Politikus Demokrat Singgung Tukang Meubel, Gus Nadir: Level Mayor Kok Mau jadi Capres?

276
Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir (Instagram/nadirsyahhosen_official)

JAKARTA — Politisi Partai Demokrat Rachland Nashidik tiba-tiba membuat pernyataan kontroversial. Katanya kenapa masyarakat mesti mempertanyakan penjual jam imitasi bisa jadi komisaris BUMN. Sementara seorang tukang mebel saja bisa dipilih jadi presiden RI.

“Indonesia: Kenapa heran sales jam imitasi bisa jadi komisaris BUMN, kalau tukang mebel bisa dipilih jadi Presiden?” cuit Rachland di akun Twitternya @RachlandNashidik, Kamis (1/7/2021).

Sindiran Rachland tersebut diduga ditujukan kepada Komisaris Independen PT Pelni, Kristia Budiarto alias Dede Budhyarto. Hal tersebut diketahui dari jejak digitalnya yang pernah menawarkan jam tangan KW di laman Twitternya.

Lantas siapa yang ia maksud sebagai tukang meubel? Sudah barang tentu sentilan itu ia tujukan untuk Presiden Joko Widodo dimana sebelum menjadi Wali Kota Solo, ia berprofesi sebagai pengusaha meubel di kampung halamannya.

Sorotan tajam sontak dilontarkan netizen merespons cuitan sarkas Rachland tersebut. Salah satunya datang dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Nadirsyah Hosen.

Juga lewat celotehnya di Twitter, Gus Nadir menyebut salah satu penyebab menurunnya kualitas demokrasi di Indonesia karena oposisinya kurang cerdas.

“Gak usah persoalkan profesi sebelumnya, selama halal & legal. Nanti ada yg respon “level Mayor kok mau jadi Capres” anda dkk marah2. Kalau yg jual jam KW, itu halal & legal gak sih?” sentil Gus Nadir.

Pegiat media sosial Billy Khaeruddin juga turut bersuara. Menurutnya tidak proporsional perbandingannya antara tukang mebel bisa jadi presiden.

“Sebenarnya inti demokrasi bahwa siapa pun bisa dipilih jadi penguasa. Seburuk apa pun kualitas kepemimpinannya, janganlah merendahkan pekerjaan halal seseorang sebelumnya. Kalau sales jam KW baru lain lagi,” sahutnya.

Rachland Nashidik pun buru-buru menklarifikasi cuitannya. Katanya kustru, poinnya adalah dalam demokrasi Indonesia hari ini, siapa saja mungkin jadi apa. Maling atau pemuka agama sama berpeluang. Itu faktanya.

“Memang, demokrasi tidak menyoal Anda siapa atau datang dari mana. Tapi penting bertanya: sebenarnya Anda bisa berbuat apa?” cetusnya lugas. (end/fajar)

Sumber Berita / Artikel Asli : FAJAR

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here