Soal Penanganan COVID-19 Lewat PPKM, Mahfud MD: Pemerintah Menyadari Adanya Ketakutan dan Keresahan Masyarakat

267
Mahfud MD

Menteri Kordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko PolhukamMahfud MD mengakui bahwa pemerintah sadar terkait penanganan COVID-19 melalui Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menimbulkan ketakutan.

“Pemerintah menyadari dan mencatat adanya semacam ketakutan atau keresahan ditengah masyarakat,” ungkap Mahfud MD dalam keterangan pers virtualnya di channel YouTube Kemenko Polhukam RI, Sabtu 24 Juli 2021.

Lebih lanjut, Mahfud MD mengungkapkan ketakutan di tengah masyarakat itu berkaitan dengan penanganan COVID-19 yang hingga saat ini trendnya masih tidak menentu.

“Keresahan itu muncul, dalam dua bentuk. Satu, takut mati karena COVID-19. Kedua, takut mati karena ekonomi,” ungkap Mahfud MD.

Menurut, Mahfud MD, kalau bersembunyi dari COVID-19 sama saja dengan mati secara ekonomi. Kemudian, kalau melakukan kegiatan ekonomi, takut mati karena tertular COVID-19.

“Pemerintah menyadari itu semua, ada ketakutan yang seperti itu, sehingga kita terus mengikutinya dari waktu ke waktu,” kata Mahfud MD.

Tapi, kata Mahuf MD, yang terpenting dari ketakutan itu harus dihadapi dengan cara kerjasama diantara elemen bangsa.

“Tokoh-tokoh pemerintahan, tokoh masyarakat, kampus, akademis, tokoh adat dan sebagainya, karena ini satu musuh bersama,” kata Mahfud MD.

Selanjutnya, Mahfud MD menegaskan bahwa ketakutan atau keresahan yang terjadi di Indonesia ini juga dialami negara-negara lain.

 

“Ada misalnya kontroversi dan resistensi terhadap pembatasan kegiatan atau aktivitas masyarakat,” ungkap Mahfud MD.

Menurutnya hasil studi dari kementerian soal penanganan COVID-19 di negara-negara berkembang seperti Indonesia itu, masyarakatnya kata Mahfud MD, resistensi terhadap pembatasan kegiatan masyarakat.

“Karena itu mengganggu jalannya perekonomian masyarakat, karena tidak bisa beraktivitas untuk bertahan atau mengembangkan kehidupan ekonominya,” ungkap Mahfud MD.

 

Tapi, kata Mahfud MD, di negara maju resistensi terhadap pembatasan itu alasannya kehilangan kebebasan.

“Tapi sama setiap negara menghadapi problem yang sama, terhadap serangan COVID-19 itu,” paparnya.***

Sumber Berita / Artikel Asli : pikiran Rakyat

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here