Opsi Memailitkan Garuda, Arief Poyuono: Kalau Soekarno Masih Hidup Pasti Ditempeleng itu Menteri

639
Erick Thoir

Kementerian Negara BUMN membuka opsi memailitkan Garuda Indonesia (GIAA) yang merugi USD 2,44 miliar. Tindakan tersebut dilakukan bila proses restrukturisasi utang dengan kreditur menemui jalan buntu.

Untuk mengantisipasi jika opsi penutupan Garuda dilakukan, Kementerian BUMN telah menyiapkan transformasi maskapai Pelita Air dari air charter sebagai maskapai full service domestik.

Politikus Partai Gerindra, Arief Poyuono pun langsung memberikan respons atas rencana kementerian BUMN itu.

“Ini dia kalau Menteri BUMN tdk punya rasa nasionalis & tdk tahu Garuda sbg Flag Carrier. dan punya Sejarah Besar bagi kemerdekaan Indonesia , kalu Sukarno msh hidup pasti ditempeleng itu menteri,” kata Arief Poyuono di akun Twitternya, Rabu (20/10/2021).

Arief Poyuono menyebutkan perbedaan Garuda Indonesia dengan Pelita Air. Terutama dari segi aset yang dikelola dua BUMN sektor transportasi udara itu.

“Beda ngurus grup perusahan yg aset cuma dibawah 1 T dengan ngurus BUMN yg asetnya ribuan trilyun.. lah ini pilotnya BUMN jam terbangnya belum memenuhi syarat dipake kangmas @jokowi. Mana ada CEO nya Temasek kacang kacangan.. kayak Super CEO nya BUMN Indonesia..,” sebutnya.

Sebelumnya, menurut Wakil Menteri II BUMN Kartika Wirjoatmodjo, negosiasi restrukturisasi utang GIAA dilakukan dengan seluruh lender, lessor pesawat, hingga pemegang sukuk global. Negosiasi moratorium utang dan restrukturisasi kredit dilakukan tiga konsultan yang ditunjuk Kementerian Negara BUMN.

“Kalau mentok ya kita tutup, tidak mungkin kita berikan penyertaan modal negara karena nilai utangnya terlalu besar,” kata Tiko, sapaan akrabnya.

Sebelas kreditur dalam negeri telah mencapai kesepakatan restrukturisasi utang pada September lalu. Meski demikian, negosiasi dengan kreditur dan lessor masih alot dan membutuhkan waktu yang panjang. Salah satu alasannya, pesawat yang digunakan Garuda dimiliki puluhan lessor. ’’Peluang 50:50,’’ ungkap Tiko, dalam diskusi dengan sejumlah pemimpin redaksi.

Tiko menilai opsi penutupan Garuda tetap terbuka meski berstatus sebagai maskapai flag carrier. Alasannya, saat ini sudah lazim sebuah negara tidak memiliki maskapai yang melayani penerbangan internasional.

Untuk melayani penerbangan internasional, maskapai asing akan digandeng sebagai partner maskapai domestik.

Tiko menyebut satu maskapai telah tertarik untuk menjadi partner maskapai internasional dengan kompensasi penerbangan umrah dan haji. ’’Pelita disiapkan menggantikan Garuda karena seluruh sahamnya dimiliki Pertamina,’’ terangnya.

Tiko mengungkapkan, masalah utama Garuda adalah biaya leasing yang melebihi kewajaran dan jenis pesawat yang digunakan terlalu banyak.

Sumber Berita / Artikel Asli : FAJAR

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here