Kalau Ini Habis Tandanya Kiamat

574
Sinar Matahari.

Sekitar lima miliar tahun dari sekarang Matahari akan kehabisan bahan bakar nuklir dan menghembuskan nafas terakhirnya saat mengembang menjadi raksasa merah.

Bintang yang mengembang akan menelan planet-planet terdalam di Tata Surya serta mengubah Bumi menjadi hangus tidak bersisa. Itulah tandanya kiamat dari sisi sains.

Tapi, jauh sebelum Matahari kehabisan energi, para ilmuwan khawatir Bumi akan kehabisan oksigen dan hampir tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegah skenario kiamat, seperti dikutip VIVA Tekno dari situs Express, Jumat, 8 Oktober 2021.

Menurut sebuah makalah yang diterbitkan dalam Jurnal Nature Geosciences awal tahun ini Matahari akan mempercepat laju, di mana oksigen pasti habis di Bumi. Oksigen akan habis dalam 1 miliar tahun ke depan sehingga tidak ada lagi yang bisa dilakukan manusia.

Para peneliti mencatat bahwa menipisnya oksigen di Bumi adalah konsekuensi yang tidak terhindarkan dari radiasi Matahari yang meningkat.

Bintang di jantung Tata Surya siap untuk tumbuh semakin terang seiring berjalannya waktu, serta mengirimkan lebih banyak cahaya dan radiasi ke Bumi.

Peningkatan radiasi akan meningkatkan pelapukan batuan silikat yang pada prosesnya akan menarik karbondioksida (CO2) dari atmosfer dan menjebaknya di dalam tanah.

CO2 yang dilepaskan oleh aktivitas manusia adalah penyebab utama pemanasan global, tapi dalam hal ini, CO2 yang terperangkap akan dikeluarkan dari siklus fotosintesis.

Oksigen menyumbang 21 persen dari lapisan atmosfer yang juga sebagai produk sampingan dari tanaman dan kehidupan laut yang mensintesis bersama CO2, air, dan sinar Matahari.

Dengan tidak cukupnya CO2 dalam sistem maka para ahli khawatir produksi oksigen akan turun. Para ilmuwan menyebutnya sebagai Great Deoxygenation. Satu-satunya bentuk kehidupan yang bertahan adalah mikroba dan anaerobik (bebas oksigen).

“Atmosfer saat Great Deoxygenation ditandai dengan peningkatan metana, tingkat CO2 yang rendah, dan tidak ada lapisan ozon. Sistem Bumi mungkin akan menjadi dunia bagi kehidupan anaerobik,” kata Ilmuwan Kazumi Ozaki dari Universitas Toho, Jepang.

Sumber Berita / Artikel Asli : VIVA

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

− 5 = 3