Jenderal Intel Kopassus: Kalau Diboikot Amerika, Kita Bisa Mampus!

355
Armada tempur Amerika Serikat (AS) di Laut China Selatan

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Letjen TNI (Purn.) Sutiyoso, angkat bicara soal Latihan Bersama (Latma) Garuda Shield 2021 yang melibatkan ribuan pasukan TNI Angkatan Darat dan Angkatan Darat Amerika Serikat (United States Army).

Pernyataan Sutiyoso tak lepas dari isu Laut China Selatan (LCS). Seperti yang diketahui, dalam setahun terakhir Laut China Selatan menjadi wilayah yang diklaim oleh Republik Rakyat China (RRC).

Klaim China atas wilayah perairan seluas 3,5 juta kilometer persegi, mendapat reaksi keras dari negara adikuasa, Amerika Serikat (AS).

Di sisi lain, Latma Garuda Shield ke-15 yang digelar oleh TNI Angkatan Darat dan Angkatan Darat AS (US Army) kali ini, justru menjadi yang terbesar sepanjang sejarah. Total ada 5.428 personel TNI Angkatan darat dan US Army, yang terlibat dalam latihan besar-besaran di tiga tempat berbeda.

VIVA Militer: Prajurit TNI Angkatan Darat dalam Latma Garuda Shield 2021
Photo :

  • Facebook/Lanosineos78

VIVA Militer: Prajurit TNI Angkatan Darat dalam Latma Garuda Shield 2021

VIVA Militer melaporkan dalam berita sebelumnya, Sutiyoso mengedepankan sistem politik bebas aktif Indonesia. Dalam hal ini, Indonesia memiliki kebebasan untuk menyikapi permasalahan internasional.

Mantan Wakil Komandan Komando Pasukan Khusus (Wadanjen Kopassus) itu meyakini bahwa saat ini, anggapan AS terhadap Indonesia yang lebih dekat dengan China sudah berkurang. Sutiyoso juga memberikan fakta bahwa militer Indonesia cukup tergantung dengan AS.

Oleh sebab itu, Sutiyoso merasa jika Indonesia perlu meningkatkan hubungan baik dengan Indonesia. Sementara di sisi lain, China juga tidak akan bisa menekan Indonesia dengan kekuatannya.

Enggak enak juga kalau kita dimusuhi Amerika, kita rugi luar biasa. Perlengkapan militer kita dari Amerika semua. Kalau kita diboikot spare part sudah mampus saja kita. Kesan itu mungkin sudah bisa kita eliminir, China juga tidak terlalu bisa menekan kita, karena kita punya teman namanya Amerika,” ucap Sutiyoso.

VIVA Militer: Rudal balistik Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA)
Photo :

  • The Hindu

VIVA Militer: Rudal balistik Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA)

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Letjen TNI (Purn.) Sutiyoso, angkat bicara soal Latihan Bersama (Latma) Garuda Shield 2021 yang melibatkan ribuan pasukan TNI Angkatan Darat dan Angkatan Darat Amerika Serikat (United States Army).

Pernyataan Sutiyoso tak lepas dari isu Laut China Selatan (LCS). Seperti yang diketahui, dalam setahun terakhir Laut China Selatan menjadi wilayah yang diklaim oleh Republik Rakyat China (RRC).

Klaim China atas wilayah perairan seluas 3,5 juta kilometer persegi, mendapat reaksi keras dari negara adikuasa, Amerika Serikat (AS).

Di sisi lain, Latma Garuda Shield ke-15 yang digelar oleh TNI Angkatan Darat dan Angkatan Darat AS (US Army) kali ini, justru menjadi yang terbesar sepanjang sejarah. Total ada 5.428 personel TNI Angkatan darat dan US Army, yang terlibat dalam latihan besar-besaran di tiga tempat berbeda.

VIVA Militer melaporkan dalam berita sebelumnya, Sutiyoso mengedepankan sistem politik bebas aktif Indonesia. Dalam hal ini, Indonesia memiliki kebebasan untuk menyikapi permasalahan internasional.

Mantan Wakil Komandan Komando Pasukan Khusus (Wadanjen Kopassus) itu meyakini bahwa saat ini, anggapan AS terhadap Indonesia yang lebih dekat dengan China sudah berkurang. Sutiyoso juga memberikan fakta bahwa militer Indonesia cukup tergantung dengan AS.

Oleh sebab itu, Sutiyoso merasa jika Indonesia perlu meningkatkan hubungan baik dengan Indonesia. Sementara di sisi lain, China juga tidak akan bisa menekan Indonesia dengan kekuatannya.

“Enggak enak juga kalau kita dimusuhi Amerika, kita rugi luar biasa. Perlengkapan militer kita dari Amerika semua. Kalau kita diboikot spare part sudah mampus saja kita. Kesan itu mungkin sudah bisa kita eliminir, China juga tidak terlalu bisa menekan kita, karena kita punya teman namanya Amerika,” ucap Sutiyoso.

Perlu diketahui, saat ini China berada di posisi ketiga sebagai negara yang memiliki kekuatan militer ketiga terbesar di dunia. Dikutip VIVA Militer dari Global Firepower, saat ini Tentara Rakyat China (PLA) memiliki total 3,4 juta personel aktif.

Jumlah tersebut jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah personel aktif Angkatan Bersenjata AS (US Armed Forces), yang berjumlah 2,25 juta personel aktif.

Sumber Berita / Artikel Asli : VIVA

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here