Henrykus Sihaloho: Pak Jokowi, Mengapa Beli Vaksin Lebih Mahal?

398

Berita mengenai Carina Citra Dewi Joe dan Indra Rudiansyah, dua peneliti asal Indonesia yang ikut dalam pengembangan vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca semestinya difollow up pemerintah Indonesia dengan aksi nyata.

Carina dan Indra adalah peneliti dari Jenner Institute di University of Oxford, Inggris, yang ikut membantu Profesor Sarah Gilbert mengembangkan vaksin Covid-19.

Dosen Universitas Katolik Santo Thomas di Medan, Henrykus Sihaloho, menyarankan Presiden Joko Widodo untuk segera bertindak demi mendapatkan vaksin itu dalam jumlah yang cukup.

Selain karena ada keterlibatan WNI, vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca juga kerap disebutkan memiliki efikasi yang lebih tinggi dari vaksin Sinovac buatan China yang banyak digunakan di tanah air.

“Mengapa kita membeli vaksin yang jauh lebih mahal tetapi memiliki efikasi yang rendah?” tanya Henrykus dalam perbincangan dengan redaksi Minggu pagi (1/8).

Dia mengatakan, ini saat yang tepat bagi pemerintah Indonesia untuk menyediakan vaksin dengan kualitas tinggi kepada warga negara.

Henrykus memuji keterlibatan kedua Carina dan Indra dalam pembuatan vaksin AstraZeneca. Terlebih Carina yang juga memegang paten vaksin Covid-19 AstraZeneca di bidang manufacturing scale up atau produksi dalam skala besar.

Henrykus menyarankan Presiden Jokowi memerintahkan Dutabesar RI untuk Inggris, Desra Percaya, untuk segera mengeksekusi hal ini.

“Ini bentuk kepercayaan dan cinta kita kepada karya anak bangsa,” kata Henrykus lagi.

Adapun Dubes Desra Percaya sudah sejak awal mengambil inisiatif untuk merangkul Carina dan Indra.

Dia menyempatkan diri berbicara dengan keduanya, dan menayangkan langsung pembicaraan itu di akun Instagram miliknya, dalam program Ngosyek atau Ngobrol Asyeek.

Keduanya membicarakan pengalaman mereka sampai akhirnya ikut terlibat dalam pengembangan vaksin Covid-19 di AstraZeneca.

Dalam kesempatan itu, Carina menceritakan, proses pembuatan vaksin Covid-19 bisa lebih cepat, sekitar 1,5 tahun, karena prosesnya dilakukan secara paralel.

“Sebelumnya step by step, rencanakan dulu baru apply funding, 2-3 tahun kemudian baru dapat, barulah clinical trial. Kalau (pandemi) ini emergency,” kata Carina.

Sumber Berita / Artikel Asli : rmol

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here