Sri Mulyani: Pembiayaan Utang Tahun Ini Hanya Rp 958,1 Triliun

212
Sri Mulyani

Kementerian Keuangan (Kemkeu) memperkirakan pembiayaan utang pada 2021 hanya akan terealisasi Rp 958,1 triliun atau turun 18,6% atau realisasinya akan lebih rendah dari target pembiayaan utang tahun ini sebesar Rp 1.177,4 triliun.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengatakan proyeksi realisasi pembiayaan utang tahun ini yang lebih rendah disebabkan perkiraan defisit APBN tahun ini juga akan jauh lebih rendah dibandingkan target yang dipatok sebesar 5,7% atau setara Rp 1.006,4 triliun.

“Ini hal yang bagus berarti kami kurangi kenaikan utang seharusnya Rp 1.177,4 triliun menjadi Rp 958,1 triliun atau turun 18,6 persen ini terutama disebabkan defisit APBN secara nominal akan lebih rendah,” kata Sri Mulyani saat rapat dengan Banggar DPR, Senin (12/7/2021).

Sri Mulyani mengatakan, arah kinerja ekonomi terus menunjukkan akselerasi yang semakin baik tercermin dari penerimaan negara yang semakin meningkat dan belanja negara yang diperkirakan akan terserap optimal hingga akhir tahun.

Menkeu menyebut, rendahnya realisasi pembiayaan utang sepanjang tahun, juga tercermin dari hasil pembiayaan utang selama semester I yang tercatat Rp 433 triliun atau setara 37,6 persen dari target APBN. Kemudian untuk pembiayaan utang melalui SBN neto selama semester I tercatat Rp 464 triliun, kemudian pinjaman neto sudah mencapai Rp 20,9 triliun.

Adapun realisasi pembiayaan utang selama semester I terus meningkat dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Secara rinci tahun 2017 pada semester I realisasi pembiayaan utang mencapai Rp 207,8 triliun, kemudian tahun 2018 tercatat Rp 180,2 triliun. Kemudian tahun 2019 pemerintah merealisasikan pembiayaan utang sepanjang semester I mencapai Rp 180,5 triliun dan mulai meningkat di tahun 2020 menjadi Rp 421,5 triliun.

Menurut, Menkeu peningkatan pembiayaan utang sepanjang semester I merupakan bentuk konsekuensi dari kebijakan fiskal yang ekspansif melalui perluasan berbagai program stimulus fiskal dalam rangka menjaga kesehatan masyarakat dan akselerasi pemulihan ekonomi nasional.

“Kita semua tahu, APBN 2021 memang masih alami atau sebagai countercyclical sangat penting untuk melindungi rakyat dan ekonomi, memang desain defisit APBN 2021 mencapai 5,7 persen,” jelasnya.

Lebih lanjut, kata Sri Mulyani, untuk prognosis semester II Rp 515,1 triliun atau setara 46,8 persen terhadap pagu pembiayaan utang tahun ini.

“Sehingga, kita hanya akan realisasi utang tahun ini Rp 958 triliun, jauh lebih rendah atau sekitar Rp 219 triliun lebih rendah dari UU APBN. Ini hal yang bagus berarti kami kurangi kenaikan utang seharusnya Rp 1.177 triliun,” tegasnya.

Tak hanya itu, faktor lain menurunnya proyeksi realisasi pembiayaan utang juga disebabkan faktor penggunaan sisa anggaran lebih atau (SAL) tahun lalu yang digunakan secara optimal di tahun ini.

“Penggunaan SAL yang kita pakai secara optimal dalam situasi saat ini, pemanfaatan SAL untuk investasi pemerintah dalam penyelesaian jalan tol Sumatera dalam hal ini infrastruktur transportasi ditujukan tidak hanya sekedar pulih tapi ingin bangun pondasi ekonomi lebih kuat kedepan,” tandasnya.

Untuk melengkapi berbagai kebijakan fiskal ekspansif, pemerintah tetap berupaya menjaga kesimbangan melalui penerapan kebijakan countercyclical dan kebijakan refocusing anggaran atau fiskal konsolidatif.

“Pemerintah senantiasa mengupayakan kombinasi sumber pembiayaan dalam rangka memenuhi target kebutuhan anggaran yang efisien, namun tetap mempertimbangkan risiko,” kata Sri Mulyani.

Sumber Berita / Artikel Asli : Berita Satu

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here