Novel Baswedan Resmi Terima Tawaran Jadi ASN Polri, Refly Harun: Tidak Ada Makan Siang yang Gratis

277

Mantan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan akhirnya resmi menerima tawaran jadi ASN Polri.

Novel Baswedan mengungkapkan, alasannya menerima tawaran untuk menjadi ASN Polri adalah karena dirinya prihatin terhadap masifnya perilaku korupsi, sementara KPK sudah tidak lagi dipercaya publik.

Menurut Novel Baswedan, hal itu disebabkan bermasalahnya pimpinan KPK saat ini. Karenanya, dia beserta sejumlah mantan anggota KPK tak lulus tes wawasan kebangsaan (TWK) menerima tawaran tersebut meskipun dirasa sulit.

Surat pengangkatan Novel Baswedan dan puluhan mantan pegawai KPK lainnya sebelumnya telah diterbitkan oleh Kapolri melalui Peraturan Kepolisian RI Nomor 15 Tahun 2021.

Menanggapi hal ini, Pakar hukum tata negara Refly Harun menduga bahwa ada permainan di balik pengangkatan Novel Baswedan dan puluhan mantan pegawai KPK lainnya sebagai ASN Polri.

“Kalau kita lihat, sebenarnya game apa yang sedang dimainkan? Tidak mungkin yang namanya makan siang gratis,” kata Refly Harun, dikutip SeputarTangsel.Com dari kanal YouTube Refly Harun pada Selasa, 7 Desember 2021.

Meski begitu, Refly Harun berharap hal tersebut dilandasi oleh motivasi yang positif.

“Mudah-mudahan motivasinya motivasi yang positif. Mungkin saja (Kapolri) Sigit Listyo Prabowo menginginkan bahwa Polri menjadi champion dalam pemberantasan korupsi. Tentu dalam konteks ini, mereka hanya berwenang di wilayah pencegahan,” ujarnya.

Sayangnya menurut Refly Harun, institusi sudah lama bermasalah sehingga lahirlah KPK. Apabila Polri bisa menjadi institusi yang bersih, maka sebenarnya KPK tidak lagi dibutuhkan.

Refly mengatakan, bukan tidak mungkin bahwa Novel Baswedan dan puluhan mantan pegawai KPK lainnya kembali direkrut oleh lembaga antirasuah itu ketika ada pergantian kekuasaan.

Oleh sebab itu, dia pun menagih komitmen Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam memberantas korupsi.

“Memang Presiden Jokowi harus membuktikan apakah serius betul dalam memberantas korupsi atau cuma lip service,” tegasnya.

Alumni Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta itu pun kembali mengungkit adanya narasi-narasi taliban yang dituduhkan kepada Novel Baswedan dkk.

Ia mengaku heran mengapa Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengizinkan perekrutan ‘taliban’ ke dalam institusinya.

“Apakah Kapolri punya tujuan lain? Nanti kita lihat,” tuturnya.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Pikiran Rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here