Kembali Bicara Soal Bank Syariah, Jusuf Hamka: Semuanya Demi Kebaikan

380

Jusuf Hamka melalui podcast Deddy Corbuzier, kembali memperbincangkan persoalannya dengan bank syariah. Melalui kanal Youtube populer milik Deddy Corbuzier itu, ia meluruskan kesimpangsiuran yang terjadi soal polemik dirinya dengan bank syariah.

Jusuf Hamka mengungkapkan jika dirinya tidak bermaksud untuk menjelekkan nama perbankan syariah dalam podcast berjudul ‘JUSUF HAMKA, OKAY SAYA SALAH! MINTA MAAF‼️ ISLAM ITU TABAYUN BUKAN BUZZER. Corbuzier Podcast’ yang ditayangkan perdana pada Sabtu 31 Juli 2021.

“Kita ini semuanya demi kebaikan, jadi tidak ada maksud bahwa saya mengatakan semua bank syariah. Bukan. Sistemnya bagus, tetapi jangan sampai kita dirusak oleh oknum-oknum ini,” terangnya, Sabtu 31 Juli 2021 kemarin.

Apalagi, menurut Jusuf Hamka, jika dirunut, ia termasuk orang yang ikut mendirikan bank syariah pertama di Indonesia.

Dijelaskan, saat itu bank syariah didirikan di Tanah Air agar umat Islam tidak melakukan riba dan mendapatkan bunga yang adil dan wajar.

 

Ia juga meminta maaf jika ada pernyataannya sebelumnya soal bank syariah yang dinilai tidak benar.

“Kalau ada yang tidak benar, saya memang orangnya ceplas-ceplos, oleh sebab itu saya mohon maaf ni, tapi tidak ada maksud (menjelekkan),” imbuh Jusuf Hamka.

Pengusaha jalan tol itu lalu membeberkan bagaimana hubungannya dengan bank syariah sudah berlangsung cukup lama. Bahkan, kata Jusuf, perusahannya adalah satu-satunya perusahaan yang pembiayaannya dibiayai bank syariah.

Ia mencontohkan proyek Tol Antasari-Depok dibangun dengan pembiayaan dari BRI Syariah, Tol Cisundawu dibiayai Bank Syariah Mandiri, dan Tol Pasir Koja juga dibiayai sejumlah sindikasi syariah.

“Jadi kita ingin berbagi dengan teman-teman syariah,” kata Jusuf Hamka.

Seperti diketahui, polemik Jusuf Hamka dengan bank syariah sebelumnya muncul setelah ia menceritakan masalah yang dihadapi perusahaannya dengan perbankan syariah. Kala itu, ia ingin mempercepat pelunasan pembayaran utang.

Pekan lalu, pada Sabtu 24 Juli 2021, ia menjelaskan perusahaannya di Bandung memiliki pinjaman sindikasi senilai Rp 800 miliar dengan bunga 11 persen per tahun. Lewat tayangan Podcast Deddy Corbuzier saat itu, ia menceritakan alasan perusahaannya hendak melunasi utang lebih cepat dari jadwal semula.

Salah satunya adalah pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB pada tahun lalu membuat pendapatan perusahaan menurun. Oleh karena itu, pihaknya bernegosiasi dengan bank untuk menurunkan bunga dari 11 persen menjadi delapan persen.

Akan tetapi, sebut Yusuf Hamka, pihak bank berkelit. Perusahaannya pun akhirnya memutuskan untuk melakukan pelunasan pinjaman tersebut. Pada 22 Maret 2021, pihaknya mengirimkan uang ke rekening pinjaman Rp 795 miliar untuk pelunasan.

Belakangan, bank tersebut hanya mengembalikan Rp 690 miliar. Sementara, sisa uang senilai Rp 105 miliar disebutkan dipakai untuk pembayaran bunga dan lain-lain. Merasa janggal dengan sikap bank tersebut, Jusuf Hamka selanjutnya melakukan somasi tiga kali dan akhirnya melapor ke polisi.

Ia mengaku khawatir hal tersebut bakal jadi preseden buruk bagi bank syariah ke depan.

“Saya khawatir bank bagi hasil sebetulnya bukan bagi hasil, tapi lebih lintah darat dari konvensional,” tegas Yusuf Hamka, seperti dilansir tempo.co, Minggu 1 Agustus 2021.

Polemik yang muncul ini kemudian membuat Otoritas Jasa Keuangan atau OJK segera memanggil Jusuf Hamka ihwal pernyataannya soal dugaan pemerasan yang dilakukan salah satu bank syariah swasta. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan pemanggilan itu untuk kepentingan klarifikasi.

“Untuk mengklarifikasi apakah benar pernyataannya seperti itu,” tutur Wimboh dalam keterangan yang disampaikan melalui Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo saat dihubungi wartawan pada Sabtu 24 Juli 2021.

Wimboh menyebut nasabah dapat menyampaikan laporannya ke OJK apabila merasa dizalimi pihak bank. Perkara itu dapat diselesaikan melalui mekanisme otoritas yang ada di lembaganya.

“Kami akan membantu mediasi. Nasabah (dapat) dengan menulis surat ke OJK atau (menghubungi) call center 157, atau kirim surat ke saya langsung juga bisa,” ujar Wimboh.

OJK, kata Wimboh, sangat terbuka dengan masalah-masalah yang dialami para nasabah bank, termasuk dalam kasus yang dihadapi Jusuf Hamka itu.

Sumber Berita / Artikel Asli : Terkini

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here