Emosional saat Pengamanan Aksi di Asrama Papua, Danramil Dinonaktifkan

421

Komando Daerah Militer V/Brawijaya menonaktifkan Komandan Rayon Militer 0831/02 Tambaksari, Mayor Infanteri NH Irianto, dari jabatannya terkait pengamanan saat demonstrasi massa terjadi di Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Penonaktifan untuk memudahkan penyelidikan.

“Untuk kejadian yang di asrama Kalasan (Asrama Mahasiswa Papua), pertama, kita sudah lakukan penyelidikan terkait keberadaan anggota yang saat itu berada di lokasi kejadian,” kata Kepala Penerangan Kodam V/Brawijaya Letnan Kolonel Arm Imam Hariyadi, ditemui di Markas Kodam V/Brawijaya di Surabaya, Jawa Timur, pada Senin, 26 Agustus 2019.

Selain beberapa saksi, penyelidikan dilakukan dengan menganalisis video yang beredar. “Berdasarkan video itu, ada satu anggota yang sangat reaktif, kemudian juga ada Komandan Ramil yang saat itu berada di tempat, kemudian ada beberapa saksi yang kita ambil juga. Jadi, ada dua terduga dan tiga orang saksi,” ujar Imam.

Hasilnya, menurutnya, tim penyelidik menyimpulkan ada dugaan kesalahan prosedur saat pengamanan dilakukan oleh anggota TNI di lokasi. Di antaranya sikap emosional dan reaksi berlebihan anggota di lokasi. “Resume tersebut sudah diserahkan kepada penyidik untuk ditindaklanjuti.”

Untuk kepentingan penyidikan, Kodam kemudian menskors atau menonaktifkan Danramil Tambaksari. “Terkait dengan penonaktifan dari jabatan sementara untuk kepentingan penyidikan. Jadi, Pak Danramil dinonaktifkan, sekarang yang aktif Wadanramil,” ujar Imam.

Dia mengatakan, sikap emosional dan reaktif anggota saat pengamanan demonstrasi di Jalan Kalasan merugikan institusi TNI. Menurutnya, itu tidak sesuai prosedur yang ditentukan. Kodam sudah mengumpulkan para komandan satuan bagaiman semestinya berkomunikasi sosial ke depannya.

Insiden gesekan massa di Asrama Mahasiswa Papua Jalan Kalasan Surabaya pada Jumat-Sabtu, 16-17 Agustus 2019, diduga jadi pemicu kerusuhan besar di Papua dan Papua Barat pada Senin-Rabu, 19-21 Agustus 2019. Diduga ada lontaran bernada rasial pada saat gesekan massa di Jalan Kalasan. viva

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...