Politisi PDIP ketahuan minta bertemu AHY dan terlibat rencana kudeta di istana

640

Politikus Partai Demokrat Andi Arief membongkar bahwa seorang politisi PDIP sempat meminta untuk bertemu Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan membantunya untuk melengserkan Moeldoko dari jabatannya di istana sebagai Kepala Staf Presiden (KSP).

Pernyataan itu diungkapkan Andi Arief tatkala mengomentari sindirian pedas dari Ruhut Sitompul yang menilai bahwa dia hanya membuat Partai Demokrat hancur.

Sambil mengunggah foto Andi Arief bersama Rachland Nashidik dan Annisa Pohan, Ruhut menyindir soal ulah ketiga sosok tersebut yang justru membuat citra Demokrat semakin buruk.

“Mantap lanjutkan saja terus nyinyir, ngebacot dengan congornya yang bau banget biar makin karam kedasar laut,” kata Ruhut dalam kicauanny, dikutip Hops Jumat, 30 Juli 2021.

Terlihat dalam foto yang diunggah, sebuah narasi yang menjelaskan bahwa berkat jasa Andi Arief, Rachland Nashidik, dan Annisa Pohan, Partai Demokrat semakin hancur dan sulit diselamatkan.

Ruhut minta bantuan AHY untuk tendang Moeldoko dari jabatannya di istana

Ketua Umum Partai Demokrat, AHY
Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono. Foto Tangkapan layar Youtube Kompas TV. | Politisi PDIP ketahuan minta bertemu AHY dan terlibat kudeta di istana

Menanggapi sindiran pedas tersebut, Andi Arief menjelaskan bahwa sebenarnya Ruhut Sitompul beberapa waktu lalu sempat bertemu dengan anggota DPR RI Demokrat.

Dalam pertemuan itu, Ruhut meminta untuk bertemu dengan AHY dan membantu dirinya untuk menendang Moeldoko dari jabatannya sebagai KSP.

“Ruhut ini dua minggu lalu bertemu dengan salah satu anggota DPR RI Demokrat, dia meminta bertemu Ketum AHY. Dia minta Ketum menitipkan ke Pak Jokowi untuk pengganti Pak Moeldoko yang akan diganti tidak lama lagi,” ujar Andi Arief.

Andi Arief pun keheranan dengan cara Ruhut yang ingin sekali mengejar ambisinya jadi pejabat di istana dan menggantikan Moeldoko tidak wajar.

“Udah gila kan, Ruhut mau mengudeta Pak Moeldoko dengan cara ini,” tandas Andi.

Ruhut klaim pamor Partai Demokrat turun usai dirinya keluar

Sejak beberapa tahun terakhir—terutama sejak 2014 hingga sekarang, elektabilitas Partai Demokrat mengalami sedikit penurunan. Bahkan, pemindahan kekuasaan dari Susilo Bambang Yudhoyono ke putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono tak terlalu berdampak besar. Lantas, apa pendapat Ruhut mengenai hal tersebut?

Diketahui, sebelum bergabung dengan PDIP, Ruhut Sitompul merupakan politisi Partai Demokrat yang kerap mengkritik kebijakan Presiden Jokowi. Namun, menjelang periode kedua masa jabatan, dia memutuskan merapat ke pemerintah.

Ruhut secara tak langsung membenarkan, pamor Partai Demokrat perlahan mulai menurun. Menariknya, Ruhut memastikan, keluarnya dia dari partai bernuansa biru tersebut merupakan salah satu penyebab utamanya.

“Partai Demokrat memang jadi rendah sejak aku tinggalkan, kasian deh,” tulisnya melalui akun media sosial resminya, dikutip Rabu 14 Juli 2021.

Meski secara hitung-hitungan tak sebesar satu dekade lalu, namun Partai Demokrat masih menempati urutan ketiga dengan nilai elektoral 14,8 persen. Setidaknya, hal tersebut yang belum lama ini disampaikan lembaga survei Akar Rumput Strategic Consulting atau ARSC kepada media.

Sementara partai yang saat ini dibela Ruhut, yakni PDIP menempati urutan pertama dengan raihan hampir 20 persen. Kenyataan tersebut yang akhirnya membuat dia percaya, bahwa kepindahannya ke partai berlogo banteng itu, mempengaruhi elektablitas Partai Demokrat.

“Siapa yang aku dukung (di Pilpres), dia pasti menang,” tegasnya.

Dulu di Demokrat, mengapa Ruhut kini dukung Jokowi?

Presiden Jokowi. Foto: Antara
Presiden Jokowi. Foto: Antara

Seperti yang telah disinggung di awal, sebelum bergabung dengan PDIP, Ruhut Sitompul selalu melempar kritikan, bahkan hinaan kepada Presiden Jokowi. Bahkan, pada pemilihan presiden (Pilpres) 2014 lalu, dia sempat mengatakan, Indonesia akan berantakan seandainya dipimpin sosok tersebut.

Menariknya, belum lama ini Ruhut mengaku menyesal telah membenci Jokowi di masa lalu. Sebab, setelah bergabung dengan tim relawan Jokowi dan berbaur bersamanya, dia menjadi sadar, mantan Wali Kota Solo tersebut merupakan pribadi yang baik dan berhati emas.

“Kenapa aku mendukung Pak Joko Widodo (Jokowi) dari periode satu hingga dua? Sebagai relawan pejuang bravo bersama Luhut Binsar Pandjaitan, yang sebelumnya aku berseberangan dengan Pak Jokowi, yang suka ngerasain harus tahu beliau berhati emas,” tuturnya.

Lebih jauh, dia menyarankan, seandainya ada pihak-pihak yang gemar menghina Jokowi, sebaiknya hentikan. Sebab, jika nantinya mengenal langsung dan bertemu dengan Jokowi, mereka akan menyesali perbuatannya. Dia sendiri malu saat mengingat masa-masa sebagai penghina presiden.

“Nanti malu sendiri seperti aku dan tetap jaga etika serta sopan santun. Merdeka!” kata dia.

Sumber Berita / Artikel Asli : HOPS

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here