Nasib PA 212 Ramai Dibahas, Rocky Gerung: Enggak Ada Imajinasi Selain ‘Cebong dan Kampret’ Selesai

305

Pengamat Politik, Rocky Gerung angkat suara soal nasib Presidium Alumni (PA) 212 yang ramai dibahas dan pernyataan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) soal oposisi.

Rocky Gerung menganggap Jokowi tidak jelas benar-benar ingin memiliki pihak oposisi.

Dilansir TribunWow.com, hal itu Rocky Gerung sampaikan melalui acara ‘Indonesia Lawyers Club’ unggahan kanal Youtube Indonesia Lawyers Club pada Selasa, (30/7/2019).

Menurut Rocky Gerung, Jokowi tidak jelas menyatakan dirinya ingin dikritik.

“Kan, Pak Jokowi bilang, kami memerlukan oposisi, oposisi maksudnya, memerlukan dikritik atau dia masuk? Itu didomestikasi,” ucap Rocky Gerung.

“Kita enggak jelas isi pembicaraan itu,” imbuhnya.

Selain itu, Rocky Gerung tutut menjelaskan mengapa masalah posisi PA 212 masih hangat dibincangkan.

Rocky Gerung menilai, posisi PA 212 masih ramai diperbincangkan, lantaran tak ada isu sosial lain yang diciptakan.

“Kenapa diskusi ini berlanjut terus, di segala macam sosial media, di pojok-pojok warung kopi?,” tanya Rocky Gerung.

“Karena enggak ada imajinasi sosial yang diucapkan oleh presiden selain cebong dan kampret sudah selesai,” ujarnya.

Rocky Gerung menegaskan, presiden hanya membahas soal prestasi-prestasi di masa lalu.

Sehingga, tak ada topik baru yang menghiasi perbincangan masyarakat.

“Ide tentang bernegara tak diucapkan oleh presiden, presiden hanya mengulangi prestasi selama dia berkuasa, empat tahun yang lalu lima tahun yang lalu, jadi kita tidak memiliki referensi apa sebetulnya berdemokrasi atau beroposisi,” tutur Rocky Gerung.

Lantas, ia kembali menegaskan PA 212 masih terus dibahas akibat sikap Presiden.

“Soal-soal sederhana ini terus diputer-puter, karena presiden sebagai kepala negara tidak mengucapkan sosial teks baru, karena itu dia bicara soal sosial teks lama.”

Rocky Gerung mengatakan, Presiden harus membuat topik sosial yang baru.

“Kemenangan itu seharusnya difungsikan New Kind of Social teks (Jenis sosial teks yang baru),” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Rocky Gerung juga memberikan tanggapannya soal posisi PA 212  setelah pertemuan para tokoh, seperti Prabowo Subianto dengan Jokowi.

“Jadi kalau ada pikiran bahwa 212 ini dipertanyakan eksistensinya hanya karena ada pertemuan antar tokoh politik seminggu ini, seolah-olah 212 permainan kemarin sore,” ucapnya.

Rocky Gerung melanjutkan, PA 212 juga bukan permainan politik Prabowo Subianto.

“Saya menangkap ada roh yang jujur pada gerakan itu lepas dari kontroversinya, 212 bukan permainan politik Prabowo,” lanjut Rocky Gerung.

Rocky menilai gerakan PA 212 harus dihargai oleh berbagai pihak.

“212 tidak memperoleh legitimasinya di Monas, atau kelanjutanya 414 atau dan seterusnya, 212 adalah teks sosial bangsa ini, hasil imajinasi bangsa ini dan kita mesti hormati itu,” katanya.

Sehingga ia menyayangkan, PA 212 dianggap gerakan radikal oleh beberapa kalangan.

“Ngaconya adalah seluruh konsep bernegara itu, lalu disederhanakan sebagai ancaman bahkan disebut teroris,” kata Rocky Gerung.

 

Diberitakan sebelumnya, dukungan PA 212  pada Prabowo Subianto disebut berangsur menjauh setelah pertemuan Prabowo Subianto dengan Jokowi pada 13 Juli 2019.

Ketua DPP Partai Gerindra,  Andy Rahmad Wijaya menganggap, hengkangnya PA 212 dari barisan pendukung Prabowo bukanlah hal besar lantaran pihaknya masih tetap memiliki banyak pendukung.

Hal itu terjadi dalam tayangan ‘Sapa Indonesia Malam’ yang dipandu oleh Aiman Witjaksono unggahan kanal YouTube KOMPASTV, Kamis (26/7/2019).

Melihat respons Andy, Aiman sang pembawa acara pun tertawa dan menyangka pihak Gerindra sudah tidak menganggap peran serta PA 212 dalam kubunya.

Awalnya, Andy tak menyangka Aiman akan bertanya soal mundurnya PA 212 dari kubunya dan menyangka semua pendukungnya masih setia.

“Sekarang Anda ditinggalkan oleh pendukung, salah satunya sudah mengemukakan,” ujar Aiman yang langsung dipotong oleh Andy.

“Belum,” potong Andy.

Aiman kemudian menjelaskan pendukung yang ia maksud adalah PA 212 yang lebih memilih menunggu aba-aba dari Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab.

“Sudah, kenapa saya menyatakan sudah, karena salah satu yang sudah menyampaikannya adalah PA 212, menyatakan bahwa ‘imam kami bukan Kertanegara, imam kami ada di Saudi, di Makkah’,” terang Aiman.

Andy pun langsung menyebut PA 212 bukanlah satu-satunya pendukung dan masih banyak pendukung lainnya yang masih bertahan.

.tribunnews

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here