Menhan sebut China bisa saja invasi Taiwan tahun 2025, tapi…

477
Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China. Foto: TRT World

Beberapa waktu belakangan, hubungan antara China dan Taiwan kian memanas. Bahkan, ketegangan militer ini disebut oleh Menteri Pertahanan Taiwan sebagai titik terburuk dalam lebih dari 40 tahun. Bahkan, Chiu menyebut China bisa saja menyerang dan invasi Taiwan dalam waktu dekat.

Menteri Pertahanan Taiwan, Chiu Kuo-cheng mengatakan kepada anggota Parlemen Taiwan bahwa saat ini ketegangan militer Taipei dengan Beijing mengalami situasi yang paling serius dalam lebih dari 40 tahun sejak ia bergabung dengan militer. Chiu juga menambahkan bahwa ada risiko salah sasaran dari ketegangan yang terjadi antara dua wilayah ini.

“Bagi saya seorang militer, urgensinya tepat di depan saya,” kata Chiu kepada Parlemen, disitat Reuters, Rabu 6 Oktober 2021.

Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China. Foto: CGTN
Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China. Foto: CGTN

Chiu juga mengatakan bahwa China sudah memiliki kemampuan untuk menyerang Taiwan dan bisa saja melakukan invasi skala penuh pada tahun 2025 mendatang.

Kendati begitu, Chiu menjelaskan, bahwa China tidak bisa dengan mudahnya melakukan invasi terhadap Taiwan, karena banyak hal yang harus dipertimbangkan dari berbagai sisi.

“Pada tahun 2025, China akan membawa biaya dan gesekan ke titik terendah. Mereka memiliki kapasitas sekarang, tapi tidak akan memulai perang dengan mudah, karena harus mempertimbangkan banyak hal lain,” ujar Chiu.

Taiwan-China panas

Seperti diketahui, hubungan Taiwan dan China belakangan memanas, dimulai dari Hari Nasional perayaan hari jadi Republik Rakyat China pada 1 Oktober lalu, di mana Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) mengirim 38 jet tempur mereka ke langit Taiwan. Kemudian di hari berikutnya dilaporkan PLA kembali mengirim 20 dan 39 jet tempur mereka ke ADIZ Taiwan.

Melihat hal itu, Amerika ikut campur dengan mengatakan prihatin atas aksi China tersebut, seraya mengatakan bahwa langkah pengerahan jet itu adalah provokatif. Mendengar pernyataan AS tersebut, China tak tinggal diam dan malah mengirim 52 jet tempur mereka ke langit Taiwan pada Senin (4/10) lalu. Total, China sudah mengerahkan hampir 150 jet tempur mereka ke langit Taiwan dalam empat hari pertama bulan Oktober.

Jet elektronik China. Foto: Taiwan News
Jet elektronik China. Foto: Taiwan News

China daratan sendiri menganggap hanya ada satu China, dan Taiwan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari mereka. Di mata China, Taiwan merupakan sebuah provinsi. Sementara Taiwan menganggap bahwa mereka sudah merdeka, meski mendapat pengakuan resmi hanya dari sedikit negara di dunia.

Taiwan atau Republic of China (ROC) mempertahankan posisi yang ‘ambigu’ sejak lama. Mereka memiliki pemerintahan, presiden, militer, mata uang, paspor sendiri, layaknya negara yang sudah merdeka pada umumnya, namun posisinya di dunia tidak seperti negara yang berdaulat penuh.

Taiwan juga lebih memilih mempertahankan status quo, yang berarti beroperasi secara terpisah dari Republik Rakyat China (RRC), daripada benar-benar pisah dari RRC yang bisa memicu serangan dan bahkan pertempuran

Beijing sendiri telah berjanji untuk menyatukan Taiwan dengan China daratan pada tahun 2049 mendatang, satu abad setelah Kuomintang membentuk pemerintahan alternatif di Taiwan setelah beberapa dekade perang saudara.

Sumber Berita / Artikel Asli : HOPS

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

8 + 1 =