Ini Fakta Taliban, Tembak Malala Yousafzai hingga Hancurkan Patung Buddha Bersejarah

358

Ini fakta Taliban, tembak Malala Yousafzai hingga hancurkan patung Buddha bersejarah. Sejak digulingkan pasukan Barat yang dipimpin Amerika Serikat (AS) pada 2001 silam, Taliban yang terdepak dari kekuasannya di Afghanistan, saat ini kembali mengukuhkan jati dirinya sebagai kelompok garis keras yang tak mudah goyah.

Hanya dalam beberapa bulan, Taliban sudah dapat menguasai Ibu Kota Kabul sebagai pusat pemerintahan Afghanistan di bawah pimpinan Presiden Ashraf Ghani. Taliban, pada Minggu 15 Agustus 2021, bahkan telah menduduki Istana Kepresidenan yang ditinggal kabur Ghani ke Tajikistan.

Melemahnya militer Afghanisten sangat terasa saat Amerika Serikat menarik seluruh kekuatannya di Afghanistan, paling lambat pada 11 September 2021, setelah berperang selama 20 tahun dengan kelompok militan Taliban.

 

Sejatinya, Taliban melakukan pembicaraan langsung dengan AS di 2018, dan pada Februari 2020, keduanya menandatangani kesepakatan damai di Doha yang berisi komitmen AS untuk menarik pasukan jika Taliban tidak melakukan serangan pada pasukan AS.

Janji-janji lain termasuk tidak mengizinkan Al-Qaeda atau militan lain untuk beroperasi di area yang dikuasainya, dan melanjutkan perjanjian perdamaian nasional.

 

Kendati demikian, setahun setelah perjanjian itu diteken, Taliban terus menargetkan serangan ke pasukan keamanan Afghanistan, dan dengan cepat menyerang berbagai wilayah di seluruh negeri.

Taliban atau secara harfiah berarti ‘murid’ dalam bahasa Pashto, pertama kali muncul pada awal 1990-an di utara Pakistan setelah pasukan Uni Soviet (kini Rusia) mundur dari Afghanistan.

Gerakan ini mulanya didominasi orang-orang Pashtun, dan pertama kali muncul di pesantren-pesantren yang kebanyakan dibiayai Arab Saudi yang biasanya menganut aliran Sunni garis keras.

 

Janji Taliban di wilayah-wilayah Pashtun, yang tersebar di Pakistan dan Afghanistan adalah untuk mengembalikan perdamaian dan keamanan berdasarkan Syariah Islam jika mereka berkuasa.

Dari Afghanistan barat daya, Taliban dengan cepat menyebarkan pengaruhnya. Pada September 1995, mereka merebut provinsi Herat di perbatasan Iran, dan tepat setahun kemudian mereka merebut ibu kota Afghanistan, Kabul.

Mereka menggulingkan kekuasaan rezim Presiden Burhanuddin Rabbani, salah satu pendiri mujahidin Afghanistan yang menentang pendudukan Uni Soviet. Pada 1998, Taliban menguasai hampir 90 persen wilayah Afghanistan.

Masyarakat Afghanistan, yang sudah lelah dengan eksis mujahidin dan pertikaian setelah Uni Soviet terusir, secara umum menyambut kemunculan Taliban saat mereka pertama kali muncul.

Popularitas ini sebagian besar lantaran keberhasilan mereka memberantas korupsi, membatasi pelanggaran hukum, dan membuat jalan-jalan dan area-area di bawah kekuasaan mereka aman untuk perdagangan.

Di sisi lain, Taliban juga memperkenalkan atau mendukung hukuman yang sejalan dengan penafsiran mereka akan hukum Syariah, seperti eksekusi di depan umum terdakwa pembunuhan dan pezinah, serta hukuman amputasi bagi mereka yang diputuskan bersalah lantaran pencurian.

Para pria diharuskan menumbuhkan jenggot, sementara para wanita diwajibkan mengenakan burka yang menutup seluruh tubuh.

Taliban juga melarang televisi, musik, dan bioskop, juga tidak memperbolehkan anak perempuan di atas 10 untuk sekolah. Mereka dituduh melakukan berbagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan budaya.

 

Salah satu yang paling terkenal adalah pada 2001, ketika Taliban melanjutkan penghancuran patung Buddha Bamiyan yang terkenal di Afghanistan tengah, kendati sebelumnya telah diprotes publik dunia yang juga memicu kemarahan internasional.

Pakistan telah berulang kali membantah sebagai arsitek berdirinya gerakan Taliban. Namun, tidak diragukan banyak warga Afghanistan yang bergabung dengan gerakan ini adalah lulusan madrasah-madrasah di Pakistan.

Pakistan juga merupakan satu dari tiga negara, bersama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) yang mengakui Taliban saat mereka berkuasa di Afghanistan. Pakistan juga negara terakhir yang memutuskan hubungan diplomatik dengan kelompok tersebut.

Di satu titik, Taliban mengancam akan merusak stabilisasi Pakistan dari area-area yang mereka kuasai di wilayah barat laut.

Salah satu serangan Taliban di Pakistan yang paling terkenal dan dikecam dunia internasional terjadi di Oktober 2012, ketika Malala Yousafzai ditembak dalam perjalanan sepulang sekolah di Kota Mingora.

Serangan militer besar-besaran dua tahun kemudian, menyusul pembantaian di sekolah Peshawar, mengurangi pengaruh kelompok ini di Pakistan.

Setidaknya tiga tokoh kunci Taliban di Pakistan tewas lantaran serangan udara AS pada 2013, termasuk pemimpin kelompok itu, Hakimullah Mehsud.

Taliban sebagai Tempat Perlindungan Al-Qaeda

Perhatian terhadap penguasa Taliban di Afghanistan makin besar pasca serangan di World Trade Centre, New York, September 2001.

Mereka dituduh memberi perlindungan kepada Osama Bin Laden dan gerakan Al-Qaeda, yang dianggap bertanggung jawab atas serangan itu.

Pada 7 Oktober 2001, koalisi yang dipimpin Amerika Serikat melancarkan serangan di Afghanistan, dan pada pekan pertama Desember tahun yang sama, Taliban runtuh.

Pemimpin kelompok itu, Mullah Mohammad Omar dan sejumlah tokoh senior lainnya, termasuk Osama Bin Laden, lolos dari salah satu perburuan yang diklaim terbesar di dunia itu.

Banyak pemimpin senior Taliban dilaporkan berlindung di Kota Quetta di Pakistan, tempat para petinggi mereka memimpin Taliban. Namun, keberadaan tempat yang dijuluki ‘Quetta Shura’ disangkal Islamabad.

 

Kendati dengan banyaknya pasukan asing, Taliban perlahan-lahan mengumpulkan kekuatan dan melebarkan pengaruh di Afghanistan, membuat banyak wilayah di negara itu tidak stabil. Alhasil, kekerasan juga meningkat ke level yang sebelumnya tidak pernah terlihat lagi sejak 2001.

Banyak serangan Taliban terjadi di Kabul, dan pada September 2012 kelompok tersebut melakukan serangan besar-besaran di pangkalan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Kamp Bastion.

Harapan untuk negosiasi perdamaian pertama kali diangkat pada 2013, saat Taliban mengumumkan akan membuka kantor di Qatar. Akan tetapi, ketidakpercayaan antarpihak masih tinggi dan kekerasan terus berlanjut.

Pada Agustus 2015, Taliban mengakui mereka menutup-nutupi kematian Mullah Omar yang sebelumnya diberitakan akibat masalah kesehatan di sebuah rumah sakit di Pakistan selama lebih dari dua tahun.

Di bulan berikutnya, kelompok itu menyatakan telah mengesampingkan pertikaian selama beberapa minggu untuk memilih pemimpin mereka yang baru, Mullah Mansour yang sebelumnya menjabat sebagai wakil Mullah Omar.

Pada waktu nyaris bersamaan, Taliban merebut kekuasan ibu kota provinsi untuk pertama kalinya sejak kekalahan mereka pada 2001. Mereka menguasai Kunduz, kota yang penting dan strategis.

Mullah Mansour tewas dalam serangan udara AS pada Mei 2016, lalu digantikan wakilnya Mawlawi Hibatullah Akhundzada yang hingga kini masih memimpin kelompok tersebut.

Detik-detik Hitung Mundur Penarikan Pasukan AS dan NATO

Pada tahun setelah kesepakatan damai AS dan Taliban pada Februari 2020, yang merupakan puncak dari pembicaraan yang panjang, Taliban tampaknya mengubah taktik dari serangan kompleks di kota-kota besar dan pos-pos militer ke gelombang pembunuhan yang menargetkan masyarakat sipil Afghanistan.

Namun dari targetnya, seperti jurnalis, hakim, aktivis perdamaian, dan wanita dengan posisi strategis baik karier maupun profesionalisme dalam bidang pekerjaan, Taliban tetap berprinsip tidak akan mengubah ideologi ekstremisnya.

Kenati  pemerintah Afghanistan telah menyatakan kekhawatirannya, Presidan AS Joe Bidan mengumumkan pada April 2021, semua pasukan Amerika Serikat akan meninggalkan negara tersebut pada 11 September 2021. Tepat, dua dekade atau 20 tahun setelah jatuhnya World Trade Center.

Seperti dikutip dari BBC, Senin 16 Agustus 2021, saat ini Taliban diperkirakan memiliki lebih banyak personel milisi ketimbang ketika mereka digulingkan pada 2001. Menurut NATO, diperkirakan mereka memiliki sekitar 85 ribu pejuang militan yang berani mati.

Serangan dan keberhasilan mereka merebut wilayah jauh lebih cepat dari perkiraan banyak orang. Komandan misi pimpinan AS di Afghanistan, Jenderal Austin Miller memperingatkan pada Juni 2021, negara itu kemungkinan menuju perang saudara yang destruktif.

Dalam banyak kasus, Taliban mampu mengambil alih kota-kota besar tanpa perlawanan dari pemerintah dengan asumsi menyerah guna menghindari pertumpahan darah dan jatuhnya korban sipil.

Sebuah penilaian intelijen AS pada bulan yang sama, menyimpulkan pemerintah Afghanistan bisa kolaps dalam waktu enam bulan setelah pasukan Barat angkat kaki dari negara tersebut.

Sumber Berita / Artikel Asli : Terkini

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here