Ferdinand Hutahaean, Pengkritik Anies Baswedan yang Mengaku Mualaf

422
Foto Kolase Ferdinand Hutahaean dan Anies Baswedan

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menetapkan pegiat media sosial Ferdinand Hutahaean sebagai tersangka ujaran kebencian bernuansa SARA.

Ferdinand dikenal sebagai salah satu sosok yang beberapa kali mengkritik Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Pada 23 Februari tahun lalu misalnya, Ferdinand menyindir pernyataan Anies yang menyatakan banjir di Jakarta surut atas seizin Allah SWT.

Menurut Ferdinand, pernyataan ANies menunjukkan bahwa ia menyerah dan tidak bisa melakukan tindakan nyata mengurangi banjir Jakarta.

“Bagi pemikiran saya, jika Gubernur sudah ke luar pernyataan atas izin Allah untuk sesuatu yang butuh tindakan, sama saja artinya pernyataan itu menunjukkan yang bersangkutan menyerah dan tak mampu lagi melakukan apa-apa kecuali berpasrah pada Allah,” kata Ferdinand dalam keterangan tertulis kepada CNNIndonesia.com, Selasa 23 februari tahun lalu.

Kritik lain Ferdinand layangkan terkait program pelebaran trotoar di kawasan Cikini. Menurutnya, program tidak membuat persoalan kemacetan terurai.

Sebab, menurut Ferdinand pelebaran trotoar justru membuat badan jalan menjadi lebih sempit. Ia bahkan menyebut program itu sebagai bentuk perampasan badan jalan.

Kritik ini Ferdinand layangkan melalui akun twitternya, @FerdinandHutahean2.

“Jakarta itu jalanannya macet, ruas jalan tak lagi ideal dengan jumlah kendaraan. Tapi kok bisa Pemda DKI merampas badan jalan untuk memperlebar trotoar hingga 3 meter lebih. Cikini yang selama ini padat, makin padat. Trotoar itu cukup 1,5 meter untuk pejalan kaki. @DKIJakarta,” tulis Ferdinand pada Jumat 19 Juli 2019.

Ferdinand lahir di Sumatera Utara pada 18 September 1977. Ferdinand sempat menganut agama Kristen Protestan.

Belakangan, ia mengaku sudah menjadi mualaf sejak 2017. Meski demikian, Ferdinand mengaku enggan mengumumkan status keagamaannya kepada publik.

Adik kandung Gus Dur, Lily Chodijah Wahid membenarkan bahwa Ferdinand telah menjadi mualaf pada 2017. Ia menjadi saksi pembacaan syahadat Ferdinand di hadapan mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ali Yafie.

Iya betul, saya menyaksikan [bersyahadat],” kata Lily kepada CNNIndonesia.com, Jumat (6/1).

Karier Politik: Dukung Jokowi, Lalu Bela Prabowo

Selain menjadi orang yang kerap mengomentari isu yang menjadi sorotan publik, Ferdinand juga pernah aktif di dunia politik.

Pada 2014 lalu misalnya, Ferdinand menjadi salah satu pendukung militan pasangan Capres-Cawapres, Presiden Joko Widodo dan Ma’ruf Amin.

Ferdinand juga pernah menduduki jabatan yang cukup mentereng di Partai Demokrat pada kurun 2015. Saat itu, ia menjabat sebagai Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat.

Namun, pada 2020 Ferdinand menyatakan keluar dari partai berlambang Mercy itu. Ia juga sempat berbeda pandang dengan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang mengkritik Undang-Undang Cipta Kerja.

Belakangan, saat Partai Demokrat dilanda perang saudara, Ferdinand menyatakan bahwa Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Moeldoko tidak mungkin mengkudeta AHY.

Ferdinand juga pernah menjadi Juru Bicara Direktorat Hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada 2019 lalu.

Setelah keluar dari Demokrat, Ferdinand belum bergabung dengan partai manapun hingga saat ini.

Sebelumnya, Ferdinand telah meminta maaf kepada umat Islam dan mengaku khilaf akibat cuitannya yang kontroversial.

Cuitan dimaksud ialah saat dirinya menulis “Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa, maha segalanya, Dialah pembelaku selalu dan Allahku tak perlu dibela”. Namun, cuitan itu kini telah dihapus di sosial media Twitternya

Ferdinand mengklaim cuitan itu ia tulis dari pergumulan pribadinya yang tengah menderita penyakit menahun. Penyakit itu, kata dia, sangat mempengaruhi kesadarannya.

“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada saudara-saudara saya muslim apabila tersinggung ataupun tersakiti dengan tulisan saya di Twitter, sekali lagi saya mohon maaf karena kekhilafan saya, mungkin karena pemahaman agama Islam saya yang baru seumur jagung,” kata Ferdinand dalam keterangan resminya, Jumat (7/1).

Unggahan itu diketahui berbuntut proses penegakan hukum di Bareskrim. Dalam waktu cepat, polisi meningkatkan status penanganan perkara menjadi penyidikan.

Ferdinand kemudian dipolisikan pada Rabu (5/1). Bareskrim langsung memeriksa serangkaian saksi hingga akhirnya dua hari kemudian kasus menjadi penyidikan.

Sumber Berita / Artikel Asli :CNN Indonesia

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here