WHO dan juga mendorong penentuan global manufacturer health ini untuk teknologi vaksin DNA ini bisa dilakukan di Indonesia,” ujarnya.

Atas hal ini, ia berharap dari Universitas Airlangga juga bisa bersama-sama Kementerian Kesehatan, khususnya ahli biologi molekuler untuk penentuan pabriknya.

“Agar penentuan manufacturing global hub teknologi ini bisa dilakukan di Indonesia,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, BGS juga mengatakan testing, tracing dan isolasi yang saat ini merupakan salah satu kelemahan dalam penanganan pandemi Covid-19 yang angkanya di bawah rata-rata.

“Mengenai testing tracing dan isolasi. Ini merupakan salah satu titik kelemahan kita. Vaksinasi sudah lumayan. Testing tracing isolasi masih di bawah rata-rata negara yang memang naik,” katanya.

Dia mengaku butuh bantuan, supaya bagaimana testing yang dilakukan sesuai dengan kaidah epidemiolog. Yang pasti saat screening dilakukan tak hanya sebatas kepentingan tertentu seperti tes untuk orang-orang yang akan bertemu untuk suatu keperluan.

“Tapi berdasarkan kaidah untuk identifikasi. Ada orang kena kita lakukan pelacakan. Disiplin testing tracing ini sangat jauh dari standar,” ujarnya.

Diakuinya pula, yang paling sulit adalah bagaimana protokol kesehatan di lakukan. Untuk itu, pemerintah juga mengaku butuh sosiolog yang bisa melakukan pendekatan di masyarakat.

“Saya yakin Universitas Airlangga punya. Bagaimana bisa mengajak, mengimbau, agar selalu pakai masker, jaga jarak dan mengajari mereka ini adalah penyakit yang bukan konspirasi,” pungkasnya.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Galamedia

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here