Ramai Habib Kribo, Habib Novel Alaydrus Bongkar Cara Menguji ‘Keaslian’ Seorang Habib

744
Pimpinan Majelis Ilmu dan Dzikir Ar-Raudhoh, Solo, Jawa Tengah, Habib Novel Alaydrus. [Facebook]

Masyarakat di Indonesia kembali diramaikan dengan sosok gelar Habib yang asli atau palsu setelah munculnya nama Habib Kribo yang menjadi perbincangan di media sosial.

Atas ramainya tentang Habib asli atau palsu, Pimpinan Majelis Ilmu dan Dzikir Ar-Raudhoh Surakarta, Jawa Tengah, Habib Novel bin Muhammad Alaydrus membeberkan cara mengetahui seseorang merupakan habib asli atau palsu.

Dalam video yang diunggah di akun YouTube Ustadz Lovers berjudul “Habib Novel Bongkar Kedok Habib Palsu? Kribo Hina Bangsa Arab” yang diunggah pada Kamis (13/1) ini telah ditonton sebanyak 27 ribu kali.

Dalam video itu, Habib Novel didampingi oleh Habib Muhammad menjelaskan asal usul gelar Habib di dunia Islam maupun dunia secara keseluruhan.

Menurut Habib Novel, sebuah gelar kepada seseorang merupakan hal yang wajar dan lazim terjadi di masyarakat.

“Kita tahu di Nusantara ini ada orang-orang yang dekat dengan kesultanan, kemudian oleh Raja diberi gelar Raden, ini orang-orang yang dekat dengan Raja, sama Raja dikasih gelar Raden orang tersebut. Untuk apa, menunjukkan ini orang yang dihormati oleh Raja dan agar masyarakat menghormati orang tersebut juga,” ujar Habib Novel, Jumat (14/1).

Gelar tersebut juga terjadi di dalam dunia secara keseluruhan di setiap negara, setiap wilayah yang mempunyai gelar tersendiri untuk orang-orang yang dipandang “mulia” oleh masyarakatnya.

Habib Novel selanjutnya menceritakan asal usul gelar Habib yang berawal dari panggilan Sayid dan Syarif, lalu berganti menjadi Imam, lalu berganti menjadi Syech atau guru, hingga menjadi Habib sampai saat ini.

Sebelum menceritakan cara membedakan habib asli atau palsu, Habib Novel terlebih dahulu memberikan penjelasan pada dunia Islam.

“Ada satu hal yang pokok, bahwasanya untuk mengukur seseorang itu nomor satu adalah dengan keimanan dan ketakwaan. Kemudian kita tidak boleh menghina seseorang, siapapun orangnya. Umat nabi Muhammad SAW, orangnya itu mau modelnya seperti apa, kita suruh ngucap yang baik-baik, kita gak boleh mencaci gak boleh memaki, gak boleh menghina, tidak boleh seperti itu. Ini kaidah yang harus kita pakai setiap umat Nabi Muhammad SAW,” jelas Habib Novel.

Kemudian Habib Novel menjelaskan berbagai persoalan yang mengakibatkan adanya pertanyaan publik tentang habib asli atau palsu.

“Nah sekarang nanya nih habibnya asli atau palsu. Mungkin pertanyaan itu muncul karena dua hal, yang pertama karena akhlaknya yang bersangkutan gak benar, karena ilmunya gak cukup, sehingga orang gak percaya, ragu-ragu ini habib benar apa enggak,” terang Habib Novel.

“Atau yang kedua, orangnya ilmunya bagus, akhlaknya bagus, tetapi setelah dicek, ini kok kelihatannya ayahnya ke atas gak jelas, kakeknya ke atas gak jelas. Ini asli atau palsu. Kadang pula hidungnya gak mancung, wajahnya biasa-biasa saja, gak kelihatan seperti keturunan Nabi Muhammad SAW, orang jadi ragu, ini asli atau palsu,” sambungnya.

Habib Novel mengaku bersyukur, bahwa di Indonesia sudah ada lembaga khusus, yaitu Makhtab Addaimi Rabithah Alawiyah yang merupakan lembaga pencatatan nasab anak cucu Nabi Muhammad SAW yang ada di seluruh wilayah Tanah Air.

“Sehingga kalau ada orang yang ragu ini habib asli atau palsu, sebetulnya caranya mudah, tinggal nanya sama habibnya, ‘bib, kalau antum ini asli, kami butuh bukti, bukti nasab, bukti nasab yang ada stempel Rabithah Alawiyah Makhtab Addaimi, kami bisa percaya kalau antum habib’,” jelasnya.

“Kalau enggak, ya kami belum bisa percaya, kami tidak menafikan, tapi kami belum bisa percaya sampai habib punya. Boleh masyarakat ngomong seperti itu, haknya masyarakat untuk bertanya, habib asli atau palsu,” beber Habib Novel.

Habib Novel pun lantas menunjukkan sebuah buku kecil seperti pasport yang merupakan buku resmi yang dikeluarkan oleh Makhtab Addaimi Rabithah Alawiyah yang di dalamnya berisi nama-nama nasab atau silsilah keturunannya beserta stempel asli dari lembaga tersebut.

“Jadi saya ini habib generasi yang ke-38, sama dengan Habib Muhammad, Habib Muhammad juga generasi yang ke-38. Di Makhtab Addaimi ini jelas, ada stempelnya, sehingga tidak mudah dipalsukan. Kemudian ada urutan-urutan nasabnya. Ini nanti akan membuktikan tercatat sampai siapa siapa siapa,” katanya.

Menurutnya, hal tersebut merupakan cara paling mudah menunjukkan bahwa seseorang yang mengaku habib tersebut benar habib asli atau palsu.

“Bukan berarti yang gak punya, palsu, jangan salah ya, bukan berarti yang gak punya seperti ini palsu. Tetapi Masyarakat kalau mau yakin, kalau udah yang punya seperti ini, jangan ragu. InsyaAllah asli masalah nasabnya karena sudah terverifikasi di Makhtab Addaimi,” tutur Habib Novel.

Langkah selanjutnya kata Habib Novel, yaitu bertanya kepada masyarakat sekitar seseorang tersebut untuk mempertanyakan keturunannya.

“Nah ini yang jadi masalah kalau ada pendatang di luar kota, tinggal di suatu wilayah, entah desa atau di kota, yang masyarakat sekitar juga gak kenal, kemudian dia ngaku habib. Maka menimbulkan keraguan di masyarakat itu wajar,” pungkasnya.

Sumber Berita  / Artikel Asli : RMOL

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here