Perbedaan Cara Risma dan Anies Hadapi Penyandang Tunarungu

415

 Kehebohan publik pada Hari Disabilitas Internasional di Ibu Kota awal Desember ini diramaikan dengan cibiran dan protes dari masyarakat disabilitas kepada Menteri Sosial Tri Rismaharini.

Protes itu bermula saat Risma memaksa seorang tunarungu berbicara sebagaimana orang pada umumnya.

Risma dianggap tidak sensitif dengan para tunarungu. Akibatnya, Risma dikecam habis warganet.

Risma didesak meminta maaf atas kesalahan itu. Tetapi, mantan Wali Kota Surabaya itu punya alasan.

Risma beralasan para penyandang disabilitas tunarungu dapat melatih diri untuk berbicara minta tolong apabila berada dalam situasi yang membahayakan diri.

Hal ini yang kemudian menjadi salah satu alasan Mensos Risma meminta mereka berbicara di rangkaian acara Hari Disabilitas Internasional, Rabu (1/12/2021).

“Saya ingin mengoptimalkan kemampuan dia kalau memang dia bisa bicara. Itu pilihan setelah itu dia mau bicara atau tidak,” kata Risma.

Perbedaan Cara Risma dan Anies Hadapi Penyandang Tunarungu

 

Pada saat bersamaan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meluncurkan aplikasi video call untuk disabilitas di Stasiun MRT Bundaran HI.

Dari rekaman potongan video yang beredar di media sosial, Anies tampak sedang dilatih berbahasa isyarat dengan seorang tunarungu.

Sikap Anies Baswedan itu menuai pujian dari netizen. Anies dianggap lebih peka dan sensitif terhadap keberadaan tunarungu.

Pada kegiatan itu, Anies mengatakan, ingin menjadikan Jakarta sebagai kota yang menjunjung keadilan dan kesetaraan.

“Pemprov DKI Jakarta selalu melibatkan komunitas penyandang disabilitas dalam perencanaan fasilitas agar fasilitas yang disiapkan sesuai dengan kebutuhan mereka. Karena, penyandang disabilitas ini bukan hanya jenisnya yang bervariasi tapi juga di tiap jenis ada spektrum yang berbeda-beda. Kita ingin semua spektrum terfasilitasi,” kata Anies.

Dia menambahkan, pelibatan disabilitas menjadi skala prioritas pemerintah DKI Jakarta.

Menurut Anies, bila empat unsur masyarakat yang terdiri dari penyandang disabilitas, lansia, anak-anak dan perempuan ini terfasilitasi, maka elemen rakyat yang lain juga pasti terfasilitasi.

“Kita harus hindari ableism, perasaan bahwa semua itu memiliki kelebihan di atas penyandang disabilitas. Semua memiliki kesetaraan, kesamaan, hanya terdapat kebutuhan yang berbeda-beda. Nah, prinsip ini yang diadopsi di Jakarta. Maka dari itu, kami apresiasi MRT Jakarta yang sudah memfasilitasi,” kata Anies.

Sumber Berita / Artikel Asli : Akurat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here