Tes PCR Jadi Syarat Masuk Mal, dr Tirta Ngamuk ke Mendag: Gimane Sih Gini Aja Ga Paham

299
Dokter Tirta Hudhi Mandiri. Foto Instagram @dr.tirta

Menteri Perdagangan RI M Lutfi menyatakan hasil negatif tes PCR atau Swab Antigen menjadi salah satu syarat masuk mall.

Menurutnya, dengan penggunaan PCR atau Swab Antigen bisa meyakinkan pengelola mal bahwa yang berkunjung adalah orang yang sehat.

“Kalau saya sih pakai PCR masuknya tadi. Jadi sudah vaksin dua kali, pakai PCR dan atau Antigen. Kan kalau mau leluasa ya dia mesti pakai Antigen, jadi sekarang ini persyaratannya vaksin, dan PCR dan atau Antigen baru bisa masuk mal,” ungkap Lutfi saat berada di Mal Kota Kasablanka, Selasa, 10 Agustus 2021.

Lutfi mengatakan bila tidak ingin atau keberatan melakukan tes Antigen maka tidak usah ke mal. Masyarakat bisa berbelanja di pasar rakyat, di sana menurut Lutfi tak perlu syarat-syarat khusus.

Pernyataan tersebut sontak mendapatkan protes keras dari Relawan Peduli Pencegahan Covid-19 Tirta Mandira Hudhi alias dr Tirta.

Protes keras itu dilontarkannya melalui akun Twitter @tirta_hudhi, Selasa malam, 10 Agustus 2021.

Ia menilai pernyataan Menteri Perdagangan tersebut tidak masuk akal. Pasalnya, untuk mengikuti PCR biaya yang dibutuhkan sangat mahal bisa mencapai lebih dari Rp850 ribu.

“Masuk mall d jakarta wajib PCR. Harga PCR Rp850.000. Orang luar jawa aja PCR masih harus nunggu 5 hari. Bukti saya siap kasi. Pasien juga siap sharing,” cuitnya.

“Di Jakarta PCR dijadikan syarat masuk mall. Kesehatan buat semua rakyat , katanya. Yoi ga @Kemendag? Mau dagang pcr apa gimana,” lanjutnya.

Ia pun mempertanyakan kepada Kemendag mengeni fungsi PCR.

“Tau fungsi pcr kan @Kemendag ? Buat test dan tracing. Bukan buat orang ke mall,” katanya.

“Pcr tu banyak-banyak gitu, sebar ke luar jawa. Mosok mash 5-14 hari. Keburu ga dapet early treatment selama isoman. Kan sampean bisa tanya ahli-ahli lain. Yang bener gimana,” lanjut dr Tirta.

“Gini amat @Kemendag,” cuitnya lagi.

 

Dokter Tirta menyatakan keberatan dengan kebijakan Menteri Perdagangan tersebut.

“Ayolah. Kita sama-sama dagang d sini. Toko gua juga ada 89-an. Mewajibkan PCR buat ke mall itu sama aja bunuh mall dan tenant,” ujarnya.

Menurutnya hal tersebut hanya menguntungkan pedagang PCR.

“Yang untung mah yang dagang PCR. Gimane sih gini aja ga paham,” tandasnya.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Galamedia

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here