Kasus Viral di Luwu Timur Dituding Pesanan untuk Jatuhkan Institusi Kepolisian, Dengungan Buzzer?

373
Buzzer

Mencuatnya kasus kekerasan seksual tiga anak di Luwu Timur yang diduga dilakukan oleh ayah kandung mereka yang merupakan seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak lepas dari pro dan kontra.

Setelah kasus tersebut viral, Polri diminta mengambil alih dan membuka kembali kasus yang telah dihentikan penyidikannya oleh Polres Luwu Timur, Sulawesi Selatan, pada tahun 2019 lalu tersebut.

Meski pihak Polres Luwu Timur menegaskan bahwa penghentian kasus dilakukan karena tidak cukup bukti, tetapi berbagai pihak tetap menuntut keadilan ditegakkan untuk ketiga korban yang masih di bawah umur.

Seiring dengan semakin menggemanya seruan penuntasan kasus kekerasan seksual tersebut, sejumlah akun media sosial yang diduga buzzer terlihat melakukan aksi ‘tandingan’.

Beberapa akun Instagram ‘pembela Pemerintah’ menuding Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mendukung penuntasan kasus tersebut sebagai pihak ‘pesanan’.

Salah satu akun yang menyampaikan narasi pembelaan terhadap Polres Luwu Timur tersebut adalah akun Instagram @hello_mr123456.

Dalam unggahannya, akun tersebut menyebutkan bahwa berita tentang kasus pemerkosaan tiga anak di Luwu Timur merupakan pesanan pihak yang ingin menjatuhkan institusi kepolisian.

Berita yang soal 3 anak di Luwu Timur gue kasih tahu itu pesenan LSM yang mau menjatuhkan institusi kepolisian,” tutur akun @hello_mr123456, dikutip Pikiran-Rakyat.com Sabtu, 9 Oktober 2021.

Dia bahkan mempertanyakan kenapa pihak keluarga tidak berbicara tentang kasus ini ke publik dengan identitas asli.

Dan kenapa pihak keluarganya tidak ada yang speak up ke publik dengan identitas aslinya, kenapa harus pakai inisial,” ucap @hello_mr123456.

Dia juga menantang pihak Project Multatuli sebagai pihak yang pertama kali mempublikasikan permasalahan tersebut untuk memperlihatkan bukti rekam jejak medis korban.

Nah, gue mau tanya nehh @projectm_org punya bukti rekam jejak medis bahwa korban benar-benar alami kekerasan atau tidak, apa jangan-jangan mau nyari duit?,” ujar @hello_mr123456.

Tidak hanya akun tersebut, akun lain bernama @m3._.d0ct0rd00m bahkan memiliki hasil asesmen dan hasil visum ketiga korban yang merupakan ranah privasi.

Dia juga menantang ibu korban yang melaporkan kasus tersebut untuk merilis foto dan video bukti kekerasan seksual yang dialami ketiga anaknya.

Kemudahan akses mereka mendapatkan informasi dan sikap mereka terhadap korban tersebut pun dipertanyakan netizen.

Hasil visum yang harusnya ranah privasi, semudah itu diberikan akses ke buzzer. Bahkan pelapor (ibu korban) ditantang untuk sebar video/foto juga. ini anak-anak loh yang jadi korban. Ngeri banget data, privasi, harkat martabat kita sebagai manusia gak ada harganya di tangan aparat,” tutur pemilik akun @mollynya***.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Pikiran Rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here