Terkuak! Ini Hasil Pertemuan Jokowi dengan Desainer Istana Ibu Kota Baru

626
Ibu Kota Negara

Nyoman Nuarta desainer Istana Garuda, Istana Presiden di lokasi ibu kota baru, buka suara soal pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Nyoman Nuarta hadir di Istana Merdeka Jakarta, Senin (3/1/2021) bersama tim arsitek yang selama ini menjadi tim ahli dalam merancang Istana Garuda.

Dalam pertemuan itu Jokowi didampingi Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, serta Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR Diana Kusumastuti.

Presentasi basic design Istana Garuda yang dilakukan Nyoman Nuarta berkaitan dengan rencana pembangunan ibu kota baru RI di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Presiden telah memilih desain istana karya Nyoman Nuarta setelah melalui tahapan sayembara yang diselenggarakan oleh Kementerian PUPR pada awal tahun 2021 lalu.

Menurut Nyoman Nuarta Jokowi sempat mempertanyakan luasan ruang terbuka hijau berupa botanical garden yang terasa kurang luas.

“Pak Presiden bilang kenapa terlihat sempit ya? Saya katakan, area yang diberikan berangkat dari 32 hektar, tetapi sudah diperluas menjadi 55 hektar. Pak Presiden malah tanya saya, Pak Nyoman maunya berapa luas? Saya bilang harusnya 100 hektar, masa area istana kepresidenan lebih kecil dari area Garuda Wisnu Kencana,” ujar Nyoman Nuarta, dalam keterangan tertulis dikutip Sabtu (8/1/2021)

Jokowi pun meminta Menteri PUPR agar menambah luasan area rencana Istana Kepresiden menjadi 100 hektar.

Namun, tambah Nyoman Nuarta, agar tidak menimbulkan salah persepsi, luasan yang dimaksudkan adalah area hijau berupa hutan dan botanical garden, yang terletak di kanan dan kiri bangunan Istana Garuda.

“Jadi luasan bangunan Istana Garuda dan bangunan pendukung lainnya tetap, seperti yang direncanakan dengan tambahan luasan area hijau, berupa hutan dan botanical garden. Nah dalam hitungan kami, luasan area terbangun hanya 8%, sedangkan sisanya 92% berupa ruang terbuka hijau,” terang Nyoman Nuarta.

Persentase ini, menurut Nyoman Nuarta, telah membuktikan bahwa keberadaan IKN di Penajam Paser Utara, benar-benar bertujuan untuk menghidupkan kawasan lahan yang terbengkalai.

Saat ini, tim Nyoman Nuarta sedang berkoordinasi dengan tim dari Kementerian PUPR untuk menentukan area yang akan dimanfaatkan sebagai perluasan ruang terbuka hijau di kawasan IKN.

“Tanah-tanah di sekitar itu masih sangat luas. Jadi masih memungkinkan untuk menjadikannya hutan di dalam kawasan istana,” katanya.

Dalam pertemuan itu juga, menurut Nyoman Nuarta, Presiden Jokowi sudah memastikan bahwa desain Istana Garuda yang dipresentasikannya, akan menjadi desain terakhir yang siap diwujudkan.

“Artinya desain yang saya presentasikan di hadapan Bapak Presiden, sudah tidak bisa lagi diubah, sudah final sebagai desain istana kepresidenan,” katanya.

Dalam proses perancangannya, basic design Istana Garuda mengalami perubahan sampai empat kali, tidak termasuk desain-desain awal yang tidak resmi.

Perubahan-perubahan itu, menurut Nyoman Nuarta, terjadi secara evolutif untuk menyesuaikan dengan berbagai aturan serta mewadahi berbagai kepentingan agar benar-benar menjadi istana yang otentik dan modern.

Selama ini, baik Istana Negara, Istana Merdeka, dan Istana Bogor, adalah bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang kemudian diubah fungsinya sebagai istana.

“Bahkan ada di antaranya, tadinya gedung milik pribadi. Jadi baru kali inilah kita akan memiliki istana kepresidenan yang benar-benar dirancang dan dibangun sebagai istana,” terang Nyoman Nuarta.

Terhadap berbagai kritik yang menuding desain istana presiden di ibu kota baru mengabaikan unsur-unsur ekologis yang lekat dengan Pulau Kalimantan, NyomanNuarta, mengatakan bahwa lokasi di mana komplek istana dibangun adalah berupa area kosong.

“Itu bekas hutan industri yang sudah tak ada pohon besarnya, semuanya semak belukar dengan kontur tanah berbukit dan berlembah,” katanya.

“Siapa bilang itu hutan, justru dengan pendirian IKN ini, kawasan itu akan dihutankan kembali,” tambahnya.

Selain itu, basic design Istana Garuda, benar-benar sudah mempertimbangkan unsur-unsur ekologis yang hemat energi.

Bilah-bilah tembaga yang disusun secara vertikal pada bagian luar gedung istana, akan menjadi sun louvre, yang menghalangi sinar matahari menerobos langsung ke dalam gedung.

Desain ini dirancang akan menghemat penggunaan energi listrik, terutama untuk menyalakan air conditioner.

“AC bisa dimatikan, karena ruangan akan tetap terasa sejuk,” tutur Nyoman Nuarta.

Semenatra itu penggunaan logam seperti tembaga sebagai kulit luar gedung, sepintas memberi kesan keras dan kaku.

Padahal, menurut pengalaman dan pengetahuannya, tembaga memiliki sifat yang lentur, mudah dibentuk, tidak korosif, dan konduktor yang baik untuk aliran listrik dari petir.

Dari sisi pemeliharaan, tembaga juga sangat mudah dirawat. Pemanfaatannya sebagai kulit gedung, kata Nyoman Nuarta, akan diperlakukan sama seperti kulit patung.

Perpaduan dengan unsur seperti patina, membuat tembaga mengalami oksidasi dan berubah warna menjadi hijau tosca.

“Jadi dari sisi perawatan akan sangat mudah dan efisien dalam biaya,” kata Nyoman Nuarta.

Nyoman menambahkan, Jokowi mengharapkan dirinya tetap bersedia membantu pemerintah dalam mewujudkan istana kepresidenan di IKN baru.

Meski pada awalnya Nyoman Nuarta “hanya” berkewajiban menyelesaikan basic design, tetapi Presiden tetap memintanya untuk turut “mengawal” agar tidak terjadi perubahan pada desain yang telah disetujui.

Sumber Berita / Artikel Asli : Detik

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here