Hidup Kaum Baha’i, Gus Dur dan Pengakuan Negara

489
Agama Baha'i

Agama Baha’i hidup di Nusantara sebelum nama Indonesia Indonesia dirumuskan sebagai sebuah negara, tepatnya sejak 1878. Tujuh puluh enam tahun setelah Indonesia merdeka, Baha’i masih hidup tanpa pengakuan dari negara.

Sejarah keberadaan Baha’i di bumi Nusantara itu diungkap salah satunya oleh Kustini Kosasih, Peneliti Ahli Utama Kementerian Agama yang terlibat penelitian Baha’i, ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com.

“Agama Baha’i dibawa ke Indonesia oleh dua orang pedagang bernama Jamal Effendi dan Mustafa Rumi. Keduanya mengadakan perjalanan keliling ke India, Burma (Myanmar), Singapura, dan kemudian ke Indonesia,” kata Kustini kepada CNNIndonesia.com, Rabu (28/7).

Baha’i datang dari Persia ke Indonesia lewat dua pedagang bernama Jamal Effendi dan Mustafa Rumi. Usai berdagang di Batavia, kedua orang itu berkeliling Nusantara untuk menyebarkan ajaran agama.

Waktu demi waktu berlalu, pengikut Baha’i kian bertambah. Namun, mereka mengalami guncangan hebat beberapa tahun pascakemerdekaan. Presiden Sukarno menetapkan Baha’i sebagai satu dari tujuh organisasi terlarang.

 

Keputusan Presiden Nomor 264 Tahun 1962 memaksa umat Baha’i Indonesia hidup dalam diskriminasi selama kurang lebih 40 tahun. Pada 2000, pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mencabut keputusan tersebut.

Baha’i bukan lagi organisasi atau komunitas terlarang. Akan tetapi, diskriminasi masih melekat dalam kehidupan sehari-hari orang Baha’i.

“Kalau ada kata-kata berbau pelarangan, orang berpikir negatif tanpa melihat cerita di balik pelarangan,” kata Rina Chua Leena, Anggota Kantor Hubungan Masyarakat dan Pemerintahan Majelis Rohani Nasional Baha’i Indonesia kepada CNNIndonesia.com, Senin (2/8).

Rina bercerita ada warga Baha’i di Jawa Tengah yang kesulitan mencari pemakaman. Keluarga belum mendapat izin dari pengurus tempat pemakaman umum (TPU) setempat saat hendak mengebumikan jenazah.

Rina menyampaikan tidak semua TPU langsung menerima orang Baha’i. Padahal, ajaran agama Baha’i menyebut jenazah harus dikubur maksimal 1 hari setelah meninggal dunia.

“Akhirnya terjadi kebingungan, ini mau dimakamkan di TPU Islam atau TPU Kristen. Akhirnya setelah musyawarah, orang Baha’i juga daripada jadi bingung dan bermasalah akhirnya dimakamkan di tanah keluarga,” ujarnya.

 

Rina berkata saat ini umat Baha’i mempersiapkan lokasi pemakaman sejak jauh hari. Mereka belajar dari pengalaman sulitnya mendapatkan makam yang menerima jenazah orang Baha’i.

Cerita lainnya datang dari institusi pendidikan. Anak-anak Baha’i sering mengalami kendala menuntut ilmu karena agama yang dianut. Beberapa sekolah tak menerima anak Baha’i.

Rina menyampaikan biasanya orang Baha’i harus kerja ekstra mencari sekolah yang mau menerima anak mereka. Beberapa sekolah bersedia menerima, tapi tak bisa menyediakan pendidikan agama Baha’i.

Menurutnya, orang Baha’i terpaksa harus merelakan anak-anaknya mengikuti pelajaran agama lain di sekolah. Rina menyampaikan hal itu dilakukan agar para anak Baha’i bisa menimba ilmu.

“Kami orang Baha’i juga memperbolehkan anak-anak Baha’i mengikuti salah satu pelajaran di sekolah untuk formalitas menerima nilai,” tutur Rina.

Ia mengatakan tak ada preferensi khusus saat anak-anak Baha’i mempelajari agama lain di sekolah. Orang tua dibebaskan memilih pelajaran agama apapun untuk anak-anaknya.

Sumber Berita / Artikel Asli : CNN Indonesia

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here