IDI: 300 Dokter dan Nakes Terpapar Covid-19 Meski Telah Divaksin, 20 Dokter di Antaranya Meninggal Dunia

578

Kasus Covid-19 di Indonesia tengah meningkat bahkan menjadi sorotan internasional.

Tidak hanya warga, banyaknya dokter yang tumbang akibat Covid-19 juga turut menjadi perbincangan.

Bahkan disebut, dokter itu meninggal meski telah menerima vaksin Covid-19.

Dokter-dokter tersebut juga diketahui meninggal setelah menggunakan vaksin Covid-19 buatan Sinovac.

 

Apa yang terjadi sebenarnya dengan fenomena kematian para dokter tersebut?

Dikutip Pikiran-Rakyat.com dari New York Times, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menjelaskan bahwa hingga Jumat, 25 Juni 2021 menyatakan setidaknya 20 dokter yang telah meninggal di tanah air sejak pandemi dimulai meski sudab divaksinasi lengkap dengan Sinovac Biotech, vaksin buatan China

Selain itu, IDI juga mulai menyorot kematian lainnya dari 31 dokter yang meninggal setelah jalani vaksinasi selama lima bulan terakhir.

Hal ini diperkuat oleh temuan dari IDI dari hasil penelusuran mereka di Jawa Tengah.

Pada Juni 2021, 300 dokter dan petugas kesehatan Covid-19 di Jawa Tengah tertular Covid-19.

Sebagian besar dari mereka mengalami Covid-19 tanpa gejala. Puluhan dirawat di rumah sakit karena demam tinggi hingga penurunan tingkat saturasi oksigen.

Mereka semua juga tercatat sudah menjalani proses vaksinasi Covid-19 dengan menggunakan vaksin Sinovac.

Mulai Diragukan Efektivitasnya 

Lonjakan kematian ini membuat banyak pihak mulai meragukan keampuhan dari vaksin Covid-19 buatan Sinovac.

Singapura adalah salah satu negara yang secara terang-terangan menjelaskan keraguan mereka.

Mereka berhenti menggunakan vaksin Covid-19 buatan Sinovac dan hanya menggunakan produksi dari Pfizer, BioNTech, dan Moderna.

Ada penyebabnya kenapa keraguan dari vaksin Covid-19 ini mulai muncul ke permukaan.

Kenneth Mak, seorang direktur layanan medis Singapura menjelaskan bahwa ia menerima banyak laporan orang yang sudah menjalani vaksinasi dengan vaksin Sinovac banyak yang tertular oleh Covid-19.

“Itu memberi kesan bahwa kemanjuran vaksin yang berbeda akan sangat bervariasi,” kata Kenneth Mak menjelaskan.

Bulan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan rekomendasi sementara untuk penggunaan vaksin Sinovac-CoronaVac untuk inokulasi terhadap penyakit virus corona (Covid-19).

Uji coba fase 3 Sinovac-CoronaVac di seluruh dunia telah melaporkan efektivitas vaksin antara 50 dan 84 persen.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Pikiran Rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here