Shell Mundur, Bagaimana Nasib Proyek Ladang Minyak Ini?

472
Shell

Royal Dutch Shell membatalkan rencana untuk mengembangkan ladang minyak Cambo di Laut Utara Inggris. Keputusan itu diumumkan pada hari Kamis waktu setempat.

Setelah melakukan pertimbangan mendalam dari lapangan Cambo, Shell menyimpulkan alasan ekonomi untuk investasi dalam proyek ini tidak cukup kuat saat ini, serta memiliki potensi penundaan. Demikian disadur detikcom dari CNN, Jumat (3/12/2021).

Shell memiliki 30% dalam proyek tersebut, sementara Siccar Point yang mengoperasikannya memegang 70% sisanya. Menurut Siccar Point, ladang tersebut dapat menghasilkan hingga 170 juta barel setara minyak dan 53,5 miliar kaki kubik gas selama 25 tahun. Tidak jelas apakah lapangan tersebut dapat dikembangkan tanpa dukungan Shell.

Siccar Point mengkonfirmasi dalam pernyataan terpisah bahwa Shell telah mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan investasinya pada tahap ini.

Proyek Cambo di Kepulauan Shetland telah menjadi pusat perdebatan politik tentang apakah Inggris harus mengembangkan sumber daya bahan bakar fosil baru, sedangkan di sisi lain sedang berupaya menjadi ekonomi nol emisi karbon pada tahun 2050.

Aktivis iklim mengacu pada laporan Badan Energi Internasional (IEA) yang mengatakan bahwa tidak ada proyek minyak dan gas baru yang harus dikembangkan untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius.

“Cambo tetap penting bagi keamanan energi dan ekonomi Inggris,” kata Chief Executive Officer Siccar Point Jonathan Roger dalam sebuah pernyataan.

Pemerintah Inggris juga menanggapi laporan IEA dengan mengatakan keamanan energi itu penting. Selama konferensi iklim COP26 yang diadakan di bawah naungan Inggris bulan lalu, Inggris juga menolak untuk bergabung dengan aliansi negara-negara yang berjanji untuk menghentikan pengembangan minyak dan gas baru di wilayah mereka.

“Meskipun kami kecewa dengan perubahan posisi Shell … kami akan terus terlibat dengan Pemerintah Inggris dan pemangku kepentingan yang lebih luas dalam pengembangan Cambo di masa depan,” katanya.

Friends of the Earth, sebuah kelompok aktivis yang memenangkan kasus pengadilan iklim melawan Shell di Belanda tahun ini memuji langkah tersebut.

“Masa depan proyek ini sekarang dalam keraguan serius – sebagaimana mestinya. Tidak perlu ada ladang minyak baru selama krisis iklim,” kata kelompok itu di Twitter.

Royal Dutch Shell membatalkan rencana untuk mengembangkan ladang minyak Cambo di Laut Utara Inggris. Keputusan itu diumumkan pada hari Kamis waktu setempat.

Setelah melakukan pertimbangan mendalam dari lapangan Cambo, Shell menyimpulkan alasan ekonomi untuk investasi dalam proyek ini tidak cukup kuat saat ini, serta memiliki potensi penundaan. Demikian disadur detikcom dari CNN, Jumat (3/12/2021).

Shell memiliki 30% dalam proyek tersebut, sementara Siccar Point yang mengoperasikannya memegang 70% sisanya. Menurut Siccar Point, ladang tersebut dapat menghasilkan hingga 170 juta barel setara minyak dan 53,5 miliar kaki kubik gas selama 25 tahun. Tidak jelas apakah lapangan tersebut dapat dikembangkan tanpa dukungan Shell.

Siccar Point mengkonfirmasi dalam pernyataan terpisah bahwa Shell telah mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan investasinya pada tahap ini.

Proyek Cambo di Kepulauan Shetland telah menjadi pusat perdebatan politik tentang apakah Inggris harus mengembangkan sumber daya bahan bakar fosil baru, sedangkan di sisi lain sedang berupaya menjadi ekonomi nol emisi karbon pada tahun 2050.

 

Aktivis iklim mengacu pada laporan Badan Energi Internasional (IEA) yang mengatakan bahwa tidak ada proyek minyak dan gas baru yang harus dikembangkan untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius.

“Cambo tetap penting bagi keamanan energi dan ekonomi Inggris,” kata Chief Executive Officer Siccar Point Jonathan Roger dalam sebuah pernyataan.

Pemerintah Inggris juga menanggapi laporan IEA dengan mengatakan keamanan energi itu penting. Selama konferensi iklim COP26 yang diadakan di bawah naungan Inggris bulan lalu, Inggris juga menolak untuk bergabung dengan aliansi negara-negara yang berjanji untuk menghentikan pengembangan minyak dan gas baru di wilayah mereka.

“Meskipun kami kecewa dengan perubahan posisi Shell … kami akan terus terlibat dengan Pemerintah Inggris dan pemangku kepentingan yang lebih luas dalam pengembangan Cambo di masa depan,” katanya.

Friends of the Earth, sebuah kelompok aktivis yang memenangkan kasus pengadilan iklim melawan Shell di Belanda tahun ini memuji langkah tersebut.

“Masa depan proyek ini sekarang dalam keraguan serius – sebagaimana mestinya. Tidak perlu ada ladang minyak baru selama krisis iklim,” kata kelompok itu di Twitter.

 Sumber Berita / Artikel  Asli :  detik 

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

74 + = 78