Jokowi Dulu Kritik SBY Beli Pesawat Kepresidenan, Kini Ganti Warna Habiskan Miliaran

602
SBY, Jokowi, Pesawat RI

Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diketahui membeli pesawat kepresidenan pada tahun 2014. Pesawat berjenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) tersebut dibeli dengan harga Rp840 miliar.

Pembelian pesawat kepresidenan tersebut sempat mendapat kritik dari Presiden Joko Widodo kala masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ia mengatakan bahwa anggaran yang dikeluarkan untuk pesawat seharusnya bisa digunakan untuk anggaran kebutuhan mendasar negara, seperti pendidikan dan kesehatan yang harus dipenuhi.

Namun, baru-baru ini Jokowi mengubah konsep warna pesawat kepresidenan menjadi merah dan putih yang sebelumnya berwarna biru muda. Pergantian warna itu menghabiskan dana miliaran rupiah. Tentu saja keputusan ini menuai kritik banyak pihak. Berikut ulasannya.

Biaya Cat Ulang Pesawat Capai Rp2 Miliar

Pengamat penerbangan Alvin Lie mengkritisi biaya cat ulang pesawat kepresidenan tersebut. Biaya cat ulang pesawat setara jenis B737-800 bekisar antara USD 100 ribu hingga USD 150 ribu. Nilai itu setara dengan Rp 1,4 miliar sampai dengan Rp2,1 miliar.

Alvin membeberkan bahwa biaya tersebut merujuk pada biaya pengecatan ulang pesawat B737-800 penerbangan sipil. Ia juga menjelaskan bahwa ada dua metoda pengecatan ulang, yang pertama dicat dengan warna dan pola baru, kemudian stripping yaitu cat lama dikupas total hingga ke kulit pesawat (bare metal) baru dicat ulang.

“Biaya cat ulang saya merujuk pada biaya yang umumnya berlaku untuk pengecatan ulang pesawat B737-800 penerbangan sipil,” kata Alvin kepada merdeka.com, Selasa (3/9).

Lebih lanjut Alvin juga menyayangkan pengecatan pesawat tersebut saat negara sedang menghadapi pandemi serta krisis ekonomi. Pemerintah kata dia seharusnya menunjukkan sense of crisis yang apabila bukan kebutuhan mendesak perlu ditangguhkan.

“Cat ulang & ubah warna pesawat bukan kebutuhan mendesak. Pesawat Kepresidenan usianya baru 7 tahun. Jarang dipakai. Perawatan bagus, penampilan juga masih layak. Tidak ada urgensi dicat ulang atau ubah warna,” ungkapnya.

PKB Minta Pemerintah Beli Beras Buat Rakyat Daripada Cat Ulang Pesawat

Tak sampai disitu, Politikus PKB Luqman Hakim juga mengkritik soal pergantian warna pesawat kepresidenan. Dia meminta agar Kemensetneg minta maaf terkait pengecatan pesawat presiden yang mengeluarkan biaya hingga Rp2 miliar. Karena menurutnya ini sangat tidak tepat dilakukan di tengah kesulitan rakyat akibat pandemi.

“Sebaiknya jajaran Kemensetneg minta maaf saja secara terbuka kepada masyarakat. Akui khilaf dan tidak punya sensitifitas terhadap penderitaan rakyat akibat pandemi covid-19,” kata Luqman kepada merdeka.com, Selasa (3/8).

Ia juga mengatakan alangkah lebih baik apabila uang sebesar Rp2 miliar itu dipakai untuk bantuan sosial kepada masyarakat.

“Harusnya anggaran pengecatan ulang pesawat kepresidenan kalau dibelikan beras dan dibagi ke masyarakat di tengah situasi sulit sekarang ini, tentu lebih bermanfaat,” ujar dia.

Demokrat Ikut Protes

Tak hanya PKB, Demokrat juga ikut memberikan protes terkait cat ulang pesawat kepala negara. Ketua Bappilu Partai Demokrat, Andi Arief menyayangkan bahwa perubahan pesawat dari biru ke merah, ada alasan filosofis warna biru dari pesawat kepresidenan sebelumnya yang dibeli pada era SBY.

“Sekarang pesawat kepresidenan berwarna merah. Entah maksudnya apa, bisa warna bendera bisa juga corona. Dulu biru,” ungkapnya dalam akun Twitternya dikutip merdeka.com, Selasa (3/8).

Ia bahkan juga menilai apabila pesawat dengan dominasi biru langit akan lebih baik. Sebab agar meningkatkan keamanan penerbangan sebagai warna kamuflasi ketika terbang.

“Desain dan warna karya seorang mayor desainer di TNI AU. Dominasi biru langit adalah upaya peningkatan keamanan penerbangan, sebagai warna kamuflase saat terbang,” ungkapnya.

Penjelasan Istana

Kepala Sekretariat Presiden (Kasetpres) Heru Budi Hartono menjelaskan bahwa anggaran untuk pengecatan pesawat dan bahan kurang lebih dianggarkan dari APBN sebesar Rp2 miliar. Ia juga menjelaskan, pengecatan itu sudah direncanakan sejak 2019 dalam rangka perayaan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2020.

“Kurang lebih segitu (Rp 2M) bahan cat dan pengecatan,” ungkapnya.

“Proses pengecatan sendiri merupakan pekerjaan satu paket dengan Heli Super Puma dan Pesawat RJ. Namun, pada tahun 2019 pesawat BBJ 2 belum memasuki jadwal perawatan rutin sehingga yg dilaksanakan pengecatan terlebih dahulu untuk Heli Super Puma dan pesawat RJ,” imbuhnya.

Heru juga menepis kabar bahwa pengecatan yang dilakukan adalah bentuk foya-foya keuangan negara di tengah pandemi. Sebab dia menjelaskan bahwa hal itu sudah terencana sejak 2019 lalu dan diharapkan memberikan kebanggan bagi bangsa dan negara.

“Perawatan rutin Pesawat BBJ 2 jatuh pada tahun 2021 merupakan perawatan Check C sesuai rekomendasi pabrik, maka tahun ini dilaksanakan perawatan sekaligus pengecatan yang bernuansa Merah Putih sebagaimana telah direncanakan sebelumnya. Waktunya pun lebih efisien, karena dilakukan bersamaan dengan proses perawatan,” kata dia.

Sumber Berita / Artikel Asli : Merdeka

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here