‘The King Of Lip Service’ Signal Negara Dalam Bahaya

4810

Penyematan gelar atau julukan kepada seorang presiden yang membawa nama besar dan martabat Negara langsung sebagai legitimasi pengakuan rakyat pada pemimpinnya bukanlah hal yang dapat dipandang sederhana bahkan atas nama demokrasi sekalipun.

Meskipun pasca reformasi kebebasan berekspresi mengkritik memakai berbagai atribut simbolik bahkan caci maki dialami hampir disetiap periode masing-masing presiden, namun apa yang disematkan kepada presiden Jokowi terasa memiliki kebenaran suara jiwa rakyat yang teramat kuat dan dalam.

Indikator itu dapat dilihat dari meluasnya suara banyak kalangan intelektual akademik, profesional hingga rakyat biasa yang antusias menyambut dimedia sosial sebagai pembenaran atas julukan itu. Raja yang hanya manis dibibir. Dalam nyata banyak kepahitan yang diberikan.

Disamping itu Istana pun bahkan tak memiliki nalar logika tandingan ataupun kontra reaksi yang setara, alih-alih tak mampu menepis referensi yang dipakai BEM UI malah kesan menyetujui gelar itu tepat adanya adalah gestur yang tercermin disana.

Istana tentu tahu bahwa julukan ‘lip service’ itu secara harfiah adalah pembohong dan tentu saja negara yang dipimpin seorang Raja pembohong adalah amat memalukan dan menyakitkan kehormatan negara dan bangsa sendiri.

Dalam konteks lebih lanjut tentu secara konstitusi sangat terlarang kepemimpinan semacam ini dan karenanya sebuah panel pemeriksa perlu dibentuk oleh MPR dan DPR untuk membuktikan apakah benar presiden telah melakukan perbuatan yang menjadi dasar penobatan itu secara sadar atau tidak.

Hal ini menjadi sangat penting karena siapapun yang merasa sebagai anak bangsa apalagi menyandang tanggung jawab sebagai wakil rakyat telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dibawah kepemimpinan yang selama ini ternyata banyak membohongi rakyatnya.

Penobatan gelar meskipun hanya berupa simbol yang dihadirkan kedepan publik lewat media sosial tentu memiliki nilai moralitas tersendiri dan istilah raja itu adalah hirarki tertinggi dari penguasa negeri sehingga tentu merefleksikan citra bangsanya secara langsung.

Istana tak boleh hanya diam membisu tatkala sang Raja dinobatkan sebagai pemimpin pembohong, kecuali memang diam itu dimaknai sepakat dan menjadi signal negara dalam bahaya kepemimpinan dari sosok ‘The King Of Lip Service’…

Adian Radiatus

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here