Hendak Disuap Mayor Bebaskan TKA China, Ruslan Buton: Saya Bukan Pengkhianat Bangsa

455
Ruslan Buton

Eks Kapten TNI, Ruslan Buton menceritakan pengalamannya saat menangkap lima tenaga kerja asing (TKA) asal China. Kala itu, ia masih bertugas menjadi anggota TNI aktif yanh menjaga pos Pulau Tali Abo.

Pengalamannya saat menangkap TKA China tersebut diketahui saat sosok Ruslan Buton tampil di kanal YouTube Refly Harun, seperti dilihat pada Senin 6 September 2021.

Ruslan menceritakan, ketika itu dirinya sedang bertugad menjaga pos. Ia pun melihat banyak TKA China masuk ke perkampungan warga.

Melihat hal itu, Ruslan lantas bertanya pada kepala desa setempat soal aktivitas mereka. Ada 5 orang TKA China yang dicegat Ruslan, namun herannya mereka hanya mengeluarkan bahasa isyarat. Diajak berbicara bahasa Inggris saja juga tak bisa.

“Saya tanya, kalian dari mana? Tak menjawab hanya pakai isyarat juga. Saya minta tunjukkan paspor dan visa, tak ada. Saya heran kalau mereka tenaga ahli, enggak mungkin mereka enggak bisa bahasa Inggris, bahasa pasar minimal mereka bisa, ini enggak bisa,” ujar Ruslan Buton.

 

Lantaran hal itu, ia pun meyakini bahwa kelima TKA China itu merupakan buruh pekerja kasar.

“Saya yakin mereka pekerja kasar,” kata Ruslan Buton.

Curiga dengan gerak gerik mereka, Ruslan kemudian mengamankan kelima TKA China tersebut.

Tak berselang lama kemudian, ada tim dari lokasi pekerja yang mendatanginya. Di antaranya seorang perwira TNI berpangkat mayor dan seorang Polisi berpangkat AKBP bersama personelnya.

Ketika itu, Ruslan Buton mengaku sudah siap menghadapi mereka, lantaran sudah berkomunikasi lebih dulu dengan pihak imigrasi terkait identitas kelima orang yang ditangkapnya.

“Saya juga enggak bodoh, setelah saya tangkap saya tanya (telepon) ke imirasi Ternate, kata mereka enggak ada datanya, Berarti kan itu ilegal. Saya jadi punya kekuatan hukum untuk menghadapi mereka,” tuturnya.

Ruslan kemudian mengaku dibujuk oleh Mayor TNI beserta personel aparat tersebut untuk membebaskan kelima TKA China itu.

Ia pun bersikeras tak mau membebaskan warga asing tersebut apabila tak bisa menunjukkan identitas imigrasinya beserta paspor dan visa.

“Syaratnya cuma satu, tunjukkan identitas keimigrasiannya, paspor, visa, baru saya lepas,” ungkapnya.

Pada malam harinya, si Mayor TNI itu kembali menemui Ruslan Buton di pos penjagaan. Ruslan lantas dirayu dan hendak disuap dengan sejumlah uang untuk membebaskan TKA China tersebut.

“Dia panggil saya ke pojokan. Intinya mereka minta lepaskan mereka, ‘kayak enggak kenal aja’. Tentunya ada embel-embel uang satu plastik dikeluarkan,” bebernya.

Ditawari segopok uang tersebut, Ruslan menegaskan bahwa ia tak mau menerima duit itu lantaran dirinya bukan pengkhianat bangsa.

“Bang mohon maaf (ke mayor), saya butuh uang iya, tapi saya enggak terima karena ini menyangkut negara. Saya enggak mau jadi pengkhianat bangsa. Abang mau jualan atau cari makan di sana oke, dan kalau abang kasih uang tapi tak ada kaitannya dengan mereka saya terima. Tapi kalau karena mereka enggak mau,” tegasnya.

Keesokan harinya, si Mayor TNI itu kembali lagi menemui Ruslan Buton namun dengan membawa data-data imigrasi kelima TKA China tersebut.

Mantan prajurit TNI yang pernah membunuh preman ini menduga, si Mayor TNI sudah berkomunikasi sebelumnya dengan pihak imigrasi.

Hal itu, kata Ruslan Buton, lantaran pihak imigrasi mendadak menghubunginya dan menyebut bahwa dokumen kelima TKA China itu ada dan dalam masa perpanjangan.

“Mau bagaimana lagi, saya enggak punya kekuatan hukum. Padahal mereka tunjukkan fotokopi dokumen mereka cuma kunjungan wisata kok bisa kerja. Akhirnya saya lepas. Itu waktu heboh sepekan sebelum saya hilangkan nyawa preman,” ujarnya.

Sumber Berita / Artikel Asli : Terkini

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here