Najwa Shihab Sebut Kesan Tutupi Rusuh Papua, Balasan Wiranto Menteri Jokowi Menohok di Mata Najwa

776

Beraninya Najwa Shihab Sebut Kesan Menutupi informasi Rusuh di Papua, Balasan Wiranto Menteri Jokowi Menohok

Wiranto sampai tak ingin lanjut diskusi di acara Talkshow Mata Najwa di Trans 7

TRIBUN-TIMUR.COM –  Serunya acara Talkshow Mata Najwa di Trans 7 tadi malam, Raabu (4/9/2019).

Sosok presenter andal Najwa Shihab dan timk membahas soal kerusuhan Papua.

Sejumlah pihak hadir di studio dan ada juga Menteri Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan ( Menkopolhukam) Wiranto tersambung via teleconfrence.

Dalam satu segmen, Menteri Jokowi cukup keras menegur presenter Najwa Shihab tak asal menuduh terkait Rusuh di Papua.

Dilansir TribunWow.com, pernyataan itu dilontarkan Wiranto saat dicecar pertanyaan soal informasi mengenai rusuh di Papua, dalam tayangan Mata Najwa, Rabu (4/9/2019).

Awalnya, Najwa Shihab menanyakan soal kondisi terkini di Papua yang disebut berangsur kondusif.

“Data yang kami himpun total ada 6.000 pasukan gabungan TNI-Polri di Papua dan Papua Barat,” ucap Najwa Shihab.

“Apakah memang perlu pasukan sebanyak itu Pak Wiranto?,” tanya Najwa Shihab.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Wiranto menjelaskan bahwa pasukan sebanyak itu memang dibutuhkan.

“Bukan untuk menekan, bukan untuk memerangi rakyat, bukan,” jawab Wiranto.

Najwa Shihab dan Wiranto saat membahas soal Papua di Mata Najwa, Rabu (4/9/2019)

Najwa Shihab dan Wiranto saat membahas soal Papua di Mata Najwa, Rabu (4/9/2019) (Facebook Live Trans7)

“Tetapi justru kita butuhkan untuk bagaimana menjaga masyarakat agar tidak menjadi korban, dari suatu kerusuhan.”

Wiranto lantas menjelaskan alasan lain penugasan ribuan aparat gabungan di Papua dan Papua Barat.

“Yang kedua juga kita butuhkan untuk melindungi obyek-obyek vital, obyek-obyek penting, instalasi-instalasi penting,” papar Wiranto.

“Fasilitas-fasilitas umum yang memang untuk publik, itu kalau tidak dilindungi, tidak dijaga, dibakar, dirusak, itu akan sangat merugikan rakyat sendiri.”

“Jadi jangan kemudian disalahtafsirkan dikirimkan justru untuk memerangi rakyat kita, tidak pernah.”

“TNI-Polri dipersenjatai, dilatih bukan untuk memerangi rakyat sendiri, tapi menjaga rakyat kita,” ungkap Wiranto.

Najwa Shihab kemudian menanyakan soal penilaian sejumlah kalangan terkait ribuan pasukan itu.

“Yang jelas sejumlah kalangan menilai pelibatan sebanyak itu justru menimbulkan kesan intimidatif,” kata Najwa Shihab.

“Bahkan tadi Pak Komarudin Watubun bercerita, di Jayapura ada aparat yang memegang senjata, seolah-olah sedang perang besar di sana,” sambung Najwa Shihab.

Menjawab hal itu, Wiranto kembali mengingatkan agar tidak berpikir sepihak.

“Ingat bahwa saat pasukan itu tidak ada, pasukan masih kurang, yang terjadi satu demonstrasi anarkis di banyak kota,” kata Wiranto.

“Yang kemudian membakar, merusak, apa jadinya kalau kemudian itu berlanjut bahkan terus berlanjut.”

“Kerusakan akan semakin parah, jadi tolong berpikir positif, jangan berpikir negatif.”

“Kembali tadi saya katakan, bahwa pasukan dikirimkan, bukan untuk menakut-nakuti rakyat, tetapi untuk menjaga agar situasi menjadi kondusif,” jelas Wiranto.

Selain itu, kehadiran aparat di sana juga untuk mencegah adanya konflik-konflik horizontal yang bisa merugikan rakyat.

Najwa Shihab kemudian menyinggung soal kesimpangsiuran informasi.

“Pak Wiranto, bentrok yang terjadi sempat simpang siur jumlah korbannya Pak, terutama di Deiyai,” ujar Najwa Shihab.

“Anda bahkan sempat menolak jumlah korban, kenapa Pak? Ada kesan menutup-tutupi informasi?”

Mendengar hal itu, Wiranto langsung meminta Najwa Shihab tidak asal menuduh.

Ia menjelaskan bahwa informasi yang disampaikan haruslah jelas dan akurat.

“Jangan nuduh seperti itu ya, sama sekali tidak, kita tidak sembarangan menyebutkan korban, sebelum ada laporan yang jelas,” jawab Wiranto.

“Karena beritanya memang simpang siur.”

“Di beberapa tempat memang jauh ya dari perkotaan, dan kemudian memang internet sedang dilemotkan, sehingga informasi juga tidak secepat yang di Jakarta.”

“Jangan sampai kemudian kita menuduh menyembunyikan itu, tidak sama sekali,” ungkap Wiranto.

Menanggapi hal itu, Najwa Shihab lantas menanyakan jumlah korban terupdate.

“Jumlah korban sekarang bisa dikonfirmasi ada berapa banyak Pak Wiranto?,” tanya Najwa Shihab.

“Saya mendapatkan laporan tadi dari Pak Tito, Kapolri yang sementara ada di Jayapura, juga panglima TNI,” ucap Wiranto.

“Mengapa beliau berdua di sana? Untuk langsung melihat, memantau kondisi di sana.”

“Untuk bisa mengendalikan langsung agar kondisi yang sudah kondusif ini lebih terus dapat dipertahankan, dirawat, dan lebih kondusif lagi,” sambungnya.

Wiranto kemudian memberikan rincian korban rusuh di Papua.

“Dari laporan yang saya terima tadi, memang jumlah korban sementara ini yang dilaporkan ya, dari TNI ada 1 yang meninggal, yang luka-luka di Jayapura itu atau Deiyai, ada 2 TNI yang luka parah, 3 dari kepolisian.”

“Kemudian ada 6 dari masyarakat yang meninggal, kemudian dari Papua Barat hanya ada yang luka-luka tidak ada yang meninggal,” ungkapnya.

Wiranto menegaskan, terkait informasi korban dan lain sebagainya, masyarakat diimbau untuk mengacu pada laporan aparat yang terjun langsung di lokasi, termasuk melalui pemerintah.

Najwa Shihab kemudian menyoroti soal aksi pelemotan jaringan internet di Papua.

“Soal pembatasan internet ini juga menjadi sorotan tajam,” kata Najwa Shihab.

“Dan kalau melihat sebelumnya pun pemerintah sempat mengambil langkah ini ketika kasus di Jakarta, pascapemilu.”

“Apakah memang akan menjadi ‘senjata’ negara begitu, setiap menghadapi kerusuhan internet akan dibatasi?”

Wiranto lantas menjelaskan bahwa tindakan pembatasan internet bukan ‘senjata’.

“Itu bukan ‘senjata’, bukan cara terbaik, kita sangat menyesalkan dan minta maaf kalau itu kita lakukan,” ujar Wiranto.

“Tapi ingat ya, bahwa internet saat ini merupakan bagian dari denyut nadi kehidupan masyarakat”

“Kita paham betul karena dengan internet itu kita memajukan pendidikan, bisa membantu pemerintah bisa membuat keputusan yang cepat, pelayanan publik yang lebih cepat lagi,” ucapnya.

Selain menyebutkan kelebihan internet, Wiranto juga menyoroti dampak negatifnya.

“Tetapi sayangnya internet tidak bisa kita pisahkan dari komunikasi-komunikasi untuk kejahatan, terorisme, narkoba, sekarang menyangkut rakyat, menyangkut hal-hal yang anarkis,” tutur Wiranto.

“Itu juga menggunakan perangkat yang sama, alat yang sama, memang sangat dilematis, kalau kita biarkan maka penggunaan internet akan membuat masalah tidak terselesaikan.”

“Bahkan lebih luas lagi berkembang, maka dengan sangat menyesal sementara kita lemotkan, tidak kita tutup, kita lemotkan.”

“Agar pemberitaan-pemberitaan, gambar-gambar bisa kita cegah untuk menjadi sumber masalah, hoaks, berita-berita provokasi, sementara bisa kita redam.”

“Dan nyatanya memang seperti itu, tapi itu kan hanya sementara, pada saat kondusif, sudah bagus, kita akan aktifkan kembali,” ungkap Wiranto.

Tonton videonya di bawah ini mulai menit awal:

Asmara Najwa Shihab dan Suami Terungkap di Media, Sumber Uang hingga Urusan di Kasur

Seiring semakin terkenalnya Najwa Shihab di dunia entertainment Indonesia, keluarganya tidak luput dari perhatian.

Sosok presenter yang dikenal tegas dan cerdas itu diketahui menikah di usia muda.

Makanya di usia yang cukup muda, dirinya sudah punya anak remaja berumur 17 tahun.

Putri Quraish Shihab ini terlihat jarang berbicara tentang kehidupan rumah tangganya.

Siapa sangka suaminya Ibrahim Assegaf punya pekerjaan dan sumber penghasilan yang tak kalah keren loh

Awalnya dirinya sempat menggeluti dunia media, kini sudah pindah ke bidang pengacara (Lawyering).

Hal tersebut diungkapkan Najwa Shihab saat diwawancarai Alvin Adam di Channel YouTube Alvin and Friends.

(TRIBUNTIMUR/RASNIGANI)

Ungkap Urusan Ranjang

Namun dilansir dari YouTube channel Trans7 Official saat menjadi bintang tamu program Hitam Putih awal tahun 2018, Nana justru blak-blakan membcarakan kisah cintanya.

Hal ini bermula dari hadirnya sang suami, Ibrahim Assegaf di panggung Hitam Putih.

Beda usia 6 tahun, kisah cinta Nana dan Ibrahim ternyata cukup unik.

Sama-sama menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia, keduanya ternyata bertemu di kampus.

Saat itu Nana menjadi mahasiswa baru, sedangkan Ibrahim baru mau menyelesaikan kuliahnya.

“Ketemu di kampus karena Nana kebetulan ikut pertukaran pelajar, keluarga kita juga sama-sama kenal dan saya baru pulang magang dari Amerika terus orang tua saya suruh ketemu Nana,” kata Ibrahim pada Deddy Corbuzier.

Sejak pertemuan itulah akhirnya Nana dan Ibrahim makin klop dan merasa cocok.

Tak hanya itu, menurut Ibrahim yang membuat dirinya lulus kuliah justru adalah Nana.

“Karena diancem sama bapaknya, ‘kalau kamu serius mau kawin kamu harus lulus dulu’,” kata Ibrahim menirukan perkataan ayah Nana.

Dan karena ancaman itulah Ibrahim berhasil lulus kuliah dan menikahi Najwa Shihab.

Menikah sejak tahun 1997, presenter cantik berusia 41 tahun ini telah dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Izzat Ibrahim, dan Namia yang telah meninggal 4 jam pasca dilahirkan.

Melansir Dari YouTube Trans7 Official, dalam program Hitam Putih awal tahun 2018, untuk pertama kalinya Ibrahim bersedia diundang sebagai bintang tamu di acara televisi seperti diwartakan dalam NOVA.id edisi Jumat, 12 September 2018.

Dalam acara yang dipandu Deddy Corbuzier ini, mereka pun akhirnya membahas kehidupan Najwa Shihab di balik layar kaca.

Tanpa basa-basi, Deddy langsung bertanya pada Ibrahim mengenai sosok Najwa sebagai istrinya.

Blak-blakan, suami yang menikahi Najwa sejak tahun 1997 ini pun membongkar segala kelakuan Najwa di rumah.

“Kalau di rumah santai, ramah, banyak ketawa. Tapi kadang saya sering ditanya apa saya sering dimarahin terus dicecar terus, tapi sebenarnya sama sekali tidak,” jawab Ibrahim.

Menimpali jawaban sang suami, Najwa pun langsung berkomentar.

“Orang tuh suka melihat seminggu sekali Najwa berhadapan dengan politisi nih pasti Najwa setiap hari begini nih, padahal kalau di layar kaca saya melakukan tugas sebagaimana pekerjaan saya, tapi sebagai ibu dan istri di rumah ya saya santai,” kata Najwa.

Tak hanya itu, Ibrahim juga membongkar rahasia bahwa sebenarnya Najwa tak bisa masak, dan justru ia lah yang lebih jago masak dari pada sang istri.

Dan siapa sangka perbincangan mereka pun sampai membahas urusan ranjang loh.

“Pertanyaan seputar ranjang, apakah Najwa Shihab itu ngorok?” tanya Deddy.

Tanpa pikir panjang Ibrahim pun menjawab, “Lebih kenceng saya, soalnya saya gak pernah komplain dan dia yang sering komplain.”

Jawaban pria yang berprofesi sebagai lawyer ini pun langsung mengundang tawa seisi studio.

Terakhir, Ibrahim mengungkap jika Najwa adalah sosok yang relatif penyabar, sangat perhatian serta bisa membagi waktu antara kesibukannya dengan waktu untuk keluarganya.

Dan momen kebersamaan mereka berdua ini membuktikan jika seorang Najwa Shihab tak hanya sukses menjadi pembawa acara ternama, namun juga sukses menjadi istri dan ibu di dalam keluarganya.(*)

tribunnews

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

75 − 71 =