Seyit Tumturk : 5 Juta Warga Uighur Ditahan di Kamp Pengungsian Pemerintah China

341

MEDAN-Presiden Majelis Nasional Turkistan Timur (Uighur), Seyit Tumturk membeberkan apa yang dialami umat Islam Uighur yang terus dibantai Pemerintah China adalah benar.

Kebenaran yang terus diragukan banyak negara pihak termasuk pemerintah negara pemeluk agama Islam mayoritas.

Seyit menjelaskan tahun ini sudah masuk tahun ke-70 pemerintah China menjajah Turkistan Timur (Uighur) sejak tahun 1949. Dijelaskannya, selama 67 tahun (1949-2016), pemerintah China memberlakukan kebijakan asimilasi dimana nilai-nilai kehidupan di Turkistan Timur diubah hingga menghilangkan, sehingga umat Islam Uighur lupa akan sejarah mereka. “Alhamdulilah masuk 67 tahun ini mereka mencoba melakukan hal tersebut, warga muslim Uighur tetap berpegang teguh terhadap kepercayaan atau agama dan darimana mereka berasal,” jelasnya di Medan, Selasa (31/12/2019).

Namun, kata Seyit sejak 2016, pemerintah China mengubah kebijakan dengan menjadikan Turkistan Timur menjadi penjara terbuka terbesar di dunia ini. “Dimana di kamp pengungsian terdapat 1-5 juta orang. Meskipun pemerintah China mencoba mengelak atas apa yang terjadi di sana, tapi sudah ada banyak laporan-laporan yang menyatakan kamp pengungsian itu ada,” ungkapnya.

“Sayang sekali bagi kaum pria yang tinggal di kamp pengungsian dizalimi sampai dibunuh, atau mereka yang sehat akan dipaksa melakukan operasi. Dimana organ mereka diambil pemerintah China. Dan organ tersebut dijual atau digunakan pemerintah China sendiri untuk kebutuhan dalam negeri dan luar negeri termasuk ke negara Islam sendiri yang sayangnya untuk saat ini tidak mendukung perjuangan umat di Uighur. Mereka melabelkan itu sebagai organ yang halal,” ucapnya.

Di sisi lain, saat kaum pria/suami/bapak yang dimasukkan ke kamp pengungsian, keluarga yang mereka tinggalkan juga tak luput dari penindasan. Karena, pemerintah China menugaskan 1,5 juta pria China untuk menjajalankan program Persaudaraan dan Kekeluargaan. Dimana, mereka ditempatkan di rumah-rumah yang diisi ibu, perempuan, keluarga muslim Uighur. “Mereka (warga Uigur) dipaksa tinggal bersama, niatnya untuk mengasimilasi kebudayaan China dan Turkistan Timur. Bagi mereka pria yang ditugaskan tingal di rumah yang ditinggali ibu dan perempuan keluarga muslim Uighur jika ingin menikahi perempuan di rumah itu, maka warga Uigur harus menerima. “Jika menolak akan dicap teroris atau pembangkang dan mereka akan dipenjarakan,” tandasnya.

Mirisnya, dipaparkan Seyit, ratusan ribu perempuan Uighur lainnya dipaksa bekerja di beberapa tempat di daerah China. “Bertujuan agar tidak terjadinya reproduksi dan tidak terjadi penambahan populasi warga Turkistan. Dan kurang lebih anak 1-6 tahun dipaksa pemerintah China ke suatu daerah dimana mereka diberikan reedukasi atau pendidikan ulang dengan pembelajaran komunisme agar ketika mereka besar punya pemahaman beda dengn orang tuanya. Dan ke depannya akan dijadikan senjata ideologis,” bebernya.

“Kalian bisa melihat ini terjadi, saya tidak melakukan kebohongan, karena ada juga laporan dari amnesti internasional, PBB juga Human Right Watch, bahwa semua ini terjadi. Dan kami tidak sedang menyebarkan kebohongan di sini. Dan pemerintah China menganggap apa yang tersebar ke luar soal Uigur adalah operasi intelejen Amerika atau CIA untuk membuat melemahkan China,” jelasnya.

Diapun mempertanyakan kepedulian pemerintah Islam yang hingga detik ini sangat lemah soal sikap tegas terhadap derita Uighur. “Apakah kita sebagai umat muslim pernah melihat di kanal-kanal televisi berita kita tentang kndisi terkini saudara kita di Turkistan Timur, apakah kita sudah mendengar apakah ada pernyataan kecaman dari negara Muslim di dunia yang menyatakan kita harus menghentikan kezaliman ini?,” urainya.

Seyit juga menyinggung soal eksekusi pemerintah China yang dilakukan terhadap akademi Uighur, salah satunya, Profesor Ilham Tohti. Dia adalah akademisi yang blak-blakan menyoroti penganiayaan agama dan budaya terhadap etnis Uighur. “Dia adalah salah satu korban yang dituduh Pemerintah China bahwa dia bagian dari radikalisme. Dia tidak teroris. Dia tidak pernah menyatakan baik itu di mimbar umum, dia hanya mengatakan ingin mendapatkan haknya sebagai warga negara China. Dia hanya ingin melaksanakan hak dasar, tapi pemerintah melakukan fitnah, bahwa dia dituduh teroris dan dimasukan ke penjara. Prof Ilham tidak pernah menyatakan ingin merdeka atau lepas dari China. Dia hanya ingin merdeka dan bebas dari kezaliman penjajajahan pemerintahan China,” urainya.

Dia mengingatkan bahwa sebagai umat muslim diperintahkan untuk menghentikan kezaliman di dunia ini. “Seperti apa yang dikatakan Ali Bin Ali Thalib ‘apabila kalian melihat kezaliman lawanlah, apabila tidak bisa, kabarkanlah bahwa telah terjadi kezaliman. Rasullah mengatakan jika kalian melihat kezaliman lawanlah dengan tangan kalian, jika tidak bisa lawan dengan perkataaan tapi jika tidak bisa dengan hati kita, dengan mendoakan,” ujranya.

Pun, diakuinya meski kecewa dengan pemerintah negara-negara muslim, dia bersyukur dengan pergerakan solidaritas warga muslim termasuk di Indonesia. “Alhamdulillah saya senang dengan apa yang ditunjukkan oleh warga muslim di Indonesia, saat hadir saat aksi solidaritas Uighur (beberapa waktu lalu) di Kedutaan China, saya akan menjadi saksi di akhirat bahwa umat muslim di Indonesia telah menjalankan tugas mereka melawan kezaliman pemerintah China atas warga Turkistan Timur selama 70 tahun,” tegasnya.

“Aksi solidaritas yang ditunjukkan umat muslim di Indonesia tidak hanya melindungi 35 juta warga Uighur tapi menunjukkan kepeduliaan terhadap 1,5 miliar umat Islam di dunia. Alhamdulillah kalian sudah menjadi bagian umat Islam yang melindungi izzah atau harga diri umat Islam di dunia ini. Insya Allah apa yang telah ditunjukkan warga Islam di Indonesia menjadi contoh negara muslim di dunia sehingga kita mendapatkan solusi terhadap apa yang dialami umat Islam di Uighur,” pungkasnya. (nin/pojoksumut)

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...