Ketegangan Hubungan China dan Indonesia Meningkat di Natuna Utara, Diamnya Presiden Jokowi Dipertanyakan

591
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) bersama dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Hubungan antara China dan Indonesia kini tengah memanas, usai pemerintah negeri Tirai Bambu itu menuntut agar Indonesia menyetop pengeboran minyak di wilayah perairan Kepulauan Natuna.

Diketahui bahwa Diplomat China telah mengirimkan surat kepada Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, di mana mereka dengan jelas meminta agar Indonesia menghentikan pengeboran di rig lepas pantai.

China mengklaim bahwa lokasi tersebut merupakan bagian dari wilayahnya.

 

Sementara itu, Indonesia justru mengaku bahwa ujung selatan Laut China Selatan merupakan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) miliknya. Hal itu tertuang dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut.

Meski begitu, China tetap keberatan dengan perubahan nama ‘Laut Natuna Utara‘ yang dilakukan Indonesia sejak 2017 lalu. Mereka mengungkapkan, jalur tersebut masih berada dalam wilayah teritorialnya di Laut China Selatan, ditandai dengan sembilan garis putus-putus berbentuk U atau dash nine line.

Selain itu, China juga memprotes latihan militer Garuda Shield yang dilakukan pada Agustus 2021 lalu, yang melibatkan 4.500 tentara gabungan Amerika Serikat dan Indonesia.

Protes tersebut dilayangkan China melalui surat terpisah, meski latihan militer antara Amerika Serikat dan Indonesia telah dilakukan secara rutin sejak 12 tahun silam.

Menanggapi menegangnya hubungan antara China dan Indonesia, Pengamat politik Rocky Gerung mempertanyakan sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang hanya diam terkait ketegangan di Laut China Selatan.

Rocky Gerung menduga, Jokowi memang tidak peduli dengan persoalan tersebut atau memang kondisi itu harus disembunyikan mengingat lemahnya posisi Indonesia dalam aspek pertahanan dan keamanan negara.

“Sejak enam bulan lalu kita sudah bahas di sini, kenapa Presiden Jokowi tidak memberi sinyal apapun tentang pengetahuan dia tentang China Selatan. Kita menduga beliau mungkin nggak peduli atau beliau di-brief dengan cara yang keliru,” kata Rocky Gerung, dikutip SeputarTangsel.Com dari kanal YouTube Rocky Gerung Official pada Jumat, 3 Desember 2021.

“Atau memang keadaan kita itu harus kita sembunyikan karena kita memang fragile gitu, kita rapuh dalam soal pertahanan,” sambungnya.

Menurut Rocky, sikap negara yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping itu kini akhirnya tahu kondisi pertahanan Indonesia, sehingga mereka membaca bahwa Indonesia memang lemah.

Mantan Dosen Filsafat Universitas Indonesia itu mengatakan, meski Indonesia memiliki banyak alutsista, namun sayangnya tak mempunyai amunisi yang cukup.

“Kan China membaca bahwa Indonesia memang lemah. Cukup banyak pesawat, armada laut, tapi nggak ada amunisi. Jadi, intelijen China bekerja lebih cepat sebetulnya,” ujarnya.

“Mereka tahu bahwa Indonesia belum mendapat lampu hijau dari Amerika untuk beli senjata dan mereka sebetulnya masih menganggap bahwa layaklah senjata disuplai dari China, dan ketegangan antara China dan Amerika membuat Indonesia nggak tau mau ngapain,” lanjutnya.

Dia menuturkan, apa yang dilakukan China merupakan sinyal kuat bahwa negara tersebut ingin menguasai energi yang ada di wilayah Indonesia.

Salah seorang pendiri Setara Institute itu menegaskan, kelemahan di kabinet Jokowi merupakan kesempatan bagi China untuk meningkatkan ancaman.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Pikiran Rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

14 − 13 =