Mbah Maimun Zubair Meninggal Dunia, Ini Kenangan tentang Sosoknya…

492

JAKARTA – Salah satu ulama besar di Indonesia, KH Maimun Zubair meninggal di Mekah, Arab Saudi, Selasa (6/8/2019).

Menurut Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa, sosok yang biasa disapa Mbah Maimun itu meninggal dunia saat ibadah haji.

“Saya dapat informasi dari Gus Rozin, staf istana yg ada di Mekkah,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa pagi. Siapa sosok Mbah Maimun?

Mbah Moen, demikian kadang ia disapa, memiliki nama lengkap Kiai Haji Maimun Zubair.

Dikutip dari nu.or.id, Mbah Moen merupakan seorang alim, faqih sekaligus muharrik (penggerak).

Ia juga merupakan salah satu tokoh sepuh di Partai Persatuan Pembangunan, dan dikenal sebagai pimpinan Pondok Pesantren Al Anwar di Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Dengan kedalaman ilmu dan kharismanya, Mbah Maimun Zubair diangkat sebagai Ketua Dewan Syuro Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia lahir pada 28 Oktober 1928, di Sarang, Rembang, Jawa Tengah, dan putra dari Kiai Zubair.

Ayahnya seorang alim dan faqih yang merupakan murid dari Syaikh Saíd al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al-Makky. Dengan latar belakang orangtuanya, Mbah Maimun kemudian memiliki basis pendidikan agama yang sangat kuat.

Ia kerap menjadi rujukan ulama Indonesia dalam bidang fiqh karena menguasai secara mendalam ilmu fiqh dan ushul fiqh.

Mbah Maimun pernah belajar mengaji di Pesantren Lirboyo, Kediri, di bawah bimbingan Kiai Abdul Karim.

Saat berguru di Lirboyo, ia juga mengaji kepada Kiai Mahrus Ali dan Kiai Marzuki.

Mbah Maimun merupakan kawan dekat dari Kiai Sahal Mahfudh, yang sama-sama santri kelana di pesantren-pesantren Jawa, sekaligus mendalami ilmu di tanah Hijaz. Belajar mengaji ke Mekah Mbah Maimun pernah belajar mengaji hingga ke Mekah saat berusia 21 tahun.

Ia berada di bawah bimbingan Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly dan beberapa ulama lainnya.

Selain itu, Mbah Maimun juga mengaji ke beberapa ulama di Jawa.

Para ulama itu di antaranya Kiai Baidhowi, Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), dan Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban). Mbah Maimun juga menulis kitab-kitab yang menjadi rujukan santri seperti kitab berjudul Al-Ulama Al-Mujaddidun.

Setelah kembali dari Mekah, ia mengabdikan diri untuk mengajar di Tanah Air. Mbah Maimun mulai mengembangkan Pesantren al-Anwar Sarang pada 1965.

Pesantren ini menjadi rujukan santri untuk belajar kitab kuning dan mempelajari turats secara komprehensif.

Di dunia politik, Mbah Moen pernah menjadi anggota DPRD Rembang selama 7 tahun. Ia juga pernah menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah.

Dalam beberapa kesempatan, ia kerap mengingatkan kepada rakyat Indonesia akan pentingnya menjunjung dan menjaga keutuhan bangsa dan negara. Menurut Mbah Maimun, dalam setiap perbedaan ada titik-titik kebersamaan.

Agama mengajarkan perbedaan tetapi ada titik persamaan, yaitu seluruh agama mengajarkan kebaikan. “Perbedaan tak perlu dibesar-besarkan sehingga kita bisa hidup rukun,” kata Mbah Moen seperti dilansir Majalah Nahdlatul Ulama AULA edisi November 2016.

kompas

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here