Kurang Paham Prosedur, Pria Ini Meninggal Usai Dua Kali Vaksin di Hari yang Sama, Miskomunikasi Nakes?

695

Seorang pria malang bernama Hartijo (49) meninggal dunia usai divaksin dua kali di hari yang sama oleh nakes berbeda.

Hal itu rupanya terjadi karena korban kurang paham prosedur, ditambah lagi dengan miskomunikasi yang diduga terjadi antara pihak nakes alias tenaga kesehatan.

Hingga saat ini, kasus kematian Hartijo setelah menerima dua kali vaksin Covid-19 dalam sehari masih terus ditelusuri.

Sebelumnya dikabarkan bahwa warga Batam itu meninggal dunia setelah divaksin Sinovac dua kali dalam vaksinasi massa yang digelar oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepri pada Minggu, 11 Juli 2021 lalu.

Ia sempat dirawat di RSBK Batam sebelum dinyatakan meninggal dunia pada Rabu kemarin, 28 Juli 2021.

Hartijo diketahui disuntik oleh dua orang vaksinator yang berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan dalam kurun satu hari.

“Dari hasil Swab terhadap Hartijo, almarhum juga dinyatakan positif Covid-19,” jelas Ketua RT 01, Ery Syahrial, saat ditemui di rumah duka, dikutip dari Suara, jaringan terkini.id, pada Kamis, 29 Juli 2021.

Berdasarkan keterangan keluarga, almarhum sempat mengalami penurunan kesehatan setelah proses vaksinasi tersebut.

“Karena istri dan anak almarhum juga tidak bisa kita temui langsung. Mereka sedang isolasi mandiri di rumah,” papar Ery.

Hartijo juga menceritakan proses vaksinasi terhadap dirinya kepada warga saat rapat persiapan Iduladha yang dilaksanakan di musala perumahan sebelum meninggal dunia.

“Siangnya, almarhum vaksin, malamnya ikut rapat bersama warga, tapi undur diri duluan karena bilang gak enak badan.”

Dalam pertemuan tersebut, Hartijo menyebut bahwa saat dirinya menerima vaksin, penyelenggara bahkan mempertanyakan kenapa almarhum bisa mendapatkan dua dosis dalam waktu bersamaan.

Hal itu kemudian menimbulkan pertanyaan lain bagi keluarga almarhum lantaran seharusnya hal ini menjadi tanggung jawab penyelenggara dan vaksinator.

Saat mendatangi lokasi vaksinasi massal, Hartijo dijelaskan seharusnya mendapat dosis pertama.

Namun, usai disuntik oleh salah satu vaksinator, Harjito justru diarahkan relawan menuju vaksinator lain untuk kembali vaksinasi hingga ia mendapat suntikan kedua.

“Jadi setelah disuntik pertama, almarhum duduk dan istirahat. Namun, di saat itu ada relawan yang mengarahkan dia ke vaksinator lain dan dia disuntik lagi. Almarhum ini belum pernah mengetahui bagaimana prosedur vaksinasi sebenarnya.”

Usai peristiwa itu, kondisi kesehatan Hartijo juga semakin mengalami penurunan di mana pada tanggal 13 Juli sempat berkomunikasi dengan dokter yang kontaknya tertera di kartu vaksinasi, tetapi sayangnya tidak mendapat tanggapan.

Almarhum mengaku awalnya hanya mengalami asam lambung, tetapi kemudian semakin parah hingga akhirnya demam.

Sempat dirawat di rumah, almarhum kemudian dibawa oleh keluarga ke RSBK Batam pada Kamis lalu, 22 Juli 2021, dengan kondisi menunjukkan gelaja Covid-19.

“Positif itu setelah hasil swab almarhum keluar tanggal 24 Juli. Di RSBK dia dikarantina di ruang khusus hingga akhirnya meninggal dunia kemarin dan dimakamkan secara prosedural Covid-19.

Keluarga sudah meminta penjelasan dari pihak penyelenggara mengenai prosedur vaksinasi yang didapatkan oleh almarhum.

Namun, hingga saat ini pihak Apindo Kepri masih bungkam. Bahkan menyatakan bahwa kematian dan sakit yang dialami oleh almarhum murni dikarenakan Covid-19.

“Sampai saat ini kita tetap meminta penjelasan. Apabila masih belum mendapat tanggapan, nanti setelah isoman istri almarhum sudah selesai, kami akan melaporkan hal ini ke pihak Kepolisian,” tandas Erry.

Sumber Berita / Artikel Asli : Terkini

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 64 = 73