Kisah Haru Rumini yang Ditemukan Meninggal Berpelukan dengan Ibu nya, Namanya Harum dan Dipeluk Warga Langit

682

Rumini (28) wanita cantik asal Desa Curah Kobokan, Kecamatan Candipuro, Lumajang Jawa Timur, yang ditemukan meninggal berpelukan dengan ibu nya, telah mengajarkan tentang bagaimana mencintai seorang ibu.

Rumini tidak rela meninggalkan Ibunya Salamah (70) yang sudah tidak kuat berjalan apalagi lari untuk menyelamatkan diri saat terjadi erupsi Gunung Semeru pada Sabtu 4 Desember 2021.

Kesempatan untuk selamat dari sapuan awan panas erupsi Gunung Semeru sebenarnya bisa dilakukan oleh Rumini.

Namun rasa sayang dan cintanya pada seorang ibu melebihi rasa sayang pada dirinya. Rumini memilih untuk melindungi sang ibu dari panasnya wedus gembel dari letusan Semeru.

Keduanya meninggal dunia dengan cara berpelukan. Jasad Rumini dan Salamah ditemukan pihak keluarga di bagian dapur rumahnya  dalam posisi berpelukan.

Rizki Ilham Ramadan relawan kemanusiaan di Semeru di akun instagram @mountainsiana menulis takjub dengan kisah Rumini. Katanya, Rumini sudah mengajarkan tentang bagaimana mencintai dan berbakti kepada orang tua, terutama ibu.

“Kami seluruh relawan di Semeru tak kuasa membendung haru, Rumini telah ajarkan kami tentang kesungguhan mencintai dan berbakti kepada ibu. Angkat topi sejuta kali untukmu, Rumini.Tak terasa air mata menetes menulis kisahmu. Alfatihah,” tulisnya.

Anak dan suami Rumini selamat, anaknya dibawa oleh adik ipar Salamah menyelamatkan diri berlari ke luar rumah saat tahu gunung Semeru mengeluarkan awan panas.

Sedangkan suami Rumini masih di tempat kerja. Rumini memilih tinggal di dalam rumah dari pada menyelamatkan diri bersama warga lainnya.

Kisah pengorbanan yang dilakukan rumini pada erupsi Gunung Semeru telah membuat banyak orang kagum. Rumini mengajarkan tentang pengabdian kepada seorang ibu.

Rizky Ilham Ramadan menulis jika nama Rumini tidak hanya harum di dunia saja, tetapi juga harum di langit. Warga langit menyambut ruh Rumini yang baunya mewangi.

Jasadnya terbakar oleh panasnya semburan wedus gembel, tetapi ruhnya harum mewangi dan dipeluk oleh seluruh penduduk langit.

Gunung Semeru meletus dan mengeluarkan lava pijar pada Sabtu 4 Desember 2021. Ribuan rumah warga di Lumajang rusak akibat semburan awan panas dan tertutup lahar.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan, sebanyak 22 orang meninggal dunia akibat awan panas guguran Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

“Data pukul 17.30 WIB, jumlah korban meninggal yang dilaporkan Pusdalops BNPB itu 22 orang,” kata Abdul Muhari dalam konferensi pers yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin 6 Desember 2021.

Abdul Muhari merinci jumlah korban meninggal dunia akibat erupsi Gunung Semeru di Lumajang yang dilaporkan sebanyak 14 orang di Kecamatan Pronojiwo dan delapan orang di Kecamatan Candipuro.

Delapan jenazah di Kecamatan Candipuro, terdapat satu jenazah korban ditemukan di Dusun Kebondeli Selatan, pukul 15.45 WIB, yang masih belum teridentifikasi.

Gunung Semeru mengalami letusan dan terekam sejak tahun 1818 hingga tahun 1913. Kemudian terjadi letusan lagi pada tahun 1941- 1942. Aktivitas vulkanik pada tahun itu dengan durasi panjang.

Aktifitas vulkanik Semeru juga tercatat pada tahun 1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1952, 1953, 1954, 1955 – 1957, 1958, 1959, 1960. Dan pada tahun 1977 Gunung Semeru kembali mengeluarkan abu vulkanik. ***

Sumber Berita / Artikel Asli : Pikiran Rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 62 = 70