Semacam Lomba Narasi Jahat yang Dihunjamkan pada Anies, Kemal Arsjad Pun Jadi Pesertanya

308
Anies Baswedan

Kemal Arsjad, namanya menjadi terkenal, atau setidaknya lebih dikenal khalayak umum dengan mengumpat Anies Baswedan

Oleh: Ady Amar

Sikap angkuh menganggap diri berkuasa, sehingga yang keluar dari mulut adalah perkataan atau bahkan narasi apa saja yang diinginkannya. Meski itu umpatan tidak selayaknya.

Menganggap diri berkuasa, itu pun punya tingkatannya masing-masing. Repot jika cuma jadi buzzer, lalu menganggap bisa mengumpat sekehendak hati. Merasa terlindungi dan karenanya ruang publik jadi bising dan kotor dengan ungkapan tak sepantasnya.

Karenanya menjadi tidak aneh jika seorang Kemal Arsjad, lalu mengumpat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan perkataan tak sepantasnya. Meski lalu ia meminta maaf atas cuitannya itu. Ia katakan, bahwa dirinya khilaf.

Kemal Arsjad, namanya menjadi terkenal, atau setidaknya lebih dikenal khalayak umum dengan mengumpat Anies Baswedan. Dekat dengan kekuasaan, maka ia berani mengumpat Anies Baswedan dengan kata “bangsat”, dan jika jumpa ingin “meludahi” nya.

Ia meretwet Anies yang mengatakan, bahwa Rumah Sakit di DKI Jakarta masih mampu menampung pasien Covid-19. Lalu ia tanggapi, Halah, Bangsat lah nih orang. Kalo ketemu gw ludahin mukanya…!!!

Lalu, ia meminta maaf atas cuitannya itu. Katanya, umpatan itu dilontarkan karena kerabat dan keluarga  saat itu kesulitan dalam mencari bed occupancy ratio di RS DKI.

Ahmad Dhani, pernah melakukan hampir serupa dengan yang dilakukan Kemal Arsjad, meski tidak menyebut nama tertentu. Dan karenanya, ia diganjar 1,5 tahun mendekam dalam penjara. Kemal lebih sadis, ia menyasar nama seseorang, yang kebetulan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ungkapan “bangsatnya” itu mencederai bukan saja Anies Baswedan seorang, tapi tentu warga Jakarta.

Tingkat “dosa” Kemal Arsjad,  itu jika dibanding dengan Ahmad Dhani lebih patut diganjar penjara. Tapi tampaknya dengan kata maafnya, atau sekalipun tanpa perlu meminta maaf pun ia akan aman-aman saja. Berdekatan dengan penguasa, tanpa “iman” memadai akan memunculkan manusia semacamnya.

Manusia yang sok berkuasa, meski tidak benar-benar berkuasa. Kemal Arsjad menjabat sebagai komisaris independen Askrindo, asuransi kredit fintech. Mestinya dengan jabatannya itu, sikap dan perkataannya terjaga. Tapi terkadang jabatan yang didapat bukan semata lantaran kepakaran, tapi lebih pada balas jasa kedekatan dengan penguasa. Maka menutup ketidakmampuan dengan mengumbar pernyataan tidak sepantasnya jadi andalannya.

Mengapa Mesti Anies Baswedan

Anies Baswedan jadi sasaran empuk mereka yang memilih berdekatan dengan penguasa. Lalu salah Anies apa, sehingga mesti diperhadapkan seolah ia musuh penguasa. Maka, Anies perlu disikapi dengan sikap tak sewajarnya.

Seolah dengan mencercah Anies Baswedan, itu punya nilai tersendiri. Dan lalu semacam lomba mengumbar narasi tidak sepantasnya. Merasa bangga jika umpatannya bisa lebih dari lainnya. Kemal Arsjad dengan kata “bangsat” nya dan bahkan ditambah dengan ingin “meludahi” Anies Baswedan. Orang semacamnya seolah bisa bicara apa saja yang tak beradab, dan pastilah akan aman-aman saja.

Maka semacam lomba berharap dilirik jadi komisaris atau jabatan komisaris yang empuk akan diperpanjang, maka narasi-narasi jahat makin semarak memenuhi jagat media sosial. Semacam persaingan adu bacot kotor. Suatu pembelajaran buruk bagi milineal, yang mendapati seniornya mengajarkan ujaran tak beradab.

Anies Baswedan, semacam biasanya, membiarkan saja dirinya dihantam dengan narasi jahat. Ia tetap fokus dengan pekerjaan menumpuk. Apalagi pandemi Covid-19 makin menjadi, dan itu perlu diikhtiarkan menekan penyebarannya. Anies tak ambil pusing antara diri dipuja dengan dicaci. Biasa saja menyikapinya.

Pilihan Anies membiarkan narasi jahat yang dihunjam padanya, itu sikap yang penuh perhitungan. Ia tidak ingin menurunkan derajat adab yang disulam sekian lama hanya untuk meladeni ujaran-ujaran tak beradab. Itu sama dengan memposisikan diri dengan mereka yang selama ini bersandar memilih sikap tidak terpuji.

Karenanya, ghibah tidaklah perlu dibalas dengan ghibah lain yang serupa, itu pilihan Anies dalam menyikapi fenomena yang sengaja dimunculkan. Seolah menguji tingkat kesabaran seorang Anies Baswedan. Maka wajar jika tensi narasi makin hari akan makin jahat menghunjam Anies. Sampai kapan, setidaknya sampai 2024, tahun di mana Pemilihan Presiden (Pilpres)  akan berlangsung.

Itulah bisa jadi jawaban atas pertanyaan, “mengapa mesti Anies Baswedan”, dan itu lebih pada upaya pembusukan sistemik yang terus akan disasarkan padanya. Tabuhan memekakkan telinga akan terus ditabuh dengan kencangnya hingga 2024 itu tiba. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Sumber Berita / Artikel Asli : Indonesiainside

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here