Siapa Sebenarnya Maman Suryadi? Pria yang Berani Bantu Napoleon Aniaya M Kece, Ternyata Panglima FPI

658
Eks FPI Maman Suryadi

Nama Maman Suryadi kembali terseret kasus penganiayaan yang dilakukan Irjen Napoleon kepada Muhammad Kece di Rutan Bareskrim Polri, Jakarta Selatan.

Maman salah satu napi dari tiga napi yang membantu jenderal bintang dua menganiaya Kece.

Hal ini diungkap oleh Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi.

Menurut Andi, Maman terlibat dalam kasus penganiayaan Muhammad Kece, ia diketahui membantu Napoleon.

Menurut Andi, keempat orang tersebut bisa masuk ke sel Kece setelah menukar gembok sel.

Di mana gembok sel Kece diganti dengan gembok tahanan lainnya berinisial H alias C.

Pergantian gembok itu terjadi setelah diperintah oleh Napoleon.

“Gembok standar untuk sel korban diganti dengan gembok milik ‘Ketua RT’ atas permintaan NB. Makanya mereka bisa mengakses,” kata Andi.

Sekitar satu jam lamanya Napoleon bersama tiga napi di sel Kece.

Hal ini terungkap melalui rekaman CCTV yang ada.

Lantas siapa Maman Suryadi ini ?

Diungkap Andi, Maman Suryadi ternyata Panglima Laskar FPI.

Ia mendekam di Rutan Bareskrim karena tersandung kasus pelanggaran protokol kesehatan di Petamburan, Jakarta Pusat.

Maman Suryadi saat acara Maulid Nabi di Petamburan, Jakarta Pusat bertindak sebagai penanggung jawab keamanan acara.

Ia kemudian ditetapkan sebagai tersangka bersama lima orang lainnya yakni Haris Ubaidillah selaku Ketua Panitia Acara, Ali Bin Alwi Alatas selalu Sekretaris Acara, Sobri Lubis selaku Penanggung Jawab Acara, dan Habib Idrus selaku Kepala Seksi Acara.

Dihukum 8 Bulan penjara

Akibat kasus kerumunan di Petamburan tersebut Maman Suryadi dipidana penjara delapan bulan.

“Menjatuhkan pidana atas diri terdakwa Rizieq Shihab, Haris Ubaidillah, Ahmad Sabri Lubis, Ali Alwi Alatas, Idrus Alhabsy, dan Maman Suryadi dengan pidana penjara masing-masing selama delapan bulan,” kata Suparman dalam persidangan di PN Jakarta Timur yang disiarkan secara daring, Kamis (27/5/2021) dikutip dari Kompas.com.

Majelis hakim menyatakan, para terdakwa secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 93 UU 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yaitu pidana penjara 1,5 tahun untuk masing-masing terdakwa.

Menurut jaksa, para terdakwa secara meyakinkan terbukti bersalah melakukan tindak pidana penghasutan untuk melakukan tindak pidana kekarantinaan kesehatan sebagaimana diatur dalam Pasal 160 KUHP jo Pasal 93 UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Selain itu, para terdakwa juga diyakini melanggar Pasal 82A Ayat (1) jo Pasal 59 Ayat (3) huruf c dan d UU Nomor 16 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 10 huruf b KUHP jo Pasal 35 Ayat (1) KUHP.

Perkara ini merupakan dugaan pelanggaran kekarantinaan kesehatan di Petamburan terjadi 14 November 2020, saat Rizieq Shihab menggelar acara Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus pernikahan putrinya.

Dalam perkara ini, Haris Ubaidillah merupakan ketua panitia acara pernikahan sekaligus Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kemudian, Ahmad Sabri Lubis saat itu merupakan Ketua Umum FPI dan bertanggung jawab atas undangan yang hadir.

Berikutnya, Ali Alwi Alatas adalah sekretaris panitia kegiatan tersebut. Selanjutnya, Idrus Alhabsy merupakan anggota FPI yang memesan tenda dan menutup jalan.

Kemudian, Maman Suryadi adalah anggota FPI yang bertugas mengamankan acara pernikahan dan berjanji menghalau jika terjadi kepadatan tapi kenyataannya malah membiarkan kerumunan massa.

Sumber Berita / Artikel Asli :  Operanews (Tribunnesw.com/Kompas.com)

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here