Penajam Paser Utara, Lokasi Ibu Kota Baru RI yang Masih Sunyi

549

Benuo Taka. Kata dari bahasa Suku Dayak Paser itu berarti “Daerah Kita.” Kata itu menjadi semboyan di bagian bawah logo Kabupaten Penajam Paser Utara. Terpasang di kantor-kantor maupun fasilitas pemerintah Kabupaten yang namanya biasa disingkat PPU itu, dan juga di Gerbang Madani, salah satu landmark di wilayah tersebut.

Dalam hitungan tahun, wilayah di sebelah barat Kota Balikpapan Provinsi Kalimantan Timur itu akan menjadi wilayah sibuk setelah Presiden Jokowi mencanangkannya sebagai bagian dari lokasi Ibu Kota baru Republik Indonesia, bersama-sama dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. Jumlah penduduknya pun bakal meningkat tajam, ketimbang saat ini yang tak sampai 160 ribu jiwa, menurut data Biro Pusat Statistik setempat.

Berjarak sekitar 70 km dari Balikpapan, atau kurang lebih butuh dua setengah jam berkendara, memang tak banyak publik yang tahu soal wilayah Penajam Paser Utara ini. Pun juga banyak yang cuek dengan seluk-beluk kabupaten yang beribu kota di Penajam itu sampai Jokowi mengumumkannya pada 26 Agustus 2019.

Tak mengherankan, mengingat sebagian besar wilayah ini masih belum terjamah oleh proyek pembangunan maupun kegiatan bisnis. Namun, mulai saat ini, sudah banyak yang mulai mencari tahu soal Penajam Paser Utara, seperti apa wilayahnya, di mana letaknya, dan apa unggulannya?

Menurut lembaran “Kabupaten Penajam Paser Utara dalam Angka pada 2018”, berdasarkan posisi geografisnya, wilayah ini berbatasan dengan Kecamatan Loa Kulu dan Loa Janan di Kabupaten Kutai Kartanegara di sebelah utara; Kecamatan Samboja dan Kota Balikapapan serta Selat Makasar di sebelah timur; Kecamatan Long Kali, Kabupaten Paser di sebelah selatan; dan Kecamatan Bongan (Kutai Kartanegara) dan Kecamatan Long Kali (Paser) di sebelah barat.

Kabupaten Penajam Paser Utara sendiri terbagi dalam empat kecamatan, yaitu Babulu, Waru, Penajam dan Sepaku.

Menurut data BPS setempat, jumlah penduduk di Penajam Paser Utara dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2007 lalu, penduduk di wilayah ini sebanyak 130.668 jiwa. Sepuluh tahun kemudian, atau pada 2017, jumlahnya meningkat menjadi 157.711.

Namun, laju pertumbuhan di daerah itu rata-rata tidak sampai melebihi 2,5 persen – bahkan kenaikannya tidak sampai 2 persen sejak 2010 lalu. Pengecualian terjadi pada 2009, saat jumlah warganya meningkat 4,20 persen dari tahun sebelumnya, yakni dari 132.859 jiwa menjadi 137.165.

Di sektor pertanian, Penajam Paser Utara mengandalkan sejumlah komoditas palawija. Menurut data 2017, wilayah ini menghasilkan jagung (2.799 ton), kedelai (246 ton), dan kacang tanah (16 ton). Untuk sektor padi, wilayah ini memiliki sawah seluas 15.164 ha, lalu luas panen padi sawah sebesar 16.223 ha, sedangkan luas puso padi sawah 1.228 ha.

Di sektor perkebunan, wilayah ini mengadalkan sejumlah komoditas, antara lain kelapa sawit sebagai yang terbesar, diikuti oleh karet, kelapa, kopi dan lada.

Di sektor kelistrikan, pada 2017 Kabupaten Penajam Paser utara ini memproduksi 91.813.084 kwh dan memiliki pelanggan 39.142. Sedangkan untuk sarana perdagangan, wilayah ini memiliki 26 unit pasar dan sedikitnya 1991 pedagang yang terdaftar.

Dari segi bisnis dari pariwisata, Penajam Paser Utara ini tampak masih harus mengejar ketertinggalkan dengan kota-kota lain. Hingga 2017 lalu, jumlah hotel di sana hanya sebanyak 17 unit, hanya bertambah 3 dari tahun sebelumnya.  vivanews

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here