Taliban Menang, Pengungsi Afghanistan Malah Berbondong Pulang

603

Ketika warga lainnya kabur ke luar negeri, ratusan pengungsi Afghanistan di Pakistan malah mengaku ingin pulang setelah Taliban berkuasa.

Molavi Shaib, misalnya, mengatakan kepada koresponden AFP di Pakistan bahwa ia ingin kembali ke Afghanistan karena yakin Taliban dapat membawa stabilitas.

“Kami bermigrasi dari Afghanistan saat banyak pengeboman dan kesengsaraan saat Muslim dalam masalah. Namun kini, Alhamdulillah, situasinya sudah normal, jadi kami kembali ke Afghanistan,” ujar Shaib.

Tak hanya Shaib, ratusan pengungsi Afghanistan lainnya juga kini mengantre di perbatasan Pakistan agar dapat pulang kampung.

 

Di depan pagar pembatas, para pengungsi itu menunggu pasukan perbatasan Pakistan membuka sekat. Namun, proses penyeberangan kian lama karena Pakistan memperketat keamanan di sekitar perbatasan akibat peningkatan lalu lintas di sana.

“Orang ingin kembali, tapi kami belum diizinkan melintas. Kami minta pemerintah Pakistan mengizinkan kami melintasi perbatasan karena tak ada perang. Sudah ada perdamaian,” ucap pengungsi lainnya, Muhammad Nabi.

Ia juga bercerita, “Kami sudah membawa semua perkakas rumah tangga kami. Para perempuan dan anak-anak juga sudah menunggu. Kami ingin mereka bisa menyeberangi perbatasan.”

 

Sebagaimana dilansir AFP, Pakistan sudah menampung lebih dari dua juta pengungsi Afghanistan sejak gelombang pertama perang berkecamuk empat dekade lalu.

Kebanyakan pengungsi Afghanistan itu merasa tak diterima dengan baik di Pakistan. Di sana, mereka tak punya akses pekerjaan dan sangat sulit mendapatkan status kewarganegaraan.

Setelah mengecap kepahitan hidup sebagai pengungsi di Pakistan, mereka menganggap segalanya akan lebih baik di Afghanistan.

“Saya akan kembali ke Ghazni. Sekarang sudah ada perdamaian dan kami senang dapat kembali ke rumah kami. Lebih baik pulang daripada tinggal di sini,” ucap pengungsi Afghanistan lainnya, Wali Ur Rahman.

 

Sementara itu, warga yang kini berada di Afghanistan justru berebut keluar dari negara itu. Ke Pakistan pun tak apa, selama mereka dapat menghindar dari Taliban.

Mereka trauma karena Taliban menerapkan hukum syariat Islam yang sangat konservatif ketika berkuasa pada 1996-2001 silam.

Menanggapi fenomena itu, Nabi mengatakan bahwa ia yakin konflik di Afghanistan sudah berakhir dengan kemenangan Taliban.

“Kami pindah ke Pakistan karena masih ada perang di Afghanistan. Sekarang, sudah ada perdamaian,” katanya.

Sumber Berita / Artikel Asli : Pikiran Rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here