Tragedi Kanjuruhan, Ini Kesaksian Mencekam Salah Seorang Aremania yang Viral di Media Sosial

278
Arema vs Persebaya di Kanjuruhan

Laga sepak bola Liga BRI 1 antara Arema FC dan Persebaya Surabaya berakhir duka.

Kericuhan terjadi saat laga yang diselenggarakan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu 1 Oktober 2022 usai.

Sampai berita ini diturunkan, kerusuhan yang kini disebut sebagai tragedi Kanjuruhan telah menewaskan lebih dari 180 orang.

 

Banyak orang mencoba mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Salah seorang suporter Arema FC yang kerap disebut Aremania yang selamat menceritakan kronologi peristiwa tragedi Kanjuruhan yang mencekam di media sosialnya hingga menjadi viral.

“Assalamualaikum Sebelumnya saya turut berduka cita sedalam”nya terhadap korban insiden yg terjadi di stadion Kanjuruhan pertandingan Arema vs Persebaya Yg kedua syukur alhamdulillah, sy di beri keselamatan sampai dirumah.. Dan Bisa menceritakan kronologi versi sya pribadi disini,” ujar @RezkiWahyu_05 dikutip SeputarTangsel.Com, Minggu 2 OKtober 2022.

Menurut Aremania yang diketahui bernama Muhammad Rezki Wahyu Aji Sumarno tersebut, awalnya semua berlangsung aman dan tertib. Kick off pun dimulai pada pukul 20.00 dengan aman tanpa kericuhan. Hanya ada suporter Arema yang saling melontarkan psywar kepada pemain Persebaya.

“Kick off dimulai dan pertandingan berjalan aman, tanpa kericuhan sedikitpun.. Yg ada hanya supporter Arema saling melontarkan psywar ke arah pemain persebaya,” kata Rezki.

Keributan mulai terjadi saat jeda istirahat, saat pemain turun minum di tribun 12 dan 13, tetapi berhasil diamankan aparat yang berjaga.

“Babak pertama selesai, dan saat jeda istirahat, ada sekitar 2-3 kali kericuhan sedikit di tribun 12-13, yang bisa segera diamankan oleh pihak berwenang,” jelas Rezki.

Dia pun mengakui, sebagai suporter mereka gemas saat tim mengalami kekalahan. Padahal Arema terus melakukan serangan, tetapi tidak ada gol yang tercipta.

 

Akhirnya, laga harus berakhir dengan kemenangan Persebaya Surabaya 3-1. Di sini, tragedi Kanjuruhan dimulai.

“Hingga peluit akhir dibunyikan arema tidak bisa menambah golnya, dan harus menerima kekalahan. Disinilah awal mula tragedi dimulai,” lanjutnya.

Setelah laga usai, pelatih Arema Javier Roca dan Manager tim mendekati tribun timur dan menunjukkan gestur minta maaf ke supporter. Namun, dari arah Selatan adan satu orang suporter yang nekat masuk mendekati Sergio Silva dan Maringa.

Lalu ada beberapa oknum suporter yang juga maju ke lapangan untuk meluapkan kekecewaan terhadap pemain Arema FC. Salah seorang pemain, Johan Alfarizi berusaha memberi pengertian kepada mereka.

Kericuhan makin besar dan tidak terkendali, karena suporter lain ikut masuk ke lapangan. Ada pula melempar benda-benda ke bagian tengah. Untuk keamanan, pemain digiring masuk ke ruang ganti.

“Namun, semakin banyak mereka berdatangan, semakin ricuh kondisi stadion karena dari dari berbagai sisi stadion juga ikut masuk untuk meluapkan kekecewaannya ke pemain..,” tutur Rezki.

“Di ikuti dengan lempar” ke arah lapangan, dan para suporter makin tidak terkendali.. Akhirnya pemain di giring masuk ke dalam ruang ganti,” lanjutnya.

Suporter makin tidak terkendali. Aparat berusaha memukul mundur mereka dengan tindakan yang menurut Rezki sangat kejam dan sadis. Akibatnya, aparat diserang mereka.

 

“Pihak aparat juga melakukan berbagai uoaya untuk memukul mundur suporter, yang menurut saya perlakukannya sangat kejam dan sadis.. dipentung dengan tongkat panjang…,” terang Rezki.

“Tpi saat aparat memukul mundur suporter di sisi selatan, suporter di sisi selatan menyerang ke arah aparat..,” tambah.

Akhirnya menurut Rezki, aparat menembakkan gas air mata beberapa kali ke arah Aremania. Ada juga yang ditembakkan ke arah penonton langsung, di tribun 10.

Seluruh stadion penuh gas air mata. Suporter terjebak. Mereka tidak bisa keluar stadion, karena pintu penuh sesak.

Banyak ibu-ibu dan anak-anak yang dilihat Rezki tidak berdaya dan sesak napas.

“Banyak ibu’ wanita’ orang tua Dan anak-anak kecil yang terlihat sesak nggak nerdaya, gak kuat ikut berjubel untuk keluar dari stadion. Terlihat mereka sesak karena terkena gas air mata.. Seluruh pintu keluar penuh dan terjadi macet..,” Rezki memberi kesaksian.

Mereka yang bisa keluar dari stadion pun banyak yang terkapar di luar.

Aparat pun dikeroyok suporter, karena dianggap mengurung mereka di dalam dengan puluhan gas air mata. Aparat pun kembali menembakkan gas air mata di luar.

 

“Sekitar pukul 22.30 juga masih banyak insiden pelemparan batu ke arah mobil aparat, dan pengeroyokan Suporter terhadap terhadap aparat yang dianggap mengurung kita didalam Stadion dengan puluhan gas air mata,” ujar Rezki.

Rezki pun mengenang, kondisi Kanjuruhan yang sangat mencekam malam tadi.

Banyak Aremania yang bergelimpangan, teriakan dan tangisan wanita, berlumuran darah, mobil hancur, kata-kata makian, hingga batu dan bambu beterbangan.

Rezki menyatakan, ini merupakan titik terendah dirinya sebagai seorang suporter.

“Selama saya jadi suporter Arema.. Saya diperkenalkan arema oleh orang tua saya saat tahun 20227 hingga saat ini.. Hari ini 1 Oktober 2022 adalah titik terendah saya menjadi seorang suporter. Saya masih belum percaya menyaksikan saudara’ saya dengan kondisi seperti ini,” sesal Rezki.

“Semoga kejadian ini adalah yang terakhir di semua cabang olahraga & hiburan, khususnya di sepak bola,” pungkasnya. ***

Sumber Berita / Artikel Asli : pikiran rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here