Isu Panas Jenderal Merah, Listrik Padam, Papua dan UAS

811

JAKARTA – Perebutan kursi menteri di internal partai koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf sempat memanas sebelum insiden kerusuhan Papua.

Kabarnya, jenderal merah akan disingkirkan di kabinet Jokowi-Ma’ruf karena terlalu mendominasi pada periode pertama Jokowi.

Sejumlah elite partai pendukung Jokowi merasa tidak nyaman dan ingin mendepak jenderal merah keluar dari lingkaran Istana.

Perebutan kursi kabinet yang memanas itu dikaitkan dengan beberapa peristiwa besar di tanah air, seperti mati listrik massal, kerusuhan Papua, dan pelaporan Ustaz Abdul Somad (UAS) ke polisi.

“Mereka menguasai instalasi politik strategis yang “bermata” dua. Satu sisi untuk memperkuat posisi tawar, pada sisi lain untuk menekan termasuk menghabisi lawan politik. Selama Pilpres kemarin koalisi pendukung Jokowi satu perahu. Kabarnya kini, mereka pecah kongsi,” katanya.

Menurutnya, jenderal merah yang pada periode pertama Jokowi sangat mengendalikan pemerintahan akan disingkirkan.

Namun para jenderal merah tidak akan tinggal diam. Mereka akan menyiapkan amunisi untuk mengunci langkah lawan. Saling sandera dan perang opini terbuka terjadi sampai pertengahan Oktober nanti.

Benarkah kerusuhan Papua dan pelaporan UAS ke polisi ada kaitannya dengan operasi senyap jenderal merah?

Klarifikasi UAS

UAS bersama Gubsu Edy Rahmayadi dan Ijeck di Medan, Selasa (20/8/2019). Foto : istimewa

UAS bersama Gubsu Edy Rahmayadi dan Ijeck di Medan, Selasa (20/8/2019).

Pelaporan UAS ke polisi bermula saat video ceramahnya di masjid viral di media sosial.

Dalam video itu, UAS menjawab pertanyaan dari salah satu jamaah terkait salib.

Video itu diambil saat UAS ceramah di masjid An-Nur Pekanbaru, 3 tahun lalu.

“Pertama itu saya menjawab pertanyaan bukan saya membuat buat untuk merusak hubungan. Ini perlu dipahami dengan baik,” ujar UAS dalam klarifikasinya yang diunggah dalam channel FSRMM TV.

“Yang kedua itu pengajian di dalam masjid tertutup, bukan di stadion, bukan di lapangan sepak bola, bukan di TV, tapi untuk intern umat Islam menjelas pertanyaan tentang patung dan tentang kedudukan nabi Isya AS. Utuk orang Islam dalam Quran dan sunah nabi SAW,” jelas UAS.

“Yang ketiga pengajian itu lebih tiga tahun lalu. Sudah lama di kajian subuh Sabtu di masjid An-nur Pekanbaru, karena saya rutin pengajian di sana satu jam pengajian diteruskan dengan tanya jawab tanya jawab,” tandasnya.

UAS adalah ulama kondang yang memiliki jutaan jamaah di seluruh Indonesia. Mengganggu UAS akan menimbulkan kemarahan besar di kalangan umat Islam, khususnya para pengikutnya.

Buntutnya, isu SARA pun bakal semakin meraja lela. Ulama yang ceramah di masjid akan diperkarakan, begitupun dengan para pendeta yang menyinggung agama lain saat pidato di gereja.

Beruntung, tidak semua umat Kristiani terpancing dengan ucapan UAS yang diviralkan oknum tertentu di media sosial.

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyesalkan ceramah UAS yang dianggap menyinggung umat Kristiani. Namun dia tidak setuju UAS dilaporkan ke polisi.

Sekretaris Umum PGI, Pendeta Gomar Gultom menegaskan iman umat Kristen tidak akan terganggu dengan isi khotbah UAS.

Dia menilai kebenaran kristus dan makna salib tidak berkurang dengan isi ceramah UAS.

“Saya tidak sependapat dengan diajukannya delik pidana penodaan agama kepada UAS,” ujarnya, seperti dilansir Tempo.

Soal Kerusuhan Papua

Tiang bendera merah putih di depan asrama Papua di Surabaya patah

Tiang bendera merah putih di depan asrama Papua di Surabaya patah

Kerusuhan Papua bermula dari teriakan rasis oknum aparat kepada mahasiswa Papua di Jawa Timur. Hal itu membuat masyarakat Papua marah hingga mereka turun ke jalan dan merusak fasilitas umum.

Ada dua isu yang dimainkan untuk menyulut kemarahan massal terkait Papua.

Pertama, isu mahasiswa Papua dituduh merusak bendera merah putih saat perayaan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2019.

Isu itu dipastikan akan membuat masyarakat Indonesia marah. Mereka menuding mahasiswa Papua sebagai pemberontak. Padahal, bisa jadi perusakan tiang bendera di depan asrama Papua di Jalan Kalasan, Surabaya, Jawa Timur adalah ulah oknum tertentu yang ingin memancing di air keruh.

Kedua, isu rasis. Melontarkan ucapan rasis, seperti monyet kepada warga Papua akan menimbulkan kemarahan besar. Terlebih, sebagian kelompok di Papua sudah lama ingin merdeka.

Isu rasis itu dimanfaatkan untuk kembali menggaungkan kembali Papua merdeka. Mereka turun ke jalan dan mengibarkan bendera bintang kejora.

Tiga isu di atas, yakni mati listrik massal, Paua dan UAS sama-sama menimbulkan keresahan dan konflik di masyarakat.

(one/pojoksatu)

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here