Polisi Turki Tembakkan Gas Air Mata ke Pengunjuk Rasa Perempuan di Istanbul

401
Polisi Turki Tembakkan Gas Air Mata ke Pengunjuk Rasa Perempuan di Istanbul

Ribuan perempuan Turki turun ke jalan di Istanbul dalam rangka memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, Kamis 25 November 2021.

Unjuk rasa perempuan Turki tersebut merupakan protes atas kebijakan Turki yang keluar dari Konvensi Istanbul. Sebuah perjanjian yang mencakup 45 negara untuk melindungi perempuan dan ditandatangani di Turki pada tahun 2011.

Menghadapi para pengunjuk rasa perempuan di Istanbul yang jumlahnya ribuan, polisi Turki menembakkan gas air mata.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menyatakan keluar dari konvensi pada bulan Juli 2021. Dia menilai, konvensi dibajak oleh sekelompok orang yang berusaha untuk menormalkan homoseksualitas.

Selanjutnya, Erdogan juga berpendapat, undang-undang yang ada di Turki sudah memebrikan perlindungan yang cukup bagi perempuan.

Namun, kelompok hak-hak perempuan di sana mengatakan, pemerintah tidak sepenuhnya menerapkan undang-undang. Apalagi kekerasan terhadap perempuan terus meningkat.

Pada hari yang sama dengan unjuk rasa, Menteri Dalam Negeri Turki, Suleyman Soylu, mengakui, statistik  pembunuhan perempuan di negaranya meningkat. Pada bulan November 2020 tercatat 251 perempuan, sementara tahun ini diperiode yang sama sudah mencapai 268.

“ini bukan hanya statistik. Ini adalah masalah kehidupan manusia. Kita perlu mengatasi masalah ini dengan cepat,” ujar Suleyman Soylu sebagaimana dilansir SeputarTangsel.Com dari Al Jazeera, Jumat 26 November 2021.

“Kami melihat kekerasan terhadap perempuan sebagai masalah kemanusiaan dan kami tidak mentolerir, bahkan kehilangan satu nyawa,” sambung Suleyman Soylu.

Pemerintah Turki berjanji akan melindungi perempuan dan menurunkan angka pembunuhan. Namun, banyak perempuan di negara tersebut meragukan niat pemerintah.

 

“Kami berada di jalan-jalan untuk menyerukan hak perempuan membela diri, keadilan bagi perempuan yang terbunuh, hak perempuan untuk bekerja, dan hak perempuan lesbian,” ujar Gokce, 25 tahun, pengunjuk rasa dari Jaringan Pertahanan Perempuan.

Organisasi Jaringan Pertahanan Perempuan merupakan organisasi yang menghubungkan aktivis perempuan di seluruh negeri. Jadi, saat Gokce melakukan orasi di Istiklal Avenue kerumunan bertambah banyak.

Menghadapi pengunjuk rasa perempuan, polisi sudah memasang perisai anti huru hara dan lapisan ganda barikade logam. Polisi menghalangi jalan.

Ketika para pengunjuk rasa melanjutkan perjalanan ke Istiklal Avenue Kamis malam, polisi bertahap mundur dan membiarkan mereka berbaris.

Beberapa ratus meter kemudian, ratusan polisi anti huru hara berkumpul di belakang barikade. Mereka didukung oleh setengah lusin truk meriam air dan puluhan bus pengangkut calon tahanan.

Sekelompok polisi menyebar membawa senjata amunisi karet dan peluncur untuk tabung gas air mata. Yang lainnya menggunakan masker gas dan mengikat dasi plastik dari ikat pinggang mereka.

Awalnya tidak ada tindakan apapun dari kedua pihak. Polisi mulai menembakkan gas air mata ketka pengunjuk rasa berteriak ‘buka barikade’ dan maju ke arah mereka. Satu jam kemudian unjuk rasa dapat dibubarkan.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Pikiran Rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

81 − 77 =