Emir Moeis jabat komisaris berlabel koruptor, KPK langsung minta setoran

559
Emir Moeis

Nama Emir Moeis yang baru saja ditunjuk menjabat sebagai Komisaris di PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), sedang jadi sorotan. Atas jabatan tersebut, KPK langsung beraksi menembak mantan koruptor tersebut yang menjadi pucuk pimpinan perusahaan pelat merah.

Aksi KPK sendiri langsung ditujukan kepada Emir Moeis dengan meminta agar Emir menyerahkan laporan harta kekayaannya kepada KPK. Permintaan tersebut diungkapkan langsung Pelaksana Tugas (Plt) Jurubicara Bidang Pencegahan KPK, Ipi Maryati menanggapi belum adanya laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) milik Emir yang terbaru.

“Benar. Berdasarkan data pada aplikasi eLHKPN tercatat laporan kekayaan yang disampaikan kepada kami terakhir adalah pada 26 Januari 2010 dalam kapasitas sebagai Anggota DPR RI periode 2009-2014,” ujar Ipi kepada wartawan, Jumat (6/8).

KPK minta setoran ke Emir Moeis

Dengan pengangkatan Emir Moeis sebagai komisaris di PT Pupuk Iskandar Muda, Ipi meminta setoran laporan harta kekayaannya kepada KPK. Hal tersebut bukan bersifat himbauan, karena Emir sendiri berdasarkan catatan KPK belum pernah melakukan pelaporan hartanya selama 11 tahun.

Ditegaskan Ipi, jika Emir terakhir kali melaporkan kekayaannya pada 2010 lalu dan hingga saat ini belum lagi memberikan laporannya sebagai pejabat negara.

Emir sendiri pernah terjerat kasus korupsi dan berurusan dengan KPK. Di mana, pada 20 Juli 2012 lalu, Emir ditetapkan sebagai tersangka karena menerima hadiah atau janji sebesar 357 ribu dolar AS dari Konsorsium Alstom Power Incorporated (Marubeni Corp., Alstom Power Inc, dan Alstom Power ESI) demikian dilansir Kantor Berita Politik Rmol Jumat 6 Agustus 2021.

PLT jubir KPK
Plt Jurubicara Bidang Pencegahan KPK, Ipi Maryati/Net

Penerimaan hadiah atau janji tersebut terjadi saat Emir menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI tahun 2000-2003.

Perjalanan kasusnya, akhirnya Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan Emir bersalah dan divonis pidana penjara selama tiga tahun dan denda Rp 150 juta subsider tiga bulan kurungan. Vonis itu dijatuhkan pada 14 April 2014.

Putusan itu pun lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut 4,5 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider lima bulan kurungan.

Emir Moeis
Emir Moeis foto: Antara

Dalam putusan itu, Majelis Hakim menilai bahwa Emir terbukti menerima uang dari Konsorsium Alstom Power Inc. (Marubeni Corp., Alstom Power Inc, dan Alstom Power ESI) melalui Pirooz Muhammad Sarafi selaku Presiden Pacific Resources Inc.

Penerimaan uang tersebut terjadi dengan cara membuat perjanjian kerjasama batubara antara Muhammad Sarafi dengan PT Artha Nusantara Utama (ANU) yang dimiliki oleh anak Emir.

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here