Ernest Prakasa Soroti Keputusan Jokowi Tetapkan Harga Tes PCR Rp 450-550 Ribu: Kenapa Baru Sekarang?

196
Sutradara sekaligus komika Ernest Prakasa. /Instagram.com/@ernestprakasa/

Komika sekaligus sutradara, Ernest Prakasa turut menanggapi perihal pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dalam pernyataanya, Presiden Jokowi meminta agar harga maksimal tes PCR untuk mendeteksi Covid-19 adalah sebesar Rp 550 ribu dan hasilnya dapat diketahui maksimal 1×24 jam.

“Saya sudah berbicara dengan menteri kesehatan mengenai hal ini, saya minta agar biaya tes PCR ini berada di kisaran antara Rp 450.000 sampai Rp 550.000,” kata Jokowi dilansir Galamedia dari saluran YouTube Sekretariat Presiden.

“Selain itu saya minta juga agar tes PCR bisa diketahui hasilnya dalam waktu maksimal 1×24 jam, kita butuh kecepatan,” sambungnya.

Jokowi pun berharap, dengan rentang harga tersebut maka tes Covid-19 akan semakin banyak.

“Salah satu cara untuk memperbanyak testing adalah dengan menurunkan harga tes PCR,” kata Jokowi.

Komika Ernest Prakasa turut menyoroti keputusan Presiden Jokowi.

Melalui akun Instagram pribadinya @ernestprakasa, ia mengaku senang saat mendengar kabar tersebut.

Tapi di sisi lain dirinya merasa dongkol, karena keputusan tersebut diambil setelah banyak rakyat yang protes bahwa harga tes PCR mahal.

Mulanya, Ernest menceritakan salah satu cerita cintanya yang mirip dengan apa yang dia rasakan saat mendengar keputusan Jokowi tersebut.

“Gue mau cerita nih, dahulu kala waktu gue masih sangat-sangat muda, gue pernah punya pacar, tentunya bukan istri gue sekarang,” kata Ernest dikutip Galamedia dari akun Instagram @ernestprakasa pada Selasa, 17 Agustus 2021.

“Kita pacaran lumayan lama, berbulan-bulan gitu. Terus ada satu hal dari sifatnya dia yang gak gue suka. Gue suka komplain kalau hal itu bikin gue gak bahagia,” sambungnya.

Karena saking kesalnya dengan sifat buruk sang pacar, Ernest pun sampai di satu titik di mana dirinya memutuskan untuk mengakhiri hubungannya.

“Ketika gue bilang kayak gitu (kita putus), dia minta kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, dan gue berikan kesempatan itu,” tuturnya.

Setelah tak jadi putus, Ernest pun memberikan kesempatan pada pacarnya untuk bisa berubah menjadi lebih baik.

“Ternyata dia bisa berubah, dia bisa memperbaiki keburukan yang membuat gue resah itu. Ternyata bisa gitu,” ujar Ernest.

Meski sang pacar sudah berubah menjadi lebih baik, Ernest mengaku tak merasa senang, karena hal itu terjadi setelah ada ancaman putus.

“Tapi dengan dia berubah, gue gak serta merta menjadi senang, ada perasaan di dalam diri gue, berarti kemarin-kemarin bisa ya,” ungkapnya.

“Gue harus menderita berbulan-bulan, sampai di titik gue bilang udahan ah, baru dia mau berubah dan ternyata bisa berubah,” sambungnya.

“Kenapa gak dari dulu aja gitu kan? Jadi yang ada bukannya senang, ada sih senangnya tapi ada dongkolnya gitu,” ujar Ernest.

Ernest lantas menyamakan analogi tersebut dengan pernytaan Jokowi yang memutuskan mematok harga tes PCR.

“Nah, kenapa gue ceritakan ini? Karena ini adalah perasaan yang persis sama gue rasakan,” ucapnya.

“Saat gue membaca berita Presiden dan DPR memperjuangkan tes PCR harus bisa lebih murah, harus di bawah Rp500.000, maksimal Rp500.000, dan harus satu hari selesai,” kata Ernest.

Ia pun mempertanyakan jika nanti tes PCR ternyata bisa lebih murah seperti arahan Jokowi, kenapa baru dilakukan sekarang setelah mendapat ‘ancaman’.

“Kalau sampai tes PCR bisa murah dan cepat setelah diancam, di satu sisi gue senang, di sisi lain berarti selama ini bisa dong,” ucapnya.

“Kenapa gak dilakukan? Kenapa baru sekarang? Kenapa diancam dulu baru dilakukan? Berarti selama ini bisa dong? Hah,” pungkas dia.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Galamedia

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here