PSSI Angkat Suara Soal Tragedi Kanjuruhan yang Tewaskan Ratusan Orang: Banyak yang Harus Menahan Diri

152
Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan atau Iwan Bule

Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) angkat suara soal kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang pada Sabtu, 1 Oktober 2022 malam.

Tragedi Kanjuruhan yang terjadi usai laga antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya itu harus menelan korban sebanyak 129 orang meninggal dunia.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI Yunus Nusi menyayangkan kerusuhan yang melibatkan suporter sepak bola di Stadion Kanjuruhan itu.

 

Yunus Nusi mengungkapkan seharusnya banyak pihak yang bisa menahan diri ketika terjadi kerusuhan dalam tragedi Kanjuruhan itu agar jatuhnya korban jiwa dapat dihindari.

“Kami menyesalkan kejadian kemarin malam. Sebenarnya banyak yang harus menahan diri,” kata Yunus Nusi dalam konferensi pers di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta yang dikutip SeputarTangsel.Com dari Antara pada Minggu, 2 Oktober 2022.

Namun, Sekjen PSSI tersebut itu tidak merinci siapa yang sebenarnya mesti menahan diri dalam kejadian tersebut.

Di sisi lain, soal tindakan aparat terhadap suporter, Yunus Nusi yakin hal itu diambil dengan pertimbangan tertentu.

Penggunaan gas air mata dianggapnya juga sudah dipertimbangkan matang-matang meski FIFA sudah melarangnya.

Pasal 19 (b) Regulasi Keselamatan dan Keamanan FIFA menyatakan bahwa ‘tidak boleh membawa atau menggunakan senjata api atau gas pengendali keramaian’ di lapangan pertandingan.

“Kejadian itu begitu cepat. Tentu pihak keamanan sudah memikirkan dan mengkaji dengan baik. Kita memang melihat pascapertandingan penonton turun ke lapangan dan tentu pihak keamanan ambil langkah-langkah antisipatif,” tuturnya.

Oleh karena itu, PSSI telah membentuk tim investigasi peristiwa di Stadion Kanjuruhan yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan atau Iwan Bule.

 

Iwan Bule sendiri kini sedang berada di Malang untuk menyelidiki kasus tersebut.

Selain itu, Menpora Zainudin Amali dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo juga terbang ke Malang untuk mengetahui dengan rinci peristiwa tersebut.

Untuk diketahui, tragedi Kanjuruhan berawal saat ribuan suporter Arema FC, yakni Aremania merangsek masuk ke area lapangan setelah tim kesayangannya kalah 2-3 dari Persebaya dalam laga lanjutan Liga 1 Indonesia 2022-2023.

Polisi kemudian menembakkan gas air mata di dalam lapangan yang membuat banyak suporter pingsan dan sulit bernafas sehingga banyak yang tumbang.

Suporter yang bertumbangan itu lantas membuat kepanikan di area stadion sehingga mereka berebut mencari jalan keluar.

Akan tetapi, jumlah pendukung yang membutuhkan bantuan medis tidak sebanding dengan jumlah tenaga kesehatan yang disiagakan di Stadion Kanjuruhan.

 

Para suporter yang menjadi korban itu banyak yang mengeluh sesak nafas terkena gas air mata dan terinjak-injak saat berusaha meninggalkan tribun stadion dan hingga saat ini tercatat 129 orang kehilangan nyawa akibat kerusuhan tersebut.

Jumlah korban meninggal dunia dalam tragedi Kanjuruhan itu hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti.***

Sumber Berita / Artikel Asli :  Pikiran Rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here