Konflik Lahan Berakhir Pembunuhan, Preman Berkedok Ormas Disebut Hasut Petani Indramayu

384

INDRAMAYU – Aksi premanisme di ladang tebu Pabrik Gula Jatitujuh yang menewaskan dua petani asal Majalengka menjadi perhatian banyak pihak.

Konflik lahan di perbatasan Kabupaten Indramayu dan ajalengka, Jawa Barat tersebut berakhir dengan peristiwa berdarah.

Dua petani asal Majalengka yaitu Yayan dan Suhenda tewas berdarah-darah dikeroyok oleh penggarap asal Indramayu, Senin (4/10/2021) kemarin.

Kapolres Indramayu, AKBP M Lukman Syarif, mengatakan, kejadian berdarah itu dilatarbelakangi oleh para gerombolan preman.

Mereka mengatasnamakan diri ormas Forum Komunikasi Masyarakat Indramayu Selatan (FKamis) dengan menghasut para petani untuk melakukan penyerangan.

Sudah ada 26 orang yang diamankan untuk dimintai keterangan, sebanyak 10 di antaranya merupakan pentolan FKamis.

“Kurang lebih ada 10 orang pentolan-pentolan FKamis dan juga petani penggarap kita amankan juga sebagai saksi,” ujar Kapolres.

Salah satu dari orang yang diamankan polisi disebut-sebut adalah anggota DPRD Indramayu. Namun hingga kini belun ada kejelasan mengenai keterlibatannya.

Advertisement by

Tidak Sabar

Bupati Indramayu, Nina Agustina, mengutuk aksi premanisme yang melatarbelakangi terjadinya insiden berdarah di lahan tebu PG Jatitujuh di perbatasan Indramayu-Majalengka, Jawa Barat.

Nina Agustina mengatakan, pihaknya mendukung penuh tindakan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas tragedi tersebut.

“Premanisme ini tentunya tidak kita halalkan,” ujar dia kepada Tribuncirebon.com, Selasa (5/10/2021).

Nina Agustina mengatakan, tindakan premanisme tersebut membuat semua masyarakat merasa tidak nyaman.

Sebagai kepala daerah, pihaknya akan melindungi dan menjaga masyarakat dari aksi premanisme tersebut.

Masih disampaikan Nina Agustina, konflik ini terjadi beberapa bulan terakhir, padahal pihaknya sudah memfasilitasi para petani penggarap lahan tebu tersebut untuk bisa bermitra dengan PG Jatitujuh.

“Tapi karena ketidaksabaran atau sudah berlarut larut, akhirnya meledak,” ujar dia.

PG Jatitujuh Harus Tanggung Jawab

Sementara Bupati Majalengka Karna Sobahi meminta BUMN produsen gula PG 7 untuk turut bertanggung jawab terkait kasus perampasan nyawa di ladang tebu.

Karna Sobahi meminta PG Jatitujuh selaku pemilik lahan kawasan perkebunan tebu untuk memberikan perhatiannya kepada keluarga korban.

“Baik memperhatikan secara moril, materi maupun lainnya. Kami juga dari pemerintah daerah tidak akan lepas tangan untuk ikut membantu keluarga korban,” kata Karna Sobahi saat meninjau kediaman keluarga korban perampasan di ladang tebu di Desa Jatiraga Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Indramayu.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Majalengka itu menemui keluarga Yayan dan Suhenda di Desa Sumber Kulon. Ternyata diketahui, keluarga korban perampasan nyawa di ladang tebu itu masih punya anak.

“Apalagi dari dua korban ini, meninggalkan anak-anaknya yang masih usia sekolah,” ucapnya.

Bupati Indramayu, Nina Agustina
Bupati Indramayu, Nina Agustina (Kompas TV)

Saat mengunjungi rumah Suhenda, orang nomor satu di Majalengka ini langsung menyalami istri korban, Nani (26).

Bukan tanpa alasan, Karna tak menyangka korban meninggalkan istri yang saat ini sedang mengandung anak keduanya, usia kandungannya 7 bulan.

Sontak, Karna Sobahi tak luput merasakan kesedihan yang mendalam dan mengajak Nani untuk tegar menerima kenyataan yang sedang dialami saat ini.

“Saya tentunya turut berbelasungkawa kepada keluarga korban atas peristiwa yang kita semua tidak menginginkan. Semoga keluarga bisa tabah, tegar, selalu bertawakal,” ujar Karna saat memberi bantuan yang langsung diterima istri korban, Selasa (5/10/2021).

Sementara itu, Nani istri dari Suhenda mengucapkan terima kasih kepada Bupati Majalengka dan unsur lainnya atas perhatian yang diberikan.

Nani mengaku akan coba menerima kenyataan ini meski merasa sulit.

“Terima kasih Pak Bupati. Insyaallah saya ikhlas,” jelas dia.

Informasi yang diterima, korban Suhenda dan Nani menikah selama kurang lebih delapan tahun lalu.

Keluarga tersebut telah dikaruniai seorang anak dan sang istri sedang mengandung untuk anak keduanya.

Sementara, korban Yayan meninggalkan 5 orang anak dan seorang istri. Keduanya kini telah tiada dan harus lebih dahulu menghadap Illahi.

Seperti diberitakan sebelumnya, terjadi perselisihan di ladang tebu di perbatasan Kabupaten Indramayu dan Majalengka, Senin (4/10/2021).

Perselisihan itu mengakibatkan terenggutnya nyawa dua warga asal Kabupaten Majalengka bernama Suhenda dan Yayan.

Polisi mengamankan 19 orang setelah terjadi insiden berdarah di lahan tebu PG Jatitujuh di perbatasan Indramayu-Majalengka, Senin (4/10/2021). Mereka diamankan di Mapolsek Cikedung Indramayu.
Polisi mengamankan 19 orang setelah terjadi insiden berdarah di lahan tebu PG Jatitujuh di perbatasan Indramayu-Majalengka, Senin (4/10/2021). Mereka diamankan di Mapolsek Cikedung Indramayu. (Handhika Rahman/Trbun Jabar)

Dua korban sendiri merupakan kelompok dari kemitraan PG Jatitujuh yang berselisih lahan dengan kelompok Forum Komunikasi Masyarakat Indramayu Selatan (FKamis) Kabupaten Indramayu.

Peristiwa tersebut terjadi di petak 112 wilayah Kerticala, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu sekitar pukul 11.00 WIB kemarin.

Diminta jangan garap lahan dulu

Demi kondusifitas, Polres Majalengka meminta kepada seluruh petani di Majalengka agar tak lebih dulu untuk menggarap lahan tebu di kawasan PG Jatitujuh.

Pasalnya, pihaknya menginginkan permasalahan yang ada saat ini harus diselesaikan terlebih dahulu.

Sehingga, tak ada lagi korban jiwa dalam perselisihan lahan tersebut.

Hal itu diungkapkan Kapolres Majalengka, AKBP Edwin Affandi saat memberi imbauan di kedua rumah korban di Desa Jatiraga dan Desa Sumber Kulon, Selasa (5/10/2021).

Edwin mengatakan, agar para penggarap di Majalengka menunda pelaksanaan penggarapan lahan untuk sementara waktu.

“Untuk sementara, pelaksanaan penggarapan lahan dihentikan sementara. Demi kondusifitas dan tak ada lagi korban,” ujar Edwin.

Pihaknya berjanji, akan melakukan koordinasi lebih intens kepada pihak terkait demi membantu para petani agar bisa menggarap lahan tebu lagi.

Untuk saat ini, proses hukum bagi para pelaku yang telah ditangkap bisa dipastikan terus berjalan.

“Hari ini ada 26 orang yang diminta keterangan. Semoga Polres Indramayu bisa segera mengungkap siapa pelakunya,” ucapnya.

Terkait penangkapan terhadap Ketua FKamis yang diduga kelompok yang melakukan penyerangan, Edwin mengaku ikut andil dalam menangkap orang tersebut.

Hal itu dilakukan pada hari kemarin paska insiden berdarah yang menghilangkan nyawa dua warga Kabupaten Majalengka.

“Jadi, beberapa hari kemarin sudah ada orang Indramayu yang dibacok juga yang dilakukan FKamis. Kami bersama Polres Indramayu, telah menangkap di Desa Amis, inisial T,” jelas dia.

Seperti diketahui, perselisihan lahan berujung maut terjadi di perbatasan Kabupaten Indramayu dan Majalengka, Senin (4/10/2021).

Perselisihan itu mengakibatkan renggutnya dua warga asal Kabupaten Majalengka bernama Suhenda dan Yayan.

Dua korban sendiri merupakan kelompok dari kemitraan PG Jatitujuh yang mana berselisih lahan dengan kelompok Forum Komunikasi Masyarakat Indramayu Selatan (FKamis) Kabupaten Indramayu.

Peristiwa tersebut terjadi di petak 112 wilayah Kerticala, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu sekitar pukul 11.00 WIB kemarin.

Sumber Berita / Artikel ASli : .tribunnews

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here