Jokowi Sebut Bencana Alam di Indonesia Tak Hanya Terus Meningkat Bahkan Melompat

436
Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan Indonesia kerap mengalami multi bencana dalam waktu bersamaan.

Di sisi lain, jumlah kejadian bencana geo-hidrometeorologi meningkat setiap tahun. Frekuensi dan intensitasnya juga terus meningkat, bahkan melompat.

Disebutkan, misalnya gempa bumi, pada kurun waktu tahun 2008 – 2016, rata-rata 5.000 – 6.000 kali dalam satu tahun. Pada tahun 2017 meningkat menjadi 7.169 kali dan pada tahun 2019 jumlahnya meningkat signifikan menjadi lebih dari 11.500 kali.

“Dengan tantangan yang semakin meningkat, maka kita harus meningkatkan ketangguhan kita dalam menghadapi bencana, menguatkan manajemen penanganan bencana, dan meningkatkan kemampuan untuk mengantisipasi dan memitigasi bencana untuk mengurangi risiko korban jiwa, kerusakan, dan kerugian harta benda,” pesan Jokowi dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Nasional (Rakorbangnas) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tahun 2021, di Istana Merdeka Jakarta, Kamis, 29 Juli 2021.

Jokowi juga meminta BMKG bukan hanya menyampaikan informasi cuaca, iklim, gempa, dan tsunami yang lebih cepat dan dengan jangkauan yang lebih luas pada masyarakat, tetapi bersinergi bersama BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) mengedukasi masyarakat bagaimana bersiap menghadapi bencana.

Masyarakat juga perlu diedukasi untuk mencari dan memanfaatkan informasi yang benar, yang disediakan oleh sumber-sumber resmi, sehingga tidak mudah terjebak pada kabar dan berita-berita bohong.

Kepala BMKGDwikorita Karnawati, menyampaikan laporan tentang kegiatan Rakorbangnas BMKG tahun 2021 yang mengusung tema info BMKG kawal Indonesia Tangguh, Indonesia tumbuh.

“Berdasarkan monitoring BMKG, fenomena cuaca iklim dan tektonik di Indonesia cenderung makin dinamis, tidak pasti dan ekstrem sehingga risiko kejadian multi bencana geo hidrometeorologi makin meningkat,” kata Dwikorita.

Dwikorita menjelaskan, Rakorbangnas ini diharapkan dapat mewujudkan sistem dengan pola dan sinergitas dari setiap lembaga pemerintahan, pihak swasta dan juga masyarakat.

Kemudian dalam mencegah kerusakan karena perubahan iklim yang makin dinamis dan ekstrem, BMKG akan melakukan upaya inovasi teknologi dengan meningkatkan SDM dan terus memonitor dengan lebih cepat dan akurat.

“Dalam mencegah terjadinya dan kerusakan akibat semakin kompleks, dinamis dan ekstremnya fenomena cuaca iklim dan tektonik di Indonesia BMKG bertekad terus fokus melakukan beberapa langkah adaptasi berupa upaya inovasi teknologi,” ujarnya.

Dwikorita menuturkan, BMKG terus berinovasi dengan melengkapi peralatan dan meningkatkan sistem informasi kepada warga.

“Adapun inovasi yang telah dan sedang kami lakukan antara lain, dengan adanya modernisasi teknologi sistem dan peralatan observasi dan processing data cuaca maritim, cuaca penerbangan, cuaca publik dan iklim yang terintegrasi dalam single platform,” kata Dwikorita.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Galamedia

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here